Perempuan di Balik Kesuksesan Bisnis

Di tengah situasi ekonomi yang sering dikatakan lesu, ada sejumlah pengusaha kecil yang justru menunjukkan pertumbuhan. Lima pengusaha kecil anggota Hipmi Mojokerto yang pernah saya ajak naik panggung, hanya satu di antaranya yang mengalami penurunan omzet. Sementara empat lainnya justru meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua usaha terpuruk di tengah tantangan ekonomi.
Di acara kumpul-kumpul “Perusuh Disway” di DIC Farm pekan lalu, dua pengusaha wanita hadir dan bisnis mereka tetap berkembang. Keduanya adalah contoh nyata bahwa perempuan bisa sukses dalam dunia bisnis. Salah satunya menjalankan usaha gula kelapa semut, sementara yang lain menjalankan usaha laundry sekaligus sub agen jasa titipan.
Usaha Gula Kelapa Semut yang Menginspirasi
Salah satu pengusaha tersebut bernama Setya Widiastuti atau dikenal dengan nama Tuti. Ia asli Banyumas dan alumni Unsoed Purwokerto. Selain berbisnis, Tuti juga aktif dalam kerja sosial dengan membina petani kelapa di Banyumas. Saat ini, ia telah membina 1.752 petani kelapa, masing-masing memiliki sekitar 40 pohon kelapa.
Yang istimewa, seluruh kelapa binaannya adalah organik. Ini sangat sulit dicapai karena banyak petani enggan beralih ke pertanian organik. Namun, Tuti berhasil mempertahankannya selama lebih dari 15 tahun. Awalnya, ia turun langsung ke lapangan untuk mendekati para petani. Sebagai mantan aktivis NGO di bidang pertanian, Tuti ingin memberikan kontribusi nyata. Ia pun pamit dari organisasi NGO tersebut untuk mulai berbisnis, meski tujuannya tetap sama: memberdayakan petani.
Dari NGO itu, Tuti memperoleh jaringan luas, termasuk pasar gula kelapa di luar negeri. Namun, gulanya harus organik. Ia pun membangun petani dari nol, termasuk bagaimana membuat gula semut, yaitu gula kelapa yang dibuat seperti tepung, tapi agak kasar.
Gula semut ini diminati di Belanda. Bukan gula yang dicetak besar-besar. “Gula semut tidak bisa mblenyek,” ujar Tuti. Mblenyek adalah bahasa Jawa untuk gula yang berair. Kadar kekeringan gula semut sangat tinggi, dengan kandungan air maksimal 5 persen. Proses pengeringannya melalui sangrai, sehingga aromanya harum. Dalam proses sangrai, sedikit minyak kelapa juga ditambahkan. Minyak klentik ini harus dibuat dari kelapa yang tumbuh di ladang kelapa itu sendiri.
Teknologi dan Data Detail dalam Bisnis
Semua ini dilakukan untuk menjaga kemurnian organik. Tuti juga memiliki data detail tentang setiap pohon kelapa binaannya. Tiap pohon memiliki daftar riwayat hidup. Bahkan koordinat tiap pohon dicatat. Perlakuan terhadap setiap pohon juga didata secara rinci, termasuk tanggal, jam, jenis pupuk, dan air yang digunakan.
Kini, Tuti memiliki kesibukan baru: memperkenalkan bibit kelapa baru kepada para petani. Bibit ini disebut genjah entok, yang akan membuat petani lebih mudah bekerja. Petani tidak perlu memanjat pohon kelapa yang tinggi. Saat ini, ketinggian pohon kelapa petani mencapai sekitar 20 meter. Petani harus memanjatnya dua kali sehari, pagi dan sore, untuk menderes niranya.
Waktu terbaik untuk memanjat pohon adalah pukul 03.00 pagi dan 15.00 sore. Itu yang hasilnya paling banyak. Meskipun berat, Tuti berhasil membuat ritme petani kelapa di Banyumas menjadi kebiasaan yang membudaya. Ia menjadi lambang penyuluh pertanian yang sukses, terutama karena menekuni sisi bisnisnya. Hal ini senada dengan hasil penelitian untuk gelar doktor Ira Purpadewi: untuk sukses menjadi pembina sosiopreneur, seseorang harus sukses terlebih dahulu sebagai entrepreneur.
Pengusaha Lain yang Berhasil
Wanita Disway lainnya juga tak kalah gigih. Namanya Dhipa. Dia selalu ikut kumpul-kumpul Perusuh Disway. Setelah jatuh-bangun di Tanah Abang Jakarta, Dhipa menekuni usaha laundry dan agen kiriman. Dari Dhipa, saya belajar mengapa toko online seperti Shopee bisa memberikan ongkos kirim gratis, sedangkan yang lain tidak bisa.
Shopee menghitung ongkos kirim berdasarkan karungan, bukan per barang. Misalnya, berat satu barang mungkin kurang dari satu kilogram, tetapi ongkos kirim di perusahaan angkutan dihitung per kilogram. Oleh karena itu, Shopee menyatukan barang-barang menjadi satu karung. Berat satu karung bisa mencapai 15 kg, dengan isi puluhan paket kiriman.
Selain itu, Shopee tidak mau repot. Dulu, barang dikumpulkan di satu gudang, sehingga butuh banyak karyawan untuk memilah. Sejak sebulan lalu, Shopee membuat kebijakan: sub agen harus memilah barang berdasarkan tujuan kirim. Hal ini mengurangi beban di gudang dan jumlah karyawan yang diperlukan.
Masih banyak wanita Disway yang tidak kalah hebat dari Tuti dan Dhipa. Di negara mana pun, perempuan menjadi andalan, dan hal ini juga mulai terlihat di Indonesia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar