Hanya Permintaan Maaf! Kasus Bangsring Underwater Jadi Ancaman Pariwisata Banyuwangi

Skandal Pemalakan di Bangsring Underwater: Ujian bagi Citra Wisata Banyuwangi

Sebuah skandal pemalakan yang terjadi di kawasan wisata Bangsring Underwater, Banyuwangi, telah menjadi bahan perbincangan hangat dan memicu kekhawatiran besar terhadap rasa aman pengunjung. Dua pria lanjut usia, Busahra (56) dan Joddy Soebiyanto (61), yang viral karena memalak bus wisatawan asal Surabaya, akhirnya menyatakan penyesalan secara terbuka di Mapolsek Wongsorejo, Sabtu 13 Desember 2025.

Keduanya mengaku bertindak atas inisiatif pribadi dengan dalih “pengawalan” dan menegaskan tidak membawa nama desa, kelompok sadar wisata, maupun pengelola Bangsring Underwater. Secara hukum, kasus ini dianggap selesai dengan skema wajib lapor dan surat pernyataan. Namun, publik justru merasa kehilangan satu hal krusial, yakni rasa aman.

Sanksi Ringan, Efek Psikologis Berat

Meski sanksi administratif telah diberikan, efek psikologis terhadap wisatawan masih terasa. Kapolsek Wongsorejo AKP Eko Darmawan menegaskan bahwa kedua pelaku tidak ditahan. Polisi memilih pendekatan persuasif disertai peningkatan patroli dan koordinasi lintas sektor. Langkah itu sah secara prosedur. Tetapi di ruang publik, responsnya justru berlawanan.

Media sosial dipenuhi komentar skeptis, mempertanyakan efek jera dan jaminan keamanan wisatawan ke depan. Kasus ini tak lagi dipandang sebagai kriminalitas ringan, melainkan simbol rapuhnya sistem perlindungan wisatawan di destinasi unggulan.

Efek Domino: Wisatawan Mundur, Usaha Terpukul


Dampak nyata langsung terasa. Dewi, wisatawan asal Surabaya, membatalkan rencana liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 ke Banyuwangi. “Sudah niat liburan, tapi setelah lihat beritanya jadi was-was. Pelakunya cuma wajib lapor. Akhirnya pindah destinasi,” ujarnya, Senin 15 Desember 2025.

Timothy, vendor wisata yang rombongannya menjadi korban, mengakui klarifikasi resmi tak selalu efektif meredam ketakutan calon wisatawan. “Trauma itu tidak bisa dihapus dengan klarifikasi. Mereka tetap takut,” katanya.

Bahkan wisatawan independen pun angkat suara. Bintang, traveler asal Magetan, menilai insiden ini sebagai alarm keras. “Liburan itu cari tenang, bukan mikir keamanan. Untuk sementara, mending cari tempat lain,” ujarnya lugas.

Gerak Cepat Pemerintah, Persepsi Publik Masih Tertinggal

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tak tinggal diam. Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, memimpin koordinasi lintas sektor hingga tingkat desa dan kepolisian. “Praktik seperti ini tidak boleh dibiarkan karena mencederai citra pariwisata Banyuwangi,” tegas Taufik, Minggu 14 Desember 2025.

Langkah transparan dilakukan, termasuk video call langsung dengan tour leader rombongan wisatawan untuk memastikan fakta terbuka, pelaku bukan bagian dari pengelola resmi. Pemkab juga menyatakan siap mengembalikan dana pungutan serta menyampaikan permohonan maaf resmi.

Pesannya jelas, wisatawan adalah tamu kehormatan. Namun di era digital, klarifikasi sering kalah cepat dari jejak viral dan persepsi negatif.

Ujian Nyata Menjelang Nataru

Kasus Bangsring Underwater membuktikan satu insiden bisa berdampak berlipat. Permintaan maaf dan sanksi administratif mungkin menutup perkara, tetapi kepercayaan publik tak bisa dipulihkan dalam semalam. Menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru, Banyuwangi menghadapi ujian nyata, memastikan rasa aman bukan sekadar jargon promosi, melainkan pengalaman konkret yang dirasakan wisatawan sejak datang hingga pulang dengan cerita indah, bukan trauma.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan