Gubernur Jawa Barat Berikan Upah Rp 50 Ribu Per Hari untuk Masyarakat yang Merawat Hutan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memiliki strategi khusus dalam memperbaiki kerusakan hutan dan mencegah bencana alam berulang di wilayahnya. Salah satu inisiatif terbarunya adalah dengan memberdayakan masyarakat sebagai garda terdepan dalam pemulihan hutan. Dalam program tersebut, setiap warga yang terlibat akan diberikan upah sebesar Rp 50 ribu per hari.
Program ini akan dimulai pada Desember 2025. Dedi menegaskan bahwa upah tersebut lebih besar dibandingkan pendapatan harian para pekerja kasar di daerah-daerah tertentu yang hanya berkisar Rp 30 ribu. Tujuan dari pemberian upah ini adalah agar semakin banyak rakyat yang dilibatkan dalam kegiatan pemulihan hutan.
"Upah ini saya standarkan sebesar Rp 50 ribu per hari. Itu lebih mahal dibanding upah nyangkul di daerah tertentu yang hanya Rp 30 ribu. Kenapa harganya Rp 50 ribu? Agar banyak rakyat yang dilibatkan," ujarnya.
Penanganan Hutan Rusak Dilakukan Secara Bertahap
Dedi menjelaskan bahwa penanganan hutan rusak akan dilakukan secara bertahap. Setiap hektare lahan akan dikelola oleh dua orang warga yang bertugas menanam pohon dan merawatnya hingga tumbuh kuat dan kokoh. Jenis pohon yang akan ditanam meliputi beringin, nangka, serta pohon produktif seperti pete dan jengkol. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat memperoleh hasil dari pohon-pohon tersebut dalam jangka panjang.
Menurut Dedi, kondisi hutan di Jawa Barat saat ini masih sangat memprihatinkan. "Hanya 20 persen hutan yang betul-betul masih dalam kondisi baik. Sementara 80 persen lainnya dalam keadaan rusak," katanya.
Warga Khawatir Terhadap Bencana Banjir
Beberapa bulan sebelum bencana banjir menjadi perbincangan, Jawa Barat telah menghadapi ancaman banjir akibat musim penghujan. Kekhawatiran warga Kecamatan Cidahu, yang berada di lereng Gunung Salak, Kabupaten Sukabumi, akhirnya menjadi kenyataan.
Bencana ekologis melanda kawasan tersebut setelah hujan deras mengguyur wilayah sekitar Gunung Salak pada Minggu (03/08/2025). Dua sungai utama, yaitu Sungai Cibojong di Cidahu dan Sungai Rasamala di Cicurug, meluap. Air meluap dengan cepat, membanjiri area pemukiman dan lahan pertanian yang ada di sekitar bantaran sungai. Selain itu, bencana longsor juga terjadi di Cidahu dan Cicurug.
Banjir tersebut mengganggu aktivitas masyarakat dan memicu kepanikan. Salah satu dugaan penyebab utama meluapnya sungai adalah menurunnya daya resapan kawasan hulu, terutama di blok Cangkuang. Wilayah tersebut diketahui mengalami kerusakan hutan akibat aktivitas penebangan pohon secara masif dalam dua tahun terakhir.
Kerusakan Hutan Menyebabkan Dampak Serius
Blok Cangkuang, yang berada di lereng Gunung Salak, mengalami kerusakan parah akibat pembalakan liar selama lebih dari dua tahun. Beberapa jenis pohon bernilai tinggi seperti Mangong, Damar, Jengjeng, Pasah, Saninten, dan Puspa ditebang secara masif. Bahkan pohon Pinus dan Damar yang sebelumnya ditanam untuk program penghijauan pun ikut ditebang.
Kerusakan hutan ini menyebabkan dampak serius bagi warga di tiga desa yang bergantung pada aliran air dari Blok Cangkuang. Di Desa Cidahu, Jayabakti, dan Pondokaso, debit air bersih menurun drastis, dan kualitas air memburuk. "Air yang dulu jernih, sekarang cepat keruh walau hanya hujan ringan. Kolam-kolam penampungan yang biasanya penuh, kini hanya terisi setengah," ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat, Rohadi (75).
Permintaan Warga untuk Tindakan Cepat
Warga Cidahu yang berada di bawah kaki Gunung Salak RW.02 meminta pihak pemerintah daerah dan pusat untuk segera turun tangan. "Harapan warga di sini Gubernur Jabar bisa melihat kondisi ini. Kami disini dalam keadaan kekhawatiran dari bencana," harapnya.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar