
Pelatihan PFA sebagai Bentuk Kepedulian Banten terhadap Wilayah Sumatera
Pada akhir tahun 2025, BPBD Provinsi Banten bekerja sama dengan Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten mengadakan pelatihan Psychological First Aid (PFA). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya respon kemanusiaan untuk membantu penyintas bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Pelatihan berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 29 hingga 30 Desember 2025, di M-Kostel Sindang Sari. Acara dihadiri oleh Kepala BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, serta dibuka langsung oleh Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten, KH. E. Soleh Rosyad. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga dalam memberikan bantuan yang cepat dan tepat bagi korban bencana.
Pelatihan diisi oleh sejumlah narasumber yang kompeten, seperti sekretaris BPBD, dekan FKIK UNTIRTA, ketua ICMI Banten, dekan FKIP UNTIRTA, IDI Banten, serta para psikolog yang berpengalaman. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan keterampilan dasar pendampingan psikologis awal kepada relawan, pesantren, mahasiswa, dan masyarakat, terutama bagi anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan.
Sinergi dalam Respon Kemanusiaan
Setelah pelatihan, dilanjutkan dengan rapat koordinasi pada tanggal 31 Desember 2025 antara BPBD dan FSPP Provinsi Banten. FSPP yang menaungi lebih dari empat ribu pondok pesantren memiliki peran strategis sebagai basis relawan kemanusiaan berbasis komunitas. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga menjadi tempat yang mampu bergerak cepat dalam situasi darurat.
Melalui pelatihan PFA, pengasuh, ustadz, santri, dan relawan pesantren dipersiapkan untuk hadir secara empatik, menenangkan, dan menguatkan penyintas bencana di fase awal pascabencana. Hal ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa para penyintas mendapatkan dukungan psikologis yang diperlukan.
Kolaborasi dengan LAZ HARFA Banten
Sinergi ini juga melibatkan LAZ HARFA Banten sebagai mitra strategis dalam penguatan sumber daya, logistik, dan jejaring aksi kemanusiaan. Kerja sama lintas lembaga ini menegaskan bahwa respon bencana tidak hanya tentang bantuan fisik, tetapi juga pemulihan psikososial sebagai fondasi kebangkitan martabat kemanusiaan para penyintas.
Seluruh rangkaian kegiatan dirajut dalam satu gerakan bersama bertajuk “AYO CEPAT TOLONG (ACT) Warga Banten untuk Sumatera”. Gerakan ini dipimpin oleh Kang Ais Komarudin, yang menegaskan bahwa inisiatif ini menjadi wujud solidaritas kemanusiaan masyarakat Banten untuk saudara-saudara di Sumatera.
Semangat Gotong Royong dan Kepedulian Lintas Wilayah
Ais menekankan bahwa gerakan ini didasari semangat gotong royong, kepedulian lintas wilayah, serta komitmen untuk hadir cepat, tepat, dan bermartabat dalam setiap aksi kemanusiaan. Melalui ACT, masyarakat Banten menunjukkan bahwa mereka siap memberikan dukungan penuh kepada wilayah lain yang sedang menghadapi bencana.
Kolaborasi antara BPBD, FSPP, LAZ HARFA Banten, dan komunitas lainnya menjadi contoh nyata bahwa tanggap darurat tidak hanya tentang bantuan material, tetapi juga tentang kepedulian, empati, dan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan sosial.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar