Harga sawit melonjak akibat penurunan ekspor Malaysia

Harga minyak sawit dunia kembali mengalami penurunan dan mencapai level terendah dalam dua minggu terakhir. Penurunan ini disebabkan oleh tekanan dari penurunan harga minyak mentah global serta melemahnya kinerja ekspor Malaysia.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Bloomberg pada Sabtu (3/1), harga kontrak berjangka minyak sawit turun di bawah level MYR 4.000 ringgit per ton, setelah menutup perdagangan Jumat (2/1) dengan penurunan yang signifikan.

Selain itu, tekanan juga datang dari pergerakan minyak kedelai, yang merupakan kompetitor utama minyak sawit di pasar pangan dan bahan bakar. Minyak kedelai ditutup melemah sebesar 1,8 persen pada perdagangan Rabu (31/12) lalu.

Pelemahan harga sawit sejalan dengan kondisi pasar energi global. Harga minyak mentah mencatatkan penurunan tahunan terdalam sejak 2020, karena meningkatnya pasokan global serta ketidakpastian geopolitik. Salah satu contohnya adalah harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang turun sebesar 0,9 persen dan ditutup di level USD 57,42 per barel. Hal ini menandai penurunan sekitar 20 persen sepanjang 2025.

Faktor Pemicu Pelemahan Harga Minyak Sawit

Selain faktor energi, kinerja ekspor Malaysia menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar minyak sawit. Negara produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia tersebut mencatatkan penurunan ekspor sebesar 5 persen secara bulanan menjadi 1,2 juta ton pada Desember, berdasarkan data survei kargo dari AmSpec.

Menurut Gnanasekar Thiagarajan, Kepala Perdagangan dan Strategi Lindung Nilai di Kaleesuwari Intercontinental, lemahnya ekspor memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak sawit. Namun, ia menilai peluang pembelian di harga rendah mulai muncul seiring mendekati periode permintaan musiman.

"Pembelian dengan harga murah di pasar kelapa sawit diperkirakan akan terjadi, karena pembelian selama musim festival dapat menekan harga di bawah 4.000 ringgit per ton," ujar Gnanasekar.

Dia melanjutkan, permintaan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan pada Februari 2026 berpotensi mendorong harga minyak sawit kembali menguat setelah tekanan yang terjadi.

Prediksi Perkembangan Harga Minyak Sawit

Meskipun saat ini harga minyak sawit sedang melemah, para analis memperkirakan bahwa ada potensi pemulihan di masa depan. Dengan adanya permintaan musiman yang tinggi, harga minyak sawit bisa kembali naik.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi perkembangan harga minyak sawit antara lain:

  • Permintaan musiman: Musim festival seperti Tahun Baru Imlek dan Ramadan biasanya meningkatkan permintaan akan minyak sawit.
  • Pergerakan harga minyak mentah: Harga minyak mentah global memiliki dampak besar terhadap harga minyak sawit.
  • Kinerja ekspor: Kinerja ekspor Malaysia dan negara-negara lain yang terkait dengan minyak sawit juga menjadi indikator penting.
  • Ketidakpastian geopolitik: Perubahan situasi politik atau ekonomi global dapat memengaruhi pasar komoditas.

Dengan melihat berbagai faktor tersebut, para ahli percaya bahwa harga minyak sawit masih memiliki ruang untuk pulih dalam beberapa bulan ke depan. Namun, situasi pasar tetap dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan