Pusat Kolaborasi Lingkungan di Bandung

Toko-toko yang menawarkan produk ramah lingkungan semakin berkembang di Bandung, Jawa Barat. Selain Toko Organis dan Toko Nol Sampah, kini hadir pula Jaga Bumi Eco Mart & Community Hub di Cihampelas Walk (Ciwalk). Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Askara Nusantara, Toko Nol Sampah, Bumijo, dan Ngadaur. Dukungan dari Kitabisa.org membantu memastikan keberlanjutan proyek ini.
Jaga Bumi Eco Mart & Community Hub berupaya menciptakan ruang yang tidak hanya menjual produk ramah lingkungan tetapi juga menjadi tempat untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Koordinator Program Jaga Bumi Eco Mart & Community Hub, Tubagus Ari Satria Bakti, menjelaskan bahwa setiap pekan ada aktivasi yang dilakukan, seperti sesi diskusi dan pelatihan.
Kehadiran Jaga Bumi mendapat apresiasi dari berbagai NGO. Ari, pendiri Ngadaur, mengatakan banyak organisasi yang ingin berkolaborasi dengan proyek ini. Selain itu, Jaga Bumi juga bekerja sama dengan Plastavall Solution untuk menerima sampah, kecuali sampah B3.
Greenpreneur yang memiliki usaha kecil menengah (UMKM) dapat menyalurkan produknya ke Jaga Bumi. Namun, Ari menegaskan bahwa produk harus memenuhi beberapa syarat agar bisa dipajang. "Kami kurasi. Jangan sampai semua produk sama, seperti plastik. Tapi jika bentuknya beda dan lucu, akan lebih baik," ujarnya.
Membangkitkan Ekonomi Sirkular
Ari berharap Jaga Bumi bisa membangkitkan semangat ekonomi sirkular. Ia senang karena banyak komunitas yang mendukung kehadiran Jaga Bumi. Ruang yang terlihat mencolok di area Ciwalk membuat eco mart yang diresmikan pada 12 Desember 2025 ini ramai dikunjungi. Salah satu pengunjung mengatakan, "Wow, ini seperti di luar negeri. Ini kayak di Amerika Serikat."
Siska Nirmala, pemilik Toko Nol Sampah Pajajaran dan Dago, juga merasa senang dengan respons positif pengunjung. Baginya, Jaga Bumi adalah "rumah" ketiganya. Pengalaman yang berbeda dibandingkan toko-toko sebelumnya, seperti pengunjung yang membawa kelinci untuk mencari sayuran.
Di Jaga Bumi, Siska dan Ari juga berbagi pengetahuan, salah satunya tentang pengomposan menggunakan maggot BSF atau serangga lalat tentara hitam. Kehadirannya menjadi salah satu ruang bertemu komunitas.
Awal Mula Proyek
Program Manager Askara Nusantara, Muhammad Nur Afif Aulia, menjelaskan bahwa kehadiran Jaga Bumi bermula dari sayembara aksi jaga bumi pada Februari 2024. Titik pertama proyek ini berada di Bandung Raya. Sejumlah bank sampah, kelompok wanita tani, dan koperasi yang fokus pada manajemen sampah turut serta dalam sayembara tersebut. Ngadaur menjadi salah satu finalis.
Awalnya, proyek ini fokus pada kesadaran masyarakat tentang pengolahan sampah. Setelah berhasil membuat siklus dan bertahan, langkah selanjutnya adalah bagaimana menghidupkan operasional proyek tersebut. "Tantangan hari ini kalau hanya ikut-ikut lomba itu biasanya gak berkelanjutan, makanya bikin mekanisme operasional biar mereka bisa punya pemasukan," ujarnya.
Setelah itu, kata Afif, dilakukan kurasi. Ada penjurian dan pemenang mendapatkan pendanaan, baik hibah maupun donasi bergulir. Setelah Askara Green Planner Academy berjalan, muncul konsep Jaga Bumi yang menyerap produk-produk greenpreneur.
Afif menambahkan bahwa dukungan bukan hanya datang dari NGO saja tetapi juga dari berbagai kementerian, termasuk Kementerian Sosial. Ia berharap konsep Jaga Bumi bisa diterapkan di kota-kota lain.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar