Garuda Indonesia Bantah Kru Patah Tulang Akibat Turbulensi, Sebut Hanya Luka Ringan

Penjelasan Garuda Indonesia Terkait Kecelakaan Turbulensi

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memberikan penjelasan resmi terkait kejadian turbulensi yang terjadi pada pesawat dengan nomor penerbangan GA 712, rute Jakarta–Sydney. Maskapai menegaskan bahwa tidak ada awak kabin yang mengalami patah tulang, sebagaimana informasi yang beredar di media sosial.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah salah satu penumpang, Fajar Radhitya Kusuma (46), membagikan pengalamannya melalui akun Threads pribadi @fahargpjkt pada Kamis (25/12/2025). Dalam unggahannya, Fajar menyebutkan bahwa dua awak kabin terluka atau patah tulang akibat guncangan pesawat 30 menit sebelum mendarat di Bandara International Sydney (Kingsford Smith), Australia.

Pengalaman Penumpang Saat Turbulensi

Fajar mengungkapkan bahwa saat turbulensi terjadi, pesawat mengalami guncangan cukup parah. Ia menyebutkan bahwa pesawat tiba-tiba "drop" dan membuat banyak penumpang berteriak. Setelah itu, beberapa turbulensi kecil terjadi, disertai permintaan maaf dari pilot.

Setelah pesawat mendarat, proses deplane berlangsung lebih lama dari biasanya. Fajar mengatakan penumpang harus menunggu sekitar 30 hingga 45 menit karena adanya proses evakuasi awak kabin yang terluka. Beberapa penumpang merasa keberatan karena harus menunggu di dalam kabin, terlebih setelah pendingin udara pesawat dimatikan.

Selain kru pesawat, Fajar juga menyebutkan bahwa ada satu penumpang yang mengalami cedera di bagian pundak atau bahu. Ia mengetahui hal tersebut setelah keluar dari pesawat dan melihat tim darurat yang siap memberikan kursi roda untuk penumpang yang terluka.

Penjelasan Garuda Indonesia

Menanggapi informasi tersebut, Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny H. Kairupan, meluruskan kabar mengenai kondisi awak kabin yang disebut mengalami patah tulang akibat turbulensi.

"Perlu kiranya kami luruskan bahwa tidak terdapat awak kabin yang mengalami patah tulang," ujar Glenny saat dikonfirmasi. Ia memastikan bahwa kedua awak kabin yang terdampak guncangan hanya mengalami luka ringan. Setelah pesawat mendarat, keduanya segera mendapatkan penanganan medis di salah satu rumah sakit di Sydney, Australia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, satu awak kabin sudah diizinkan untuk pulang. Sementara satu kru lainnya masih harus menjalani pemantauan lanjutan oleh tim medis setempat.

Komitmen Keselamatan Penerbangan

Terkait insiden ini, Glenny memastikan bahwa pilot telah menjalankan seluruh prosedur keselamatan sesuai dengan standar operasional penerbangan yang berlaku. Hal inilah yang memungkinkan pesawat tetap mendarat dengan aman meski menghadapi cuaca buruk dan turbulensi.

"Pesawat dapat mendarat di Bandara Sydney dengan aman dan sesuai regulasi safety yang berlaku, dan seluruh penumpang meninggalkan pesawat secara normal," tegas Glenny. Proses pendaratan hingga selamat ini juga sempat dipuji oleh Fajar.

"Terima kasih kepada Garuda Indonesia dan seluruh kru atas pendaratan yang aman," tulis Fajar.

Sebagai langkah tindak lanjut insiden ini, Garuda Indonesia kini berkoordinasi dengan otoritas penerbangan terkait untuk mendapatkan rekomendasi yang diperlukan. Maskapai juga menyediakan helpdesk khusus bagi penumpang yang ingin memberikan masukan atau laporan lebih lanjut mengenai kejadian tersebut.

Langkah ini dilakukan perusahaan sebagai bentuk komitmen dalam menjaga aspek keamanan dan keselamatan penerbangan bagi seluruh penumpang dan awak pesawat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan