Giwo Rubianto, Perjalanan Sunyi yang Kini Diakui KPAI 2025 untuk Anak Indonesia

Giwo Rubianto, Perjalanan Sunyi yang Kini Diakui KPAI 2025 untuk Anak Indonesia

Perjalanan Panjang Giwo Rubianto dalam Melindungi Hak Anak Indonesia

Di tengah suasana hangat yang menyelimuti Auditorium Bung Karno, Gedung Pusat Produksi Siaran TVRI, Rabu (10/12/2025), Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, mantan Ketua KPAI periode 2005–2007, melangkah pelan menuju panggung penerimaan Anugerah KPAI 2025. Di antara tepuk tangan hadirin, terasa ada getar haru yang sulit disembunyikan—sebuah penghormatan bagi perjalanan panjang yang pernah ia tempuh dalam memperjuangkan hak-hak anak Indonesia.

Penghargaan kategori Khusus untuk mantan Ketua KPAI itu diberikan langsung oleh Ketua KPAI saat ini, Margaret Aliyatul. Tema “Anak Terlindungi Menuju Generasi Emas Berdaya Saing” menggariskan komitmen negara dalam menghadirkan ruang apresiasi bagi individu, lembaga, dan dunia usaha yang berperan penting dalam perlindungan anak.

Bagi Giwo Rubianto, momen tersebut bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat akan perjuangan panjang yang pernah ia jalani dalam sebuah masa yang ia sebut sebagai periode “babat alas”—ketika KPAI masih meraba jalan, membangun sistem perlindungan anak dari dasar.

“Dulu saya Ketua KPAI periode kedua. Masih berjuang bagaimana mewujudkan hak-hak anak Indonesia,” tutur Giwo dengan mata yang tampak berkaca-kaca. Ucapannya sederhana, namun penuh beban sejarah.

Ia mengakui, persoalan pemenuhan hak anak tidak pernah menjadi tugas satu institusi saja. “Ini tanggung jawab kolektif. Hak anak untuk tumbuh aman, bahagia, dan bermartabat adalah kewajiban kita semua,” tegasnya.

Kini, menurut Giwo, sistem perlindungan anak berjalan lebih baik. Adanya pembagian tugas antara KPAI pusat dan daerah membuat banyak kasus dapat ditangani lebih cepat dan tepat. “KPAI pusat mengoordinir dan memfasilitasi, sementara legal action ada di KPAI daerah. Ini jauh lebih efektif,” jelasnya.

Namun kemajuan sistem tidak serta-merta menghapus tantangan. Bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak kini semakin kompleks—tidak hanya fisik dan psikis, tetapi juga kekerasan berbasis internet. “Hampir semua anak memegang gawai, dan itu membuat mereka rentan. Orang tua harus lebih aware,” pesannya.

Giwo menggunakan panggung penghargaan itu untuk mengajak semua pihak menjaga semangat kolektif dalam melindungi generasi muda. Baginya, tidak ada hadiah yang lebih berharga selain memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan aman, bahagia, dan bermartabat.

Kategori Penghargaan yang Menunjukkan Komitmen Bersama

Anugerah KPAI 2025 tahun ini menghadirkan delapan kategori penghargaan, mulai dari Lembaga Masyarakat Peduli Anak, Penegak Hukum Peduli Anak, Tokoh Peduli Anak, Dunia Usaha Peduli Anak, hingga Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD). Spektrum penghargaan yang luas ini menjadi bukti bahwa perlindungan anak adalah gerakan bersama—dari tokoh inspiratif hingga komunitas akar rumput.

Di tengah gemerlap lampu studio TVRI, penghargaan yang diterima Giwo Rubianto hari itu terasa lebih dari sekadar apresiasi. Ia adalah pengakuan atas jejak sunyi pengabdian yang telah ikut meletakkan fondasi bagi generasi masa depan. Sebuah pengingat bahwa perjuangan melindungi anak—sekecil apa pun langkahnya—selalu meninggalkan cahaya.

Tantangan yang Terus Berkembang

Meski sistem perlindungan anak kini lebih terstruktur, tantangan baru terus muncul. Kekerasan digital, misalnya, menjadi ancaman yang semakin nyata. Anak-anak kini lebih mudah terpapar informasi negatif dan bahaya online. Dalam situasi ini, peran orang tua dan masyarakat menjadi sangat penting. Giwo menekankan perlunya kesadaran yang lebih tinggi dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak-anak.

Selain itu, kebijakan dan regulasi yang mendukung perlindungan anak juga perlu terus diperkuat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi, diharapkan anak-anak Indonesia dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan harmonis.

Kesimpulan: Semangat Kolektif untuk Anak Indonesia

Perjalanan Giwo Rubianto dalam melindungi hak anak Indonesia menjadi contoh betapa pentingnya semangat kolektif dalam menjaga masa depan bangsa. Setiap langkah kecil yang dilakukan oleh individu atau lembaga memiliki dampak besar dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak.

Anugerah KPAI 2025 tidak hanya menjadi penghargaan bagi individu, tetapi juga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali komitmen kita bersama dalam menjaga hak-hak anak. Dengan terus berupaya, kita dapat memastikan bahwa setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, dan berkontribusi bagi bangsa.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan