
Kenaikan Harga Cabai di Sulsel Mengkhawatirkan
Menjelang perayaan Hari Natal dan Tahun Baru (Nataru), para pedagang di Sulawesi Selatan mengeluhkan kenaikan harga cabai yang signifikan. Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulsel mencatat bahwa pasokan cabai berkurang sebesar 519 ton. Hal ini membuat harga cabai melonjak, terutama untuk cabai rawit dan cabai besar.
Harga cabai rawit yang sebelumnya hanya Rp 20 ribu per kilogram kini naik menjadi antara Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram. Sementara itu, harga cabai besar juga meningkat dari Rp 15 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram. Pedagang cabai di Pasar Terong Makassar, Usman, mengatakan bahwa kenaikan harga ini biasanya terjadi ketika pasokan tidak cukup.
Biasa satu atau dua bulan itu kadang turun, kadang naik. Tergantung (pasokan), kalau kurang, naik lagi, ujar Usman.
Selain cabai, pedagang juga mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok lainnya seperti buncis dan wortel. Harga buncis dan wortel yang sebelumnya Rp 5 ribu per kilogram kini naik tiga kali lipat menjadi Rp 15 ribu per kilogram.
Penyebab Kekurangan Stok Cabai
Pelaksana tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulsel, M. Ilyas, menjelaskan bahwa kekurangan stok cabai rawit disebabkan oleh penurunan pasokan sebesar 519 ton. Untuk neraca cabai rawit, kita memang minus 519 ton di Sulsel, jadi ketahanannya memang minus enam hari, jadi stoknya memang kurang, kata Ilyas.
Ilyas juga menyebutkan bahwa pasokan bawang putih menipis sejak Oktober lalu. Dari data yang diperoleh, bawang putih di 24 kabupaten kota mengalami kekurangan sebesar 669 ton.
Dari 24 kabupaten kota, Jeneponto masih memiliki stok cabai yang tinggi sebesar 2.500 ton. Namun, dua kabupaten lainnya yaitu Sidrap dan Tanah Toraja mengalami penurunan pasokan cabai. Meski begitu, kedua daerah tersebut memiliki alternatif lain seperti cabai katokkong.
Pengaruh Musim terhadap Produksi Cabai
Ilyas menjelaskan bahwa pengaruh musim juga berkontribusi pada kekurangan stok cabai. Para petani cabai lebih dulu memanen cabainya sebelum musim hujan tiba. Cabai rawit itu bulan-bulan sebelumnya pasti sudah panen, karena mereka tahu kalau musim hujan itu rusak. Mereka sudah panen mulai September dikumpulkan, ujarnya.
Pihak Dinas Ketahanan Pangan akan melakukan beberapa langkah untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah gerakan pangan murah dan distribusi antar wilayah. Ilyas meminta agar Dinas Ketapang di kabupaten kota menggunakan neraca pangan sebagai acuan untuk mengambil langkah solutif, terutama untuk jenis pangan yang sedang kosong seperti cabai dan bawang putih.
Karena ini permintaan pasti meningkat di Nataru. Saya kira ini di Makassar, kita berharap di daerah lain seperti Jeneponto masih ada panen bulan ini sehingga bisa menambah stok, ujar Ilyas.
Ilyas juga berharap agar para petani dapat memanfaatkan momen permintaan tinggi untuk menjual cabai yang masih tersedia. Mudah-mudahan dengan banyak permintaan, mereka bisa mengambil cabai yang tadi masih ada di petani. Bisa saja mereka menunggu momen permintaan banyak, tambahnya.
Gerakan Pangan Mandiri Serentak
Dalam waktu dekat, Dinas Ketahanan Pangan akan menggelar gerakan pangan mandiri serentak di 24 kabupaten kota pada 23-30 Desember nanti. Kita akan membuat gerakan pangan mandiri serentak, kita akan menyurat segera ke Bupati dan Wali Kota untuk memerintahkan sampai ke level kecamatan mulai tanggal 23-30 Desember untuk antisipasi kenaikan jelang Nataru, pungkas Ilyas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar