
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
nurulamin.pro, BANDUNG - DI balik dinding putih dan lengkungan klasiknya, Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) yang berada di Jalan Naripan No 7, Kota Bandung menjadi salah satu tempat barometer kesenian di Kota Bandung.
Gedung peninggalan masa Hindia Belanda ini nyaris kehilangan napasnya pada Oktober 2024, ketika sebagian atap bangunan ambruk dimakan usia. Peristiwa itu menjadi alarm keras akan rapuhnya warisan budaya yang selama ini berdiri dalam diam.
Beruntung, perhatian serius datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemugaran Gedung YPK pun dilakukan secara menyeluruh dengan anggaran Rp 3,9 miliar.
Pemugaran dipilih sebagai jalan terbaik untuk menyelamatkan gedung yang telah menjadi saksi perjalanan kebudayaan Kota Bandung selama hampir satu abad.
Diketahui, Gedung YPK pertama kali berdiri pada 1930.
Seorang pengusaha asal Belanda mendirikan bangunan kesenian ini di kawasan Jalan Naripan, tak jauh dari Braga.
Menariknya, gedung ini sejak awal diperuntukkan sebagai tempat hiburan dan pertunjukan seni bagi masyarakat pribumi.
Sang pendiri, yang juga dikenal sebagai pemilik Gedung Merdeka, memiliki kecintaan mendalam terhadap kesenian tradisional Indonesia.
Demi kecintaan itu, ia merelakan lahannya dibangun sebuah gedung khusus kesenian sebuah langkah yang terbilang langka pada masa kolonial.
Kini, bangunan tersebut telah resmi selesai dari renovasi.
Tampil sebagai bangunan berarsitektur kolonial yang bersih, dan sarat nuansa sejarah.
Dari sisi luar, bangunan ini didominasi warna putih dengan atap genteng merah khas bangunan era Hindia Belanda.
Di bagian fasad depan, terdapat serambi menjorok dengan pilar-pilar kokoh serta pintu dan jendela besar berdaun ganda, memberi kesan formal sekaligus terbuka.
Tulisan “Gedung Pusat Kebudayaan” terpampang jelas di bagian depan.
Bendera Merah Putih yang berkibar di tengah atap memperkuat identitas nasional bangunan ini.
Memasuki bagian dalam, pengunjung disambut lorong luas dengan lengkungan-lengkungan tinggi (archway) yang rapi dan berulang.
Dinding berwarna putih polos berpadu dengan lantai ubin abu-abu kecokelatan.
Bentuk lengkung pada lorong memberi kesan monumental namun tetap sederhana, sekaligus memperlihatkan karakter arsitektur klasik yang terawat.
Di ruang utama, gedung ini memiliki aula atau ruangan besar dengan langit-langit tinggi dan pencahayaan alami yang melimpah dari jendela-jendela tinggi di sekeliling ruangan.
Selain itu, ruang dalamnya terasa lapang.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Iendra Sofyan, gedung-gedung heritage kian menguatkan posisi Jawa Barat sebagai salah satu tujuan wisata unggulan di Indonesia.
Dia menuturkan, selain keindahan alam dan ragam budaya, bangunan bersejarah kini menjadi magnet tersendiri yang menarik minat wisatawan, baik untuk rekreasi, kegiatan budaya, hingga perjalanan bisnis.
Iendra menuturkan, wisatawan cenderung datang ke daerah yang bersih, ramah, dan memiliki banyak atraksi.
“Wisatawan akan datang ke tempat yang pertama bersih, kedua ramah, dan ketiga banyak pertunjukan atau event. Inilah yang menjadi daya tarik Jawa Barat, selain wisata alam dan buatan, termasuk gedung-gedung heritage dan budaya,” jelasnya, Sabtu (3/1/2026).
Pengembangan gedung heritage juga menjadi bagian dari upaya memajukan kebudayaan di Jawa Barat.
Iendra menjelaskan, kemajuan kebudayaan dibuktikan melalui objek-objek pemajuan kebudayaan, salah satunya berupa bangunan bersejarah.
“Pak Gubernur memulai dari bangunan-bangunan milik provinsi. Ke depan, ini diharapkan bisa ditindaklanjuti oleh kabupaten dan kota, agar unsur budaya juga hadir dalam pembangunan bangunan-bangunan baru,” katanya.
Ia berharap, penguatan identitas budaya melalui arsitektur dan gedung heritage dapat menjadi ciri khas Jawa Barat, sekaligus memperkuat daya tarik wisata berbasis sejarah dan budaya.
Dia menyebutkan pergerakan wisatawan sepanjang 2025 menunjukkan tren yang sangat positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Januari hingga Oktober 2025, Jawa Barat mencatatkan pergerakan masyarakat tertinggi dibandingkan provinsi lain.
“Alhamdulillah, pergerakan masyarakat yang datang ke Jawa Barat, baik untuk rekreasi, bisnis, dan kegiatan lainnya, menjadi yang paling tinggi. Bahkan jika dibandingkan lima tahun ke belakang, tahun ini merupakan yang tertinggi sejak pandemi Covid-19,” kata Iendra.
Ia optimistis, tren tersebut terus meningkat hingga akhir tahun, terutama pada momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
“Kenaikan ini insyaallah akan melebihi target kami. Target awal sekitar 7 juta pergerakan wisatawan, dan sekarang sudah melampaui angka tersebut,” ujarnya.
Menurut Iendra, meningkatnya pergerakan wisatawan berdampak langsung pada perekonomian Jawa Barat.
Sektor perdagangan, pajak daerah, hingga pelaku UMKM turut merasakan efek positif secara simultan.
“Dampaknya jelas terasa. UMKM bergerak, perdagangan meningkat, dan tentu berpengaruh pada ekonomi Jawa Barat secara keseluruhan,” ucapnya.
Ia menambahkan, pertumbuhan sektor pariwisata ini turut ditopang oleh pembenahan infrastruktur yang terus dilakukan pemerintah, mulai dari jalan, transportasi berbasis rel, hingga konektivitas udara.
Menurutnya, meski tidak selalu berskala besar, infrastruktur tersebut menjadi penopang utama pergerakan wisatawan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar