Harga minyak jatuh drastis awal tahun, terendah sejak 2020

Harga Minyak Mentah Dunia Mengalami Penurunan di Awal Tahun 2026


Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (2/1) waktu AS, yang menjadi hari pertama transaksi tahun 2026. Kontrak berjangka Brent ditutup turun 10 sen ke level USD 60,75 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 10 sen ke USD 57,32 per barel. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak 2020, dipengaruhi oleh berbagai sentimen pasar.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi harga minyak adalah kekhawatiran investor terhadap pasokan berlebih di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Beberapa isu seperti perang di Ukraina dan tekanan terhadap ekspor minyak Venezuela oleh Amerika Serikat menjadi perhatian utama.

Ketegangan Geopolitik di Eropa Timur

Ketegangan kembali mencuat di Eropa Timur, dengan Presiden AS Donald Trump yang memediasi pembicaraan antara Rusia dan Ukraina. Meski dialog untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun terus diupayakan, kedua negara saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada tahun baru.

Ukraina juga dilaporkan mengintensifkan serangan ke infrastruktur energi Rusia untuk memutus sumber pendanaan Moskow bagi operasi militernya. Hal ini menambah ketegangan di kawasan tersebut.

Tekanan Terhadap Pasokan Minyak Global

Tekanan terhadap pasokan minyak global juga datang dari Amerika Latin. Pemerintahan Trump meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan dan sejumlah kapal tanker yang disebut beroperasi di sektor minyak Venezuela. Meski demikian, Maduro menyatakan negaranya terbuka menerima investasi Amerika Serikat, memperkuat kerja sama pemberantasan narkoba, serta menggelar pembicaraan serius dengan Washington.

Aksi Militer di Venezuela

Terbaru, AS melakukan pengeboman terhadap ibu kota Venezuela, Caracas, Sabtu (3/1) waktu setempat. Di saat yang bersamaan, pasukan elite AS, Delta Force, menangkap Maduro dan istrinya pada Sabtu (3/1) waktu setempat. Meski begitu, harga minyak belum bereaksi hingga aksi tersebut karena sedang libur akhir pekan.

Ketegangan di Timur Tengah

Ketegangan juga meningkat di Timur Tengah. Trump mengancam akan membantu demonstran di Iran jika aparat keamanan menindak keras aksi protes yang telah berlangsung beberapa hari dan dinilai sebagai salah satu ancaman domestik terbesar bagi otoritas Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, krisis antara produsen minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait konflik Yaman kian memburuk setelah penerbangan di Bandara Aden dihentikan.

Pasar Minyak Dinilai Relatif Stabil

Meskipun berbagai risiko geopolitik tersebut mencuat, pasar minyak dinilai relatif tidak bereaksi signifikan. Analis senior Price Futures Group Phil Flynn menilai pasar lebih fokus pada fundamental pasokan.

“Terlepas dari semua kekhawatiran geopolitik ini, pasar minyak terlihat tidak terlalu terpengaruh. Harga minyak terkunci dalam kisaran perdagangan jangka panjang, dan ada perasaan bahwa pasar akan tetap dipenuhi pasokan apa pun yang terjadi,” ujar Flynn.

Persiapan Rapat OPEC+

Pelaku pasar kini menanti rapat OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Mayoritas trader memperkirakan kelompok produsen minyak tersebut akan melanjutkan kebijakan menahan kenaikan produksi pada kuartal pertama 2026. Analis Sparta Commodities June Goh menilai tahun ini akan krusial bagi arah kebijakan pasokan global.


“2026 akan menjadi tahun penting untuk menilai keputusan OPEC+ dalam menyeimbangkan pasokan,” kata Goh, seraya menambahkan bahwa China diperkirakan terus menambah cadangan minyak mentah pada paruh pertama tahun ini, sehingga memberi dasar penopang bagi harga minyak.

Pergerakan Harga Minyak yang Cenderung Datap

Sepanjang 2025, harga Brent dan WTI masing-masing anjlok hampir 20 persen, menjadi penurunan tahunan terdalam sejak 2020. Bagi Brent, ini merupakan tahun ketiga berturut-turut mengalami penurunan, sekaligus menjadi rekor terpanjang sepanjang sejarah.

Analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva menilai pergerakan harga yang cenderung datar mencerminkan tarik-menarik antara sentimen jangka pendek dan fundamental jangka panjang.

“Pergerakan harga yang relatif terbatas mencerminkan pertarungan antara risiko geopolitik jangka pendek dan fundamental pasar jangka panjang yang mengarah pada kelebihan pasokan,” ujarnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan