Hanya 17 Industri di Jateng Miliki Sertifikasi Hijau


aiotrade, SEMARANG - Sektor industri di Jawa Tengah menghadapi tantangan besar dalam mengadopsi praktik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Transformasi menuju industri hijau menjadi fokus utama pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan ekonomi sekaligus menjaga kualitas lingkungan. Namun, hingga saat ini hanya 17 industri saja yang telah menerima Sertifikat Industri Hijau (SIH).

Iwan Indrawan, Ketua Kelompok Kerja Pengawasan dan Pengendalian Industri Non Agro Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah, menjelaskan bahwa jumlah industri hijau yang masih sedikit disebabkan oleh kompleksnya standar yang berlaku untuk setiap jenis industri. Ia menambahkan bahwa banyak industri yang sudah melakukan transformasi, tetapi tidak bisa melakukan sertifikasi karena tidak ada SIH yang tersedia.

"Sebagai contoh, sektor furnitur dan kayu belum memiliki SIH. Kami akan menyampaikan masukan ini kepada pemerintah pusat agar bisa diperhatikan," ujar Iwan dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa (2/12/2025).

Untuk mempercepat proses sertifikasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menciptakan Indeks Siap Hijau. Indeks ini berisi uji mandiri atau self assessment yang membantu pelaku industri menilai kesiapan mereka dalam mengikuti sertifikasi hijau.

Iwan juga menyatakan bahwa kurangnya kewajiban untuk menerapkan Standar Industri Hijau menyebabkan rendahnya kesadaran pelaku industri dalam beralih ke praktik ramah lingkungan. Meskipun demikian, ia melihat adanya pergeseran positif dalam penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Tetapi industri saat ini sudah mulai bergeser ke arah penggunaan EBT. Ini harus terus kita dorong," tambahnya.

Dalam pendataan tahun 2023, tercatat 60 industri di Jawa Tengah yang telah memanfaatkan energi dari sumber EBT. Iwan menyebut kemungkinan jumlah tersebut telah bertambah lebih banyak. Namun, untuk mendapatkan SIH, pelaku usaha juga harus mematuhi aspek manajemen dan teknis.

Semakin meningkatnya kesadaran pelaku usaha terlihat dari adopsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Jawa Tengah. SUN Energy, salah satu perusahaan sustainability-as-service asal Indonesia, telah melayani lebih dari 30 perusahaan dengan total kapasitas terpasang mencapai 22 MW.

PLTS tersebut terpasang di beberapa sektor industri seperti FMCG (Fast Moving Consumer Goods), tembakau, tekstil, furnitur, dan manufaktur elektronik. Oky Gunawan, Chief Sales Officer SUN Energy, menjelaskan peran penting Jawa Tengah dalam upaya mendukung target Net Zero Emission (NZE) di Indonesia.

"Kami yakin sekali, tanpa keterlibatan semua pihak, industri hijau ini tidak bisa maju dengan pesat. Selain pemerintah, pelaku industri sendiri memiliki peran besar untuk mengakselerasi (pemanfaatan) energi hijau," ujar Oky.

Dalam hal ini, SUN Energy hadir untuk memberikan skema transisi yang menawarkan biaya investasi rendah dengan efisiensi tinggi. Oky melanjutkan bahwa pihaknya tidak hanya menyasar sektor industri maupun komersial.

"Kami juga masuk ke utility scale. SUN Energy sejak tahun lalu sudah mulai partisipasi. Selain itu, kami juga menjajaki luar pulau seperti Sulawesi dan Kalimantan. Di mana sektor pertambangan sudah mulai meningkat dan kita sudah harus tap-in ke sana, karena (penggunaan EBT dengan sistem) hybrid atau offgrid dinilai lebih efisien," katanya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan