Hanya 3 Bulan Pakai Air PAM, Tagihan Langsung Rp3 Juta

Pengalaman Buruk Warga Jakarta dengan Tagihan Air yang Melonjak

Seorang warga Jakarta Barat, Pras (58 tahun), mengalami kejutan besar ketika tagihan air rumahnya tiba-tiba melonjak hingga mencapai Rp 3 juta dalam sebulan. Peristiwa ini terjadi hanya tiga bulan setelah ia beralih menggunakan layanan Perusahaan Air Minum (PAM). Sebelumnya, penggunaan air di rumahnya selalu tercatat antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per bulan.

Saya kaget. Biasanya bayar bulanan itu paling ya Rp 100.000 atau Rp 150.000 lah normalnya. Tapi ini tiba-tiba jadi Rp 3 juta dalam sebulan, ujar Pras kepada media lokal, Jumat (12/12/2025).

Pras menyatakan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam penggunaan air di rumahnya. Kan enggak mungkin juga kita make air emang sebanyak apa sih gitu? Emang kita bikin kolam renang? Kan enggak, tambahnya.

Alasan Beralih ke PAM

Pras sebelumnya memutuskan beralih ke layanan PAM karena air tanah di rumahnya semakin sulit diakses dan pompa air sering rusak. Namun, masalah baru muncul ketika tagihan air tiba-tiba meningkat drastis.

Setelah mengecek penyebabnya, Pras menemukan bahwa pipa saluran air menuju rumahnya mengalami kebocoran halus. Kebocoran ini diduga terjadi akibat proyek perbaikan jembatan di depan rumahnya.

Ternyata selama perbaikan (jembatan) itu kayaknya pipa saya itu ikut kena. Jadi ada bocor lah, bocor halus. Ketutupan jembatan, jadi enggak kelihatan. Nah itu tuh saya baru tahu setelah tiba-tiba ada tagihan itu, jelasnya.

Ia mengaku tidak melihat adanya rembesan di area rumahnya. Di rumah, saya tuh selalu mastiin keran ini enggak ada yang bocor, terus enggak ada rembesan air di mana-mana. Ternyata di situ, gara-gara ada proyek perbaikan jalan, pipa saya ikutan kena di pinggir jalan, tambahnya.

Komplain Ditolak, Diminta Tetap Bayar

Pras kemudian mengajukan keluhan dan berharap ada penghapusan atau keringanan tagihan. Namun, pihak pengelola tetap memaksanya membayar penuh karena air sudah tercatat melewati meteran.

Langsung saya ajuin komplain lah ke PAM. Tapi ternyata tetap enggak bisa, tetap harus dibayar. Karena alasannya dia itu sudah lewatin meteran. Jadi sudah terhitung terpakai, ujarnya.

Ia merasa dirugikan karena kebocoran terjadi di luar rumah dan dipicu proyek fasilitas umum. Padahal kalau dalam kasus saya itu kan bukan kesalahan saya. Pipanya itu adanya di luar dan terkena dari proyek perbaikan jalan umum, katanya.

Solusi yang ditawarkan hanya pembayaran secara mencicil, yang menurutnya tidak menyelesaikan masalah. Disuruh nyicil juga buat saya tetap berat banget lah, namanya zaman sekarang kan kita harus bayar Rp 3 juta. Dan itu belum lagi saya harus benerin pipanya segala macam, ucapnya.

Memilih Putus Sambungan dan Numpang Air dari Tetangga

Tak sanggup membayar tagihan dan kecewa dengan respons tersebut, Pras memilih membiarkan sambungan PAM-nya diputus. Akhirnya sudah saya biarin saja, mati, air PAM-nya dicabut, katanya.

Ia lalu menyambung air dari rumah tetangga dan membayar secara patungan. Akhirnya sekarang ya saya numpang sama tetangga aja. Jadi bayarnya patungan lah gitu, antara saya sama tetangga, ungkapnya.

Pras mengaku tidak menyesal memakai air PAM, tetapi menyayangkan penanganan keluhan yang dianggapnya tidak fleksibel. Kalau menyesal pakai air PAM sih enggak. Cuma lebih ke menyayangkan aja gitu. Kenapa ketika misalnya ada kebocoran kayak gitu enggak bisa ditangani dengan baik, ujarnya.

Ia berharap kejadian ini bisa menjadi perhatian pengelola layanan air bersih. Kalaupun ada yang kecelakaan (kebocoran) yang bukan disebabkan karena kesengajaan, ya harusnya ada penanganan yang lebih baik lah. Ada solusi yang lebih baik, tutup Pras.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan