
Gubernur Lemhannas: Pembangunan Nasional Harus Menjaga Keseimbangan Lingkungan
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Tubagus Ace Hasan Syadzily, menyampaikan bahwa berbagai program pembangunan nasional, terutama di bidang ekonomi, harus mempertimbangkan keseimbangan lingkungan yang berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan dalam refleksi dan rilis akhir tahun 2025 serta Outlook 2026.
Pembangunan nasional atau pengelolaan sumber kekayaan alam yang abai terhadap prinsip keseimbangan lingkungan, menurut Ace, akan bermuara pada potensi krisis sosial dan ekonomi. Ia menegaskan bahwa ketika pengelolaan sumber kekayaan alam mengabaikan prinsip keseimbangan dan keberlanjutan, risiko ekologis akan meningkat, dan pada akhirnya berpotensi menyebabkan krisis.
Bencana banjir dan longsor di Sumatera menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan nasional harus semakin terintegrasi dengan agenda mitigasi risiko bencana dan keberlanjutan lingkungan. Perubahan iklim, menurut Ace, menjadi tantangan multidimensional yang akan berdampak langsung pada geografi, ekonomi, sumber daya alam, dan keamanan nasional.
Tahun 2026 tidak boleh hanya dipandang sebagai kelanjutan agenda pembangunan, tetapi juga sebagai fase konsolidasi nasional untuk memperkuat daya lenting bangsa menghadapi ketidakpastian.
Skor Ketahanan Indonesia Tercatat Cukup Tangguh
Lemhannas mencatat bahwa ketahanan Indonesia berada pada kategori cukup tangguh dengan skor 2,84 sepanjang tahun 2025. Data tersebut merupakan hasil dari Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasional (Labkurtannas). Kategori itu berlaku pada sektor politik, ekonomi, serta sumber kekayaan alam.
Ace menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025, Indonesia berada pada posisi kondisi cukup tangguh dengan skor 2,84 dan tren penguatan yang stabil. Namun, ada beberapa sektor yang perlu mendapat perhatian khusus.
Adapun sektor yang masih rentan adalah gatra sosial budaya, karena masih munculnya disinformasi, polarisasi digital, serta penetrasi nilai-nilai eksternal yang berpotensi menggerus karakter kebangsaan. Selain itu, sektor pertahanan dan keamanan juga harus mendapat perhatian yang seksama, terutama pada peningkatan kemandirian industri pertahanan.
Refleksi Strategis Tahun 2025
Dalam refleksi strategis tahun 2025, menurut Ace, Lemhannas menyimpulkan bahwa stabilitas nasional secara umum tetap terjaga dalam bingkai konsolidasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, untuk menghadapi 2026, Indonesia masih diwarnai berbagai dinamika.
Ace menyampaikan empat tantangan ketahanan nasional yang perlu dihadapi. Pertama, dari dampak rivalitas kekuatan besar global, Indonesia dituntut mampu mempertahankan posisi sebagai kekuatan penyeimbang atau balancing force, sekaligus menjadi kekuatan konstruktif atau constructive power dalam dinamika Indo-Pasifik, BRICS, ASEAN, dan G20.
Dengan kondisi itu, Ace menilai perebutan sumber daya alam kritis dunia, khususnya nikel, bauksit, tembaga, dan logam tanah jarang, akan semakin intensif. Indonesia harus mampu memperkuat kebijakan hilirisasi, memperluas rantai pasok domestik, serta memastikan tata kelola yang transparan dan berkeadilan.
Kedua, pada kondisi nasional, isu ketahanan nasional yang meliputi penguatan industri pertahanan, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan ideologi, diproyeksikan sebagai fase penting untuk konsolidasi pencapaian program prioritas nasional yang akan menjadi pondasi utama keberhasilan Astacita.
Ketiga, perubahan iklim menjadi tantangan multidimensional yang akan berdampak langsung pada geografi, ekonomi, sumber daya alam, dan keamanan nasional. Ketika pengelolaan sumber kekayaan alam mengabaikan prinsip keseimbangan dan keberlanjutan, risiko ekologis akan meningkat dan pada akhirnya berpotensi menyebabkan krisis sosial dan ekonomi.
Terakhir, perkembangan teknologi informasi dan artificial intelligence akan semakin mempercepat kemajuan tatanan kehidupan dengan berbagai dampaknya. Oleh karena itu, Indonesia harus segera menguatkan ekosistem berbagai sektor yang berbasis digital, disertai SDM unggul yang berbasis science, teknologi, engineering, and mathematics (STEM).
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar