Situs Kota Kapur: Jejak Peradaban Maritim Sriwijaya
Situs Kota Kapur di Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menjadi salah satu pusat penting peradaban maritim Kerajaan Sriwijaya. Banyak artefak berharga yang ditemukan di kawasan ini memberikan bukti kuat bahwa wilayah ini tidak hanya sebagai permukiman kuno, tetapi juga menjadi pusat aktivitas keagamaan dan jalur perdagangan internasional pada masa lalu.
Artefak Bersejarah yang Menjadi Bukti
Juru Pelihara Situs Kota Kapur, Ali Akbar, menjelaskan bahwa kawasan situs seluas sekitar 154 hektare ini menyimpan banyak titik bersejarah. Mulai dari struktur candi, benteng tanah, dermaga kuno, hingga lokasi ditemukannya prasasti Kota Kapur—salah satu bukti paling awal kekuasaan Sriwijaya di Pulau Bangka.
Ali Akbar menyebutkan bahwa untuk memudahkan penelitian, setiap titik situs diberi nama sederhana seperti Candi 1, Candi 2, dan Candi 3. Di Candi 3, yang kini tampak sebagai gundukan tanah setinggi lutut, penelitian tahun 2007 mengungkap temuan penting berupa gelang-gelang emas polos. Artefak ini ditemukan tersimpan di dalam lapisan tanah candi, memperkuat hipotesis bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat aktivitas elite pada masa itu.
Meski struktur bangunan di lokasi ini tidak lagi utuh, hasil ekskavasi memastikan bahwa gundukan tersebut merupakan bagian dari konstruksi candi. Saat ini, area Candi 3 dikelilingi perkebunan karet dan jalur setapak yang dilalui warga setiap hari, tanpa banyak yang menyadari bahwa tanah yang mereka pijak pernah menyimpan jejak emas Sriwijaya.
Temuan Mangkuk Keramik di Candi 1
Di Candi 1, sekitar 200 meter dari Candi 3, struktur candi terlihat lebih jelas, termasuk bagian menyerupai anak tangga. Namun yang paling menarik adalah penemuan 62 buah mangkuk keramik berwarna putih kecoklatan yang ditemukan dalam satu area penggalian. Semua mangkuk tersebut berada di kawasan sekitar struktur candi.
Keramik tersebut diteliti lebih lanjut untuk mengidentifikasi periode, asal produksi, dan fungsi dalam ritus keagamaan atau aktivitas masyarakat masa lalu. Seperti halnya Candi 3, seluruh temuan di Candi 1 dilapisi pelindung dan ditimbun kembali untuk memastikan kelestariannya.
Artefak Lain yang Mengungkap Jaringan Perdagangan
Selaras dengan temuan gelang emas dan mangkuk keramik, penelitian Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi sebelumnya juga mengungkap keberadaan fragmen arca, potongan emas, botol kaca kuno, hingga tumpukan keramik China di kawasan situs. Keberadaan artefak emas dan keramik asing ini memperkuat dugaan bahwa Kota Kapur dulu menjadi pusat perputaran barang berharga dalam jalur perdagangan Sriwijaya, serta interaksi dengan jaringan dagang Asia Timur.

Struktur Benteng Tanah dan Fungsinya
Selain artefak, Situs Kota Kapur juga menyimpan struktur besar berupa Benteng Tanah sepanjang sekitar 1,5 kilometer, dengan tinggi 4–5 meter dan ketebalan sekitar 10 meter. Berbeda dengan kawasan candi, benteng ini tidak menyimpan artefak di bagian dalam, menguatkan fungsi utamanya sebagai sistem pertahanan kerajaan dari ancaman perairan Selat Bangka.
“Benteng Tanah ini murni pertahanan. Tidak ditemukan barang-barang seperti di candi,” kata Ali Akbar.
Posisi Strategis dan Pengaruhnya Terhadap Perdagangan
Secara geografis, posisi Kota Kapur sangat strategis. Sungai Mendo yang mengalir di belakang situs menjadi akses langsung ke laut, dan diyakini menjadi jalur kapal-kapal Sriwijaya singgah untuk menghindari perompak atau menunggu cuaca membaik. Kondisi ini menjelaskan mengapa kawasan ini dipenuhi artefak bernilai tinggi, sisa dari perjalanan, transaksi, dan aktivitas elit kerajaan.
Meski kini berada di tengah kebun dan aktivitas masyarakat, kawasan situs relatif aman. Ali Akbar memastikan wilayah ini bebas dari penjarahan atau perusakan.
“Situs ini bukan hanya milik Kota Kapur, tapi milik seluruh bangsa. Harus kita jaga bersama,” tutup Ali Akbar.
Pohon Kampar dan Pentingnya Pelestarian
Diberitakan sebelumnya, sebatang pohon kampar berdiameter sekitar 50 sentimeter ditemukan BPK Wilayah V Jambi di kawasan Situs Kota Kapur, Kecamatan Mendobarat, Bangka. Pohon yang oleh warga disebut pohon kekapur ini diyakini sebagai sumber getah kapur barus, komoditas penting yang dahulu diperdagangkan ke berbagai negara.
Ali Akbar mengatakan pohon tersebut hampir punah akibat penebangan besar-besaran pada 1990-an. Kayu kekapur saat itu digunakan sebagai dinding rumah karena kuat dan mudah diperoleh. “Sekarang sangat jarang. Tahun ini saya hanya menemukan satu pohon, ukurannya sebesar tiang listrik,” ujarnya.
Pohon kekapur tumbuh liar di hutan dan tidak pernah dibudidayakan masyarakat. Ketika penebangan meningkat, regenerasinya tak mampu mengimbangi eksploitasi. “Kalau dibilang punah, ya hampir punah. Sekarang sulit sekali ditemukan,” katanya.
Ketua BPK Wilayah V Jambi, Agus Widiatmoko, menyebut penemuan pohon kampar memperkuat jejak Kota Kapur sebagai penghasil kapur barus dunia pada masa lampau. Ia menegaskan perlunya pelestarian karena pohon yang ditemukan hanya satu batang.
Selain pohon langka itu, tim BPK juga menemukan berbagai artefak penting di kawasan seluas 154 hektare tersebut, mulai dari arca, keramik China, botol kaca, hingga potongan emas dan uang emas. Temuan ini memperkuat bukti bahwa Kota Kapur pernah menjadi pusat permukiman, perdagangan, dan pertahanan maritim yang terhubung dengan jaringan Sriwijaya.
Sebagian kawasan situs kini berubah fungsi menjadi lahan tambang dan perkebunan sehingga berpotensi merusak struktur cagar budaya. “Revitalisasi bersama pemerintah daerah mutlak dibutuhkan agar jejak kejayaan ini tidak hilang,” kata Agus.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar