Harga Cabai Mahal di Semarang, Pemkot Sebut Rantai Pasok Jadi Penyebab

Kenaikan Harga Cabai di Kota Semarang Membuat Warga Kerepotan

Di tengah menjelang Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, warga Kota Semarang, Jawa Tengah, mengeluhkan kenaikan harga cabai yang cukup signifikan. Beberapa hari terakhir ini, harga cabai rawit mencapai Rp 90.000 per kilogram. Hal ini membuat masyarakat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seorang warga mengungkapkan bahwa hanya dengan uang Rp 5.000, ia bisa mendapatkan 6 biji cabai saja. Keadaan ini membuat banyak ibu rumah tangga harus mengurangi jumlah belanja bumbu dapur mereka. "Beli Rp 5.000 hanya dapat 6 lonjor cabai," kata salah satu warga Ngaliyan, Wulandari, saat dikonfirmasi.

Menurut Wulandari, kenaikan harga cabai sudah terjadi sejak seminggu lalu. Ia mengatakan bahwa kini ia tidak berani membeli cabai dalam jumlah besar. Untuk membuat sambal, ia lebih memilih menggunakan tomat meski rasanya tidak sepedas biasanya. "Sudah terbiasa lalapan dengan cabai. Mau bagaimana lagi," tambahnya.

Hal serupa juga dialami oleh Risma, warga Ngaliyan lainnya. Ia menyampaikan bahwa kenaikan harga cabai membuatnya harus mengurangi penggunaan bumbu dapur. "Kalau harga makin naik begini, mau enggak mau saya kurangi cabainya. Rasa masakan jadi beda," ujarnya.

Pemerintah Kota Semarang Berupaya Menekan Harga Cabai

Pemerintah Kota Semarang telah mengambil langkah untuk menekan harga cabai yang mahal. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, menyatakan bahwa pihaknya telah membentuk satgas pangan untuk memantau harga dan ketersediaan barang.

"Untuk pantau harga dan ketersediaan barang," kata Endang saat dikonfirmasi. Menurutnya, harga cabai yang di atas Rp 80.000 per kilogram bukan berasal langsung dari petani, melainkan melalui sub penjual yang lain. "Kalau sampai Rp 80.000 berarti dia dapat barang dengan rantai pasokan barang lebih dari 3 kali, maka harganya jadi mahal," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan mobil pangan dengan nama Pak Rahman dan Kampling Semar untuk menekan harga komoditas yang mahal. "Mobil pangan ada 8 yang keliling secara terjadwal," ungkap Endang.

Pedagang Menghadapi Kesulitan Akibat Kenaikan Harga

Pedagang sayur keliling di Perumahan Palir Semarang, Retno, tak membantah bahwa harga cabai saat ini naik cukup tinggi. "Untuk cabai rawit Rp 100.000 per kilogram," ujarnya. Menurutnya, harga cabai sudah mulai naik sejak dari petani. Oleh karena itu, ia terpaksa ikut menaikkan harga agar tidak rugi meski banyak diprotes pelanggan.

"Serba salah sekarang. Naik semua, kalau tak dinaikkan rugi, tapi banyak diprotes pembeli," keluhnya.

Sementara itu, pedagang Pasar Mijen Semarang, Salsa, mengatakan bahwa kenaikan harga cabai sudah terjadi sejak seminggu yang lalu. "Cabai rawit tadinya Rp 40.000, sekarang naik jadi Rp 80.000 per kilogram," katanya saat ditemui di lokasi. Dia tak mengetahui secara pasti penyebab harga cabai menjadi mahal. Pasalnya, harga cabai sudah naik sejak dari petani. "Saya tak tahu. Pada naik semua," ujarnya.

Upaya Masyarakat Menghadapi Kenaikan Harga Cabai

Dengan harga cabai yang terus meningkat, masyarakat di Kota Semarang terpaksa mencari alternatif untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan makanan. Banyak dari mereka memilih mengurangi penggunaan cabai atau menggantinya dengan bahan lain seperti tomat.

Namun, hal ini juga berdampak pada rasa masakan. "Rasa masakan jadi beda," ujar Risma. Meskipun demikian, para warga tetap berharap harga cabai bisa kembali stabil sebelum liburan natal dan tahun baru.

Penutup

Kenaikan harga cabai di Kota Semarang menjadi isu yang memperhatikan masyarakat. Dengan adanya upaya dari pemerintah dan pedagang, diharapkan kondisi ini bisa segera pulih. Namun, bagi masyarakat, kenaikan harga cabai tetap menjadi tantangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan