
Ringkasan Berita:
- Para guru di SMPN 44 Takengon kini harus mengakrabkan diri dengan rasa takut, bergantung pada seutas tali sling atau gondola rakitan untuk bisa sampai ke sekolah
- Akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Kampung Bah baru-baru ini, jembatan permanen tak lagi bisa dipijak
- Melihat kondisi psikologis para siswa yang terguncang, para guru kini lebih banyak memberikan bantuan trauma healing
nurulamin.proDi balik rimbunnya perbukitan Kecamatan Ketol, sebuah perjuangan sunyi sedang berlangsung.
Bukan tentang papan tulis atau kurikulum semata, melainkan tentang keberanian melawan gravitasi demi mencerdaskan anak bangsa.
Para guru di SMPN 44 Takengon kini harus mengakrabkan diri dengan rasa takut, bergantung pada seutas tali sling atau gondola rakitan untuk bisa sampai ke sekolah.
Akses darat yang biasanya mereka lalui kini telah luluh lantak.
Akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Kampung Bah baru-baru ini, jembatan permanen tak lagi bisa dipijak.
Pilihannya hanya satu: menyeberangi sungai keruh berlumpur di dalam kotak besi yang menggantung pada kabel baja.
Tawa di Tengah Suasana Mencekam
Bagi Shapriana Dewi, guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), pengalaman ini adalah ujian mental yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tinggal di Kabupaten Bener Meriah, Dewi harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk bertemu dengan keranjang maut ini.
"Kaki dingin, ditambah kawan bawa durian pas pulang, ketusuk-tusuk kaki kita ya Allah, aku sendiri mengekspresikan rasa takut itu dengan ketawa," ucapnya melalui pesan WhatsApp kepada Kompas.com, Sabtu (10/1/2026).
Di atas ketinggian, rasa takut seringkali disamarkan dengan candaan. Meski menyadari risiko keamanan yang mengintai, para guru tetap mengantre setiap pagi.
Satu kotak besi hanya cukup untuk dua orang, ditarik perlahan oleh warga dari ujung seberang.
Sekolah di Tengah Zona Merah
Kondisi pendidikan di wilayah ini memang sedang di titik nadir. Banyak siswa yang hingga kini belum menampakkan diri di ruang kelas.
Bukan karena malas, melainkan karena rumah mereka telah hilang atau berada di wilayah yang tak lagi aman untuk dihuni.
"Kami belum pernah masuk sekolah (belajar), karena anak-anak tidak memungkinkan datang ke sekolah, siswa berasal dari Kampung Bah dan Serempah," kata Dewi.
Ia menambahkan kondisi salah satu desa asal muridnya.
"Sementara Serempah sudah 'zona merah', tidak layak huni lagi. Jadi anak-anak berada Pasar Simpang Empat," ucapnya.
Melihat kondisi psikologis para siswa yang terguncang, para guru kini lebih banyak memberikan bantuan trauma healing.
"Sementara kami memberikan treatmen trauma untuk anak-anak," ucapnya.
Meski fasilitas hancur, semangat pengabdian mereka tidak luntur. Dewi menegaskan bahwa jadwal sekolah akan tetap dimulai pada 12 Januari 2026.
"Apapun kondisinya, proses belajar mengajar akan kami lakukan pada hari Senin," sebut Dewi.
"Kalau aktif, apapun kondisinya kami harus mengajar, tapi maunya jangan pakai sling lagi bang," ungkapnya jujur.
Meniti Tali di Atas Sungai Lumpur
Kisah serupa dialami oleh Rahmi Sasmita Sari, akrab disapa Mita. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) ini harus menyaksikan betapa alam telah mengubah bentang lahan di sana.
Sungai Ketol yang biasanya tenang kini melebar, menelan jalan aspal yang dulu ia lalui dengan sepeda motor.
Ada dua cara untuk menyeberang, masuk ke dalam kotak besi atau ber-atraksi dengan berjalan di atas tali sling sambil berpegangan tangan.
Mita memilih cara yang pertama, meski jantungnya berdegup kencang melihat arus sungai di bawahnya.
"Jembatannya tidak putus, hanya saja, sungainya jadi lebih luas, jalan amblas. Jalan jadi sungai, itulah yang kami lewati sekarang ini dengan sling," terang Mita.
Harapan pada Jembatan Darurat
Saat ini, SMPN 44 Takengon yang berkapasitas 45 siswa dengan 20 guru tersebut beruntung karena bangunannya selamat dari terjangan longsor. Namun, gedung yang kokoh tak akan berarti jika akses menuju ke sana tertutup.
Harapan kini tertumpu pada pembangunan jembatan darurat menuju Kampung Burlah yang dikabarkan akan rampung dalam pekan ini.
Bagi Mita dan rekan-rekannya, jembatan itu bukan sekadar konstruksi kayu atau besi, melainkan urat nadi pendidikan yang akan menyambung kembali mimpi-mimpi anak pedalaman Aceh Tengah.
"Kalau longsor kami bisa lewati pelan-pelan dan hati-hati. Kalau sungai ini, tidak ada cara lain, semoga bisa segera rampung jembatan daruratnya," pungkas Mita penuh harap.
(nurulamin.pro/TribunJatim.com)
Jangan lewatkan berita-berita nurulamin.protak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar