
Liburan Akhir Tahun di Garut: Dari Kebahagiaan Jadi Trauma
Liburan akur tahun seharusnya menjadi momen yang menyenangkan untuk melepas penat dari tekanan kerja. Namun, bagi para wisatawan yang berkunjung ke Garut, liburan kali ini justru berujung pada pengalaman buruk yang tak terlupakan. Bukan hanya ketenangan yang diperoleh, tapi malah menghadapi praktik pungutan liar (pungli) yang semakin marak.
Di tengah suasana liburan yang seharusnya ceria, sebuah insiden ngeri terjadi di gerbang masuk Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, Garut, pada Minggu (28/12/2025) sekitar pukul 11.30 WIB. Video yang memperlihatkan seorang perempuan mengalami luka di wajah usai penganiayaan di lokasi wisata viral di media sosial. Kejadian ini membuat publik terkejut dan langsung bertanya-tanya: “Apakah liburan di Garut sekarang sudah seperti ini?”
Pungli di Wisata Garut: Masalah yang Menjadi Budaya
Menurut Opik, salah satu anggota Garut Government Watch (GGW), masalah pungli di wisata Garut Selatan bukanlah hal baru. Ia menilai bahwa kasus ini hanyalah permukaan dari sebuah masalah yang lebih dalam. Menurutnya, pungli di wilayah tersebut mencerminkan kegagalan tata kelola wisata dan lemahnya fungsi pengawasan pemerintah daerah.
“Pungli di wisata Garut Selatan itu cermin gagalnya tata kelola wisata dan lemahnya fungsi pengawasan pemerintah daerah. Ini juga potret tekanan ekonomi masyarakat yang gelisah. Selama wisata dibiarkan tumbuh tanpa regulasi ketat, pungli akan tetap jadi ‘aturan tak tertulis’ yang bikin kapok para wisatawan,” ujarnya.
Opik, sebagai pengamat pemerintah Kabupaten Garut, menjelaskan beberapa akar masalah yang membuat pungli di area wisata Garut, khususnya Garut Selatan, menjadi budaya yang sulit dihilangkan. Berikut adalah tujuh penyebab utama:
-
Pengawasan Zero, Penegakan Hukum Lemah!
Banyak spot wisata di Garut berada di lokasi yang jauh dari kota. Alhasil, pengawasan dari Dinas Pariwisata atau Satpol PP seringkali hanya dilakukan secara musiman. Sanksi yang diberikan kepada pelaku pungli pun terlalu ringan, sehingga mereka tidak kapok dan menganggap pungli sebagai risiko kecil. -
Aturan Retribusi Tidak Jelas, Jadi Bahan Main!
Status tanah dan pengelolaan banyak lokasi wisata masih abu-abu. Tidak ada papan tarif resmi atau karcis yang baku. BUMDes pun sering tidak optimal. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh oknum untuk melakukan pungutan semaunya. -
Faktor Ekonomi Bikin Nalar Tumpul?
Wilayah Garut Selatan masih menghadapi kemiskinan dan pengangguran. Bagi sebagian warga, musim liburan menjadi kesempatan untuk mencari cuan instan. Muncul pemikiran yang salah: “Kan turis dari kota bisa bayar, kita yang butuh uang.” Pungli akhirnya dilihat sebagai cara bertahan hidup, bukan kejahatan. -
Budaya “Yang Penting Gak Paksa” Itu Bahaya!
Pungli telah menjadi tradisi turun-temurun di beberapa tempat. Wisatawan sering enggan melapor karena nominal kecil atau takut ribut. Sikap toleransi ini justru membuat pungli dianggap “wajar” dan terus hidup. -
Oknum & Premanisme Lokal Main Backing?
Di beberapa titik, ada kelompok yang menguasai parkir atau akses masuk. Aparat desa sering di posisi serba salah antara penegakan hukum dan tekanan sosial. Akibatnya, pungli berkembang dari tindakan individu menjadi sistem informal yang terstruktur. -
Edukasi ke Masyarakat & Wisatawan Masih Minim!
Banyak orang belum memahami perbedaan antara retribusi resmi dan pungli. Sosialisasi dari pemerintah juga jarang dilakukan. Literasi hukum tentang tata kelola wisata masih rendah, baik di warga maupun pengunjung. -
Infrastruktur & Manajemen Jadul Banget!
Loket resmi, CCTV, atau pos pengaduan tidak tersedia. Padahal jumlah wisatawan meningkat drastis selama musim liburan. Manajemennya ketinggalan jauh dari pertumbuhan wisata itu sendiri. Jadi, liburan Nataru 2025–2026 di Garut harusnya menjadi peringatan keras.
Jika tidak ada tindakan nyata dari pemerintah daerah untuk membenahi tata kelola, menegakkan hukum, dan membangun kesadaran bersama, potensi pariwisata Garut yang sangat luar biasa bisa gagal karena reputasi buruk “daerah preman dan pungli”.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar