Hapus Trauma 14 Hari Mengungsi, Senyum Narendra Bawa Kebahagiaan untuk Ibu

Hapus Trauma 14 Hari Mengungsi, Senyum Narendra Bawa Kebahagiaan untuk Ibu

Anak-Anak Penyintas Bencana Mulai Beraktivitas Kembali

Di Gor Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, puluhan anak-anak penyintas banjir dan longsor mulai menjalani terapi psikososial hari ini, Jumat (12/11/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk membantu mereka mengatasi trauma akibat bencana yang menimpa. Dari pantauan, sebagian dari mereka tampak siap dan antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Namun, tidak semua anak bisa langsung merasa senang. Beberapa di antaranya masih terlihat murung dan diam meski teman-temannya sudah mulai bermain. Salah satu dari mereka adalah Narendra, seorang anak laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna orange. Ia duduk dengan wajah sedih dan hanya memandang ibunya tanpa mau bergabung dengan kawan-kawannya.

Meski awalnya tidak aktif, Narendra perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Saat tim relawan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial mulai melakukan kegiatan, ia mulai tersenyum. Senyum itu semakin melebar ketika tim LDP mengajak anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan. Dion, sapaan akrab Narendra, secara perlahan ikut menyanyi dan akhirnya mau bergabung dengan teman-temannya.

Selain itu, Narendra juga terlihat sangat bahagia saat mendapatkan susu kotak dari tim LDP. Ia berkali-kali menunjukkan kepada ibunya bahwa ia telah menerima hadiah tersebut. Janes Saragih, ibu Narendra, merasa lega melihat anaknya mulai bersikap normal kembali.

Janes mengatakan, sebelum bencana, Narendra adalah anak yang aktif dan ceria. Namun, setelah bencana, ia hanya diam selama 17 hari di area pengungsian. Selama waktu itu, ia hanya dekat dengan ibunya dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain.

Saya cukup khawatir, tapi sekarang saya merasa lega karena anak saya akhirnya mulai bahagia, ujar Janes. Ia juga mengungkapkan bahwa anaknya sempat shock dan menangis beberapa hari setelah bencana.

Janes menceritakan bahwa saat banjir terjadi, ia dan anaknya harus menyelamatkan diri sendiri bersama tetangga. Kondisi rumah kami terendam banjir, semua baju habis. Kami evakuasi diri sendiri ke sini karena ayahnya sedang bekerja di luar kota, jelasnya.

Di hari pertama, mereka sempat terjebak di rumah tetangga yang memiliki lantai dua. Mereka bermalam di sana dan baru pagi hari pergi ke Gor Pandan. Saat itu, mereka hanya membawa baju di badan dan sempat tidak makan semalaman.

Saat ini, Janes belum bisa pulang ke rumahnya karena air masih tinggi. Ia dan anaknya terpaksa tinggal di Gor Pandan hingga air surut. Kami sampai hari ini masih di sini. Pampers tidak pernah kebagian, jadi setiap hari nyuci. Baju anak cuma 3 helai, pemberian bantuan. Tapi yang paling berharga adalah melihat anak kembali tersenyum, tutupnya.

Berbagai Aktivitas dalam Terapi Psikososial

Terapi psikososial yang dilakukan oleh tim LDP mencakup berbagai kegiatan seperti bernyanyi dan bermain games. Aktivitas ini membuat posko lebih hidup dan memberikan suasana yang lebih ceria bagi para penyintas.

Udara yang sebelumnya terasa sesak karena duka mulai berganti dengan tawa riang dari anak-anak. Meski sebagian dari mereka kehilangan atap tempat berteduh dan harus merelakan orang-orang tercinta, binar di mata mereka menjadi tanda bahwa kehidupan mulai pulih di atas puing-puing sisa bencana.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan