Gelombang Tinggi 3 Meter, Nelayan Jateng Terpaksa Pinjam Bank

Gelombang Tinggi 3 Meter, Nelayan Jateng Terpaksa Pinjam Bank

Nelayan Jawa Tengah Terpaksa Berhenti Melaut Akibat Gelombang Tinggi

Nelayan di wilayah Jawa Tengah kini menghadapi tantangan berat akibat gelombang laut yang tinggi. Dalam sepekan terakhir, para nelayan memilih untuk tidak melaut karena kondisi cuaca yang tidak menentu. Gelombang laut mencapai ketinggian antara satu meter hingga tiga meter, sehingga membuat mereka kesulitan untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan.

Akibatnya, banyak nelayan kehilangan penghasilan dan harus berutang kepada bank titil atau rentenir. Hal ini menjadi beban berat bagi masyarakat pesisir yang bergantung pada hasil laut sebagai sumber penghidupan.

Kondisi di Desa Bedono, Kabupaten Demak

Di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, nelayan seperti Saiful Rozi mengatakan bahwa banyak dari mereka mulai mengambil utang untuk bertahan hidup. "Para nelayan di desa kami sudah mulai utang ke bank titil, nilai utang hanya Rp1 juta sampai Rp2 juta demi bisa menyambung hidup karena tak bisa melaut," ujarnya.

Saiful menjelaskan bahwa kondisi gelombang yang tinggi telah berlangsung sejak awal Desember 2025, namun semakin parah dalam sepekan terakhir. Ia mengatakan bahwa nelayan di daerahnya lebih memilih untuk memperbaiki jaring atau perahu daripada melaut karena khawatir tergulung ombak.

Jumlah nelayan di desanya mencapai 103 orang dengan rincian 80 nelayan menggunakan perahu kecil satu mesin kapasitas 5 PK, 18 perahu kapasitas 40 PK, dan lima perahu kapasitas 16 PK. Saiful sendiri memilih untuk tidak melaut karena perahunya hanya memiliki kapasitas 5 PK.

Pengaruh pada Nelayan di Kota Semarang

Kondisi serupa juga dialami oleh nelayan di Kota Semarang. Mereka mengandalkan simpanan untuk bertahan hidup, namun bagi yang tidak memiliki simpanan, mereka terpaksa berutang. Nelayan Mangunharjo, Tugu, Kota Semarang, Wawan mengatakan bahwa situasi ini terjadi karena cuaca buruk yang berlangsung selama sepekan.

"Kami memilih untuk tidak melaut karena risiko terlalu besar. Kondisi ini disebut musim baratan, di mana angin kencang dan gelombang tinggi sering terjadi," ujarnya. Ia mengatakan bahwa kondisi cuaca buruk dirasakan sejak pertengahan Desember, tetapi semakin parah pada Januari.

Kondisi di Roban Timur, Kabupaten Batang

Di Roban Timur, Subah, Kabupaten Batang, sebanyak kurang lebih 170 nelayan di desa tersebut hampir 90 persen memilih libur melaut. Salah satu nelayan, Haryono, mengatakan bahwa beberapa nelayan nekat berangkat pagi hari, tetapi akhirnya pulang karena tiba-tiba datang angin kencang dan gelombang tinggi.

Haryono menjelaskan bahwa kondisi ini sangat membebani para nelayan. "Tidak ada penghasilan, mereka sudah utang ke bank titil untuk makan dan jajan anak," ujarnya.

Prediksi Cuaca dari BMKG

Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Sediyanto, mengatakan bahwa pesisir Pantura mulai dari Pekalongan, Kendal, Pati, dan Rembang akan mengalami gelombang tinggi sekitar 1 meter dalam dua hari ke depan. Namun, ketinggian gelombang ini sangat fluktuatif dalam hitungan hari.

Sediyanto menjelaskan bahwa kondisi ini terkait dengan perubahan iklim global. Angin baratan dari kawasan Asia dengan tekanan tinggi akan mengarah ke Australia yang memiliki tekanan rendah. Proses ini menyebabkan perubahan arah angin yang berdampak pada pembentukan awan dan hujan di wilayah Laut Jawa termasuk pesisir Pantura.

Ia juga menyampaikan bahwa informasi tentang perubahan gelombang dan kecepatan angin telah diberikan secara berkala kepada kelompok nelayan Pantura. "Angin baratan kadang-kadang tenang dalam 2 hari, lalu kembali tinggi dalam 2 hari berikutnya. Kami selalu mengupdate-nya," ujarnya.

Upaya Bertahan Hidup

Banyak nelayan kini mencari alternatif pekerjaan untuk bertahan hidup. Saiful Rozi, misalnya, mencoba beternak kerang hijau. "Kalau saya masih bisa jual kerang hijau, kasihan nelayan Bedono lainnya yang hanya mengandalkan melaut di tengah kondisi seperti ini," ujarnya.

Sementara itu, Haryono mengandalkan tabungannya untuk bertahan hidup. Ia berharap kondisi cuaca segera surut agar bisa kembali melaut jelang lebaran.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan