Di tengah duka yang terus berlanjut, impian dan harapan warga di beberapa kawasan Aceh yang terkena dampak parah dari bencana alam seperti banjir dan longsor mulai menghilang. Malam tahun baru 2026 menjadi momen penuh frustasi dan putus asa bagi mereka yang harus menghadapi masa depan yang tidak jelas. Berikut adalah kisah tiga penyintas yang tinggal di Aceh Utara dan Aceh Tamiang.
Duka yang Masih Terasa
Awal tahun 2026 masih menjadi masa duka bagi para penyintas banjir dan longsor di Aceh Utara. Rencana dan impian mereka hilang bersama derasnya air dan timpaan kayu gelondongan. Mereka adalah warga Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Hingga kini, mereka masih bertahan di bawah selembar terpal yang didukung oleh sebilah kayu tanpa dinding. Di malam hari, mereka harus menghadapi udara dingin, sementara di siang hari, panas dan debu jalanan mengganggu kehidupan mereka.
Mulyawati (35), salah satu korban banjir, mengatakan bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian lebih kepada masyarakat Aceh, terutama para korban bencana. Ia menyampaikan hal ini berulang kali karena segala sesuatu yang dimiliki oleh keluarganya telah hilang akibat banjir—termasuk rencana dan impian untuk tahun 2026. "Kami tidak tahu cara mencari rezeki, karena lahan dan kebun sudah tidak ada lagi," ujarnya dengan nada getir. Sampai saat ini, dia dan keluarganya masih bertahan di bawah tenda hingga batas waktu yang belum diketahui.
Bantuan yang Minim dan Kekecewaan
Dari pantauan wartawan, terdapat ratusan tenda terpal yang dibangun sendiri oleh para korban. Lokasi mereka tersebar di beberapa titik, termasuk di tengah kebun kelapa sawit, pinggir jalanan, dan di samping bantaran sungai. Saiful, Imam Desa Geudumbak, mengatakan bahwa dulu banyak rumah di sana, tetapi sekarang hanya tersisa lima buah rumah. "Kami 310 orang tidak makan, baru hari ke 10 dapat bantuan dari swadaya masyarakat," kata Saiful sambil menunjuk musala tempat mereka selamat dari banjir. Ia mempertanyakan ketidakhadiran pemerintah dalam membantu korban banjir di Aceh dan Sumatra, serta menuntut agar pemerintah segera memindahkan gelondongan kayu dan memperbaiki rumah-rumah yang rusak.
Relawan Berjuang Melawan Kelaparan
Pujo Waluyo (41), seorang relawan, mengatakan bahwa banyak orang bertahan di atas pohon kelapa sawit selama berhari-hari dengan kondisi basah dan tanpa makanan. "Kami galang donasi untuk beli beras, mempertahankan yang masih hidup," ujar Pujo. Ia menuntut agar pemerintah segera merelokasi korban dari lokasi bencana karena mereka tinggal di tenda-tenda yang rentan diterjang banjir susulan. Ia juga mengaitkan banjir dan longsor dengan perusakan lingkungan yang masif.
Kesedihan di Aceh Tamiang
Di Aceh Tamiang, warga masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar setelah banjir dan longsor menghancurkan daerah tersebut. Mesra Rajagukguk (53) mengatakan bahwa tahun 2025 merupakan tahun yang paling pedih karena semua barang mereka hilang. Ia juga kehilangan pasangan hidup tepat 24 hari sebelum bencana terjadi. "Ya mau kayak mana kita bilang, kita enggak punya apa-apa," ujarnya dengan nada sedih. Keluarga Mesra kini bergantung pada uluran tangan dermawan dan hanya makan nasi dengan garam.
Nasib Serupa di Aceh Tamiang
Sahat Sitohang (55), seorang pedagang sayur, mengatakan bahwa ini adalah malam pergantian tahun paling menyedihkan. Istrinya meninggal dunia pada tahun lalu, dan sejak itu ia tinggal berdua bersama anaknya. "Banjir semua. Habis semua," ujar Leo, anak Sahat. Aceh Tamiang termasuk kabupaten yang mengalami dampak terparah dari bencana ini. Hingga 31 Desember 2025, BNPB mencatat jumlah warga yang ditemukan meninggal dunia mencapai 101 orang, dan 114,9 ribu orang terpaksa mengungsi.
Trauma yang Masih Menghantui
Penyintas banjir di Aceh Tengah masih trauma dengan hujan dan petir. Mereka masih merasa ketakutan meskipun telah melewati tahun baru. Sementara itu, warga Adiankoting Sumut juga mengalami kesulitan yang sama. Di Aceh Tengah, penyintas banjir menggunakan kayu gelondongan sebagai perahu. Kesaksian dari kaum muda Kampung Serule menunjukkan bagaimana mereka berhasil menyelamatkan warga dari kelaparan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar