Harga pangan Bandung rawan naik-turun saat cuaca ekstrem, DKPP ungkap penyebabnya

Harga pangan Bandung rawan naik-turun saat cuaca ekstrem, DKPP ungkap penyebabnya

Kondisi Harga Pangan di Pasar Tradisional Kota Bandung

Harga komoditas pangan di pasar tradisional Kota Bandung sering kali mengalami fluktuasi, terutama ketika cuaca ekstrem terjadi. Hal ini disebabkan oleh penurunan produksi pangan dari daerah-daerah petani yang menjadi sumber pasokan utama. Meski begitu, hingga saat ini stok komoditas pangan di pasar tradisional masih tergolong aman.

Kota Bandung tidak memiliki lahan pertanian yang cukup luas untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. Oleh karena itu, kota ini sangat bergantung pada pasokan dari luar wilayah. Namun, kondisi ini membuat harga pangan rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Ahmad Wahyudin, Analis Ketahanan Pangan Ahli Madya dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem saat ini menjadi peringatan bagi kota yang bukan produsen pangan. Ia menegaskan bahwa DKPP sedang melakukan konsolidasi, khususnya dalam menghadapi liburan Natal dan Tahun Baru.

"Kita mengandalkan pangan dari luar Kota Bandung, ini menjadi warning. Makanya kita sedang berkonsolidasi, terutama bagaimana untuk menghadapi Natal dan Tahun Baru," ujarnya saat ditemui di Kantor DKPP Kota Bandung, Jumat (12/12/2025).

Ahmad menyebutkan bahwa cuaca ekstrem bisa menjadi salah satu pemicu fluktuasi harga pangan. Terlebih, saat menghadapi Nataru, permintaan masyarakat biasanya meningkat drastis. Saat ini, harga pangan sedang naik, dan faktor utamanya adalah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yang membuat permintaan masyarakat meningkat menjelang libur natal dan tahun baru.

"Antisipasi fluktuasi harga pangan terutama komoditas cabai, beras, telur, dan daging sudah disiapkan oleh DKPP Kota Bandung karena kondisi tersebut tentunya sudah diprediksi sejak jauh hari," katanya.

Ia menjelaskan bahwa penurunan produksi pangan di daerah produsen merupakan salah satu penyebab kenaikan harga. Namun, DKPP belum mengetahui secara pasti apa yang menjadi kendala di daerah produsen tersebut.

Pemenuhan kebutuhan beras di Kota Bandung berasal dari beberapa daerah seperti Cianjur, Indramayu, Subang, Garut, Tasikmalaya, dan beberapa wilayah di Jawa Tengah. Sedangkan untuk telur, pasokan berasal dari Blitar.

"Karena Blitar produksi paling banyak kalau produksi yang terdekat, dari Majalaya tapi tonasenya memang jauh dibanding dari Blitar. Saat ini beras aman, untuk harga telur ada sedikit peningkatan karena pengaruh cuaca," ujar Ahmad.

Antisipasi dan Langkah yang Dilakukan

Untuk menghadapi situasi ini, DKPP Kota Bandung telah mempersiapkan berbagai langkah antisipatif. Salah satunya adalah memantau pasokan pangan dari daerah-daerah produsen dan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Selain itu, DKPP juga terus memantau perkembangan cuaca dan memperkirakan potensi dampaknya terhadap produksi pangan.

Selain itu, DKPP juga bekerja sama dengan para pedagang pasar tradisional untuk memastikan stabilitas harga pangan. Dengan adanya koordinasi yang baik antara pemerintah dan pelaku usaha, diharapkan dapat mengurangi risiko fluktuasi harga yang terlalu besar.

Peran Masyarakat dalam Menjaga Stabilitas Harga Pangan

Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga pangan. Dengan memilih produk lokal yang tersedia di pasar tradisional, masyarakat dapat membantu mengurangi tekanan terhadap harga pangan impor. Selain itu, masyarakat juga bisa memperhatikan kebutuhan pangan mereka secara lebih bijak, terutama saat musim liburan atau momen khusus lainnya.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, DKPP Kota Bandung juga rutin melaksanakan sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya ketahanan pangan. Melalui program-program seperti ini, diharapkan masyarakat akan lebih memahami cara menghadapi situasi fluktuasi harga pangan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan