Guru Kalsel Menolak Dikritik, Nilai TKA Matematika Jatuh

Guru Kalsel Menolak Dikritik, Nilai TKA Matematika Jatuh

Evaluasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk Siswa SMA

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sedang melakukan evaluasi terhadap Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diikuti oleh siswa kelas XII SMA. Hal ini dilakukan karena hasil TKA pada mata pelajaran matematika menunjukkan penurunan yang signifikan. Evaluasi mencakup berbagai aspek, seperti waktu pelaksanaan, isi soal, serta teknis pelaksanaan lainnya.

“Banyak hal sudah kami evaluasi secara komprehensif,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam pernyataannya di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (27/11). Ia menyampaikan bahwa sebelumnya, saat membuka Musyawarah Nasional Ke-20 Ikatan Penerbit Indonesia di Jakarta pada 19 November, ia mengungkapkan beberapa penyebab nilai matematika TKA 2025 yang rendah, termasuk buku ajar dan metode pengajaran guru yang belum mampu mendorong minat belajar siswa.

Namun, pernyataan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah guru di Kalimantan Selatan. Noviya Maulidani, S. Pd, seorang guru Matematika SMKN 2 Banjarmasin, menegaskan bahwa tidak seharusnya nilai rendah siswa langsung disalahkan kepada guru. Ia menjelaskan bahwa proses belajar adalah kompleks dan melibatkan banyak pihak, termasuk siswa dan orang tua.

“Guru memang berperan penting, tapi siswa juga harus memiliki motivasi dan orang tua perlu memberikan dukungan dari rumah. Jadi ini bukan soal satu pihak saja,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa guru sering kali menghadapi kendala yang tidak selalu diketahui publik, seperti keterbatasan fasilitas belajar, kurikulum yang terus berubah, dan perbedaan kemampuan siswa.

Matematika sebagai pelajaran abstrak memang sering membuat siswa kesulitan memahami konsepnya. Guru harus berusaha keras mencari cara agar konsep abstrak bisa terasa nyata, namun hal ini tidak mudah. Menurut Noviya, rendahnya nilai siswa tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal untuk menilai kualitas mengajar guru. “Masalahnya lebih luas. Kurikulum terlalu padat, perubahan kurikulum sering tidak diikuti pelatihan memadai untuk guru. Banyak faktor yang saling terkait,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara materi ajar di sekolah dengan soal TKA. “Materi sekolah lebih fokus pada pemahaman konsep, sedangkan TKA menekankan kemampuan analitis dan pemecahan masalah. Jadi wajar kalau siswa merasa kaget,” ujarnya. Di akhir, ia menegaskan bahwa nilai TKA tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan matematika siswa. “Nilai itu juga dipengaruhi faktor lain, seperti kemampuan bahasa, analisis, bahkan kesiapan mental siswa menghadapi tekanan ujian,” tambahnya.

Persiapan TKA di Kalimantan Selatan

Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan belum menerima laporan resmi hasil TKA dari pemerintah pusat. “Nilai TKA siswa SMA/SMK sederajat belum disampaikan pemerintah pusat ke pemerintah daerah, sehingga kami belum bisa melakukan evaluasi,” kata Kepala Bidang Pembinaan SMA, Dedi Hidayat, Senin (1/12).

Tahun 2025 menjadi momen pertama pelaksanaan TKA secara nasional. Dedi menjelaskan bahwa alih-alih mengejar hasil, pemerintah daerah lebih fokus memastikan seluruh siswa Kalsel dapat mengikuti ujian tanpa terkendala sarana maupun kesiapan perangkat. “Mengingat ini pertama kali dilaksanakan, pasti ada hal-hal yang belum sesuai harapan. Tahun ini kami fokus memastikan seluruh siswa bisa ikut, termasuk pemenuhan sarpras dan kesiapan mereka,” katanya.

Di sejumlah daerah, akses jaringan internet, kesiapan laboratorium komputer, hingga kesiapan mental siswa menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah sekolah harus melakukan penjadwalan ulang untuk memastikan semua peserta mendapatkan kesempatan ujian yang sama. Dedi memastikan pelaksanaan TKA 2026 akan disiapkan lebih matang. Disdikbud berencana memperkuat pelatihan guru, memperbaiki kesiapan sarana berbasis digital, dan memastikan semua sekolah memiliki standar pelaksanaan yang sama.

Setelah pelaksanaan TKA untuk jenjang SMA sederajat, selanjutnya dilakukan TKA untuk SMP sederajat. Sejumlah SMP di Banjarbaru mulai melakukan persiapan menghadapi TKA pada 2026. Duan, guru SMP, mengaku mendapat informasi bahwa TKA SMP sederajat diperkirakan berlangsung sekitar Maret. Pihak sekolah sudah diberi pembekalan oleh instansi terkait.

Untuk jenjang SMP, khususnya siswa kelas IX, TKA hanya akan mencakup dua mata pelajaran, yaitu matematika dan bahasa Indonesia. Ia menjelaskan bahwa hal ini berbeda dengan tingkat SMA, di mana jumlah mata pelajaran yang diujikan lebih banyak serta mata pelajaran pilihan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan