Gubernur Khofifah Lepas 16 Keluarga Jatim ke Sulawesi dan Maluku, Dapat 1 Hektar Lahan

Gubernur Khofifah Lepas 16 Keluarga Jatim ke Sulawesi dan Maluku, Dapat 1 Hektar Lahan

Gubernur Jawa Timur Melepas Keberangkatan 16 Keluarga Transmigran

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara resmi melepas keberangkatan 16 keluarga transmigran dari halaman kantor gubernur di Jalan Pahlawan, Selasa (12/12/2025). Kedepannya, para transmigran ini akan ditempatkan di tiga daerah tujuan, yaitu Desa Taramanu Tua Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat, Desa Lagading Kabupaten Sidenreng Rappang Provinsi Sulawesi Selatan, serta Waleh SP.3 Kabupaten Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara.

Keberangkatan kali ini memiliki makna khusus karena terjadi di tengah transformasi kebijakan transmigrasi nasional yang digagas oleh Menteri Transmigrasi Republik Indonesia M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Transformasi ini dilakukan melalui pendekatan 5T, yakni:

  • Trans Tuntas – memastikan proses transmigrasi selesai dengan baik.
  • Translok (Transmigrasi Lokal) – mengutamakan pengembangan wilayah lokal.
  • Trans Karya Nusantara (TKN) – menciptakan lapangan kerja bagi pendatang.
  • Trans Patriot – meningkatkan kesadaran warga akan tanggung jawab sosial.
  • Trans Gotong Royong – memperkuat rasa kebersamaan dan kerja sama.

Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah memberikan motivasi kepada para transmigran untuk menjadi motor penggerak pembangunan sekaligus agen perubahan di wilayah penempatan. Ia menekankan pentingnya membawa nilai-nilai luhur Jawa Timur seperti kerja keras, keuletan, solidaritas, dan kebersamaan.

“Keberangkatan saudara hari ini adalah langkah berani untuk menjemput masa depan di tanah baru. Lahan yang menanti bukan sekadar ruang fisik, melainkan lembaran baru kehidupan yang akan dibangun dengan kerja keras, ketekunan, dan doa,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mendoakan agar anak-anak transmigran mampu beradaptasi dengan lingkungan baru serta tetap bersemangat menempuh pendidikan. Bahkan, ia membagikan kisah inspiratif tentang seorang transmigran yang berhasil menempuh pendidikan hingga menjadi profesor di Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Jangan pernah ragu bermimpi. Siapa pun bisa sukses dari mana pun, termasuk dari daerah transmigrasi,” pesannya.

Khofifah juga mengajak seluruh transmigran untuk senantiasa memperbanyak istigfar dan doa agar Allah SWT membukakan pintu kebaikan dan rezeki, tidak hanya bagi para transmigran, tetapi juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia meminta para transmigran untuk tetap tenang meski harus berpisah jarak dengan keluarga, karena kemajuan teknologi saat ini memungkinkan komunikasi terjalin dengan mudah melalui berbagai sarana digital.

Program Transmigrasi Masih Menarik Minat Masyarakat

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur, Sigit Priyanto, menyampaikan bahwa transmigrasi masih menjadi salah satu program prioritas strategis pembangunan nasional dan tetap relevan hingga saat ini. Di Jawa Timur, animo masyarakat terhadap program transmigrasi masih sangat tinggi. Setiap tahun jumlah pendaftar selalu melampaui kuota yang tersedia.

“Masyarakat masih menaruh harapan besar pada transmigrasi sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.

Sigit menjelaskan bahwa Trans Karya Nusa merupakan pola penciptaan lapangan pekerjaan bagi para pendatang di kawasan transmigrasi. Konsep ini sebelumnya dikenal dengan istilah Transigrasi Penduduk Asal (TPA) dengan diikuti 16 Kepala Keluarga 55 jiwa berasal dari 15 kab/kota.

Transformasi Transmigrasi juga menyertakan program pelatihan Komponen Cadangan (Komcad). Di mana Jatim mengikutkan tiga kepala keluarga untuk mengikuti pelatihan Komcad di Bandung selama dua bulan.

“Pelatihan Komcad dari unsur Transmigran dibentuk Kementrian Transmigrasi untuk memperkuat pertahanan dan pembangunan SDM kawasan transmigrasi,” jelasnya.

“Komcad ini bertujuan menyiapkan SDM untuk tugas tanggap darurat. Para Transmigran yang mengikuti Komcad akan diberi pangkat setara TNI bedasarkan tingkat pendidikan yaitu Tamtama, Bintara dan Perwira,” imbuhnya.

Harapan Masyarakat Transmigran

Salah satu peserta transmigrasi asal Kabupaten Bojonegoro, Suhartini (44), mengaku mengikuti program ini demi meningkatkan taraf perekonomian keluarganya. Ia berharap kehidupan keluarganya akan lebih baik setelah menjadi transmigran di Desa Taramanu Tua, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Ia menyebutkan bahwa para transmigran mendapatkan fasilitas berupa rumah, lahan satu hektare untuk diolah, peralatan dan bibit pertanian, serta jaminan hidup selama satu tahun.

“Prosesnya mudah dan tanpa biaya. Harapan kami setelah mengikuti program ini bisa sukses dan membuktikan kepada keluarga bahwa kami mampu,” pungkasnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan