Hentikan normalisasi bencana, banjir siklon bisa dicegah dengan ilmu pengetahuan

Pendekatan Ilmiah dalam Menghadapi Bencana Alam

Bagus Muljadi, seorang pakar lingkungan yang juga menjadi asisten profesor di University of Nottingham, Inggris, menyoroti pentingnya pendekatan ilmiah dalam menghadapi bencana alam. Ia meminta masyarakat Indonesia untuk lebih berpikir jernih terkait peristiwa bencana yang baru saja menimpa Sumatera.

Dalam sebuah postingan Instagram yang diunggah pada Selasa (2/12/2025), Bagus menyampaikan pertanyaan yang menarik perhatian: Mengapa kita tidak menggunakan ilmu pengetahuan untuk membereskan kekacauan ini?

Menurutnya, saat situasi genting seperti ini, masyarakat cenderung terpengaruh oleh tindakan populis dan restoratif, bukan pencegahan. Hal ini menyebabkan bencana dinormalisasi sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Pertanyaan Sederhana dengan Jawaban Kompleks

Bagus memberikan contoh tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat digunakan dalam menyikapi bencana melalui satu pertanyaan riset yang menurutnya sederhana, tetapi belum pernah ada jawabannya. Pertanyaannya adalah:

Untuk tanah dengan kemiringan tertentu, berapa banyak pohon, berikut jenis dan pola penanamannya, yang dibutuhkan agar tegangan geser banjir bandang dapat ditahan oleh tanah yang diperkuat oleh jaringan akar?

Ia menegaskan bahwa untuk menjawab pertanyaan ini, disiplin ilmu hidrologi, ekologi, dan mekanika tanah harus digabungkan dalam satu sistem. Sinergi antara ahli ekologi, matematikawan, insinyur sipil, serta ahli citra satelit sangat penting dalam proses pencarian jawaban.

Pendekatan Multidisiplin dalam Penelitian

Bagus menjelaskan kemungkinan jalur riset yang dapat digunakan dalam mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Menurutnya, tekanan geser hidrolik (akibat hujan deras) dapat dihitung dari Shallow Water Equations. Aliran bawah permukaan dapat dihitung menggunakan persamaan Boussinesq, sementara deformasi tanah tropis dapat dijelaskan melalui kerangka poroelastisitas Biot.

Dengan pendekatan ini, Bagus menunjukkan bahwa penguatan tanah oleh akar bisa dihitung lewat Mohr-Coulomb Failure Criterion dengan tambahan "root cohesion" term. Di sinilah jumlah pohon masuk sebagai variabel desain, bukan sekadar dekorasi.

Penerapan Kerangka Riset dalam Penelitian Sebelumnya

Menurut Bagus, kerangka riset seperti ini telah diterapkan dalam penelitian terdahulu. Artinya, beban maksimal yang harus ditahan tanah bisa dihitung, dan jawaban atas berapa banyak pohon bukan lagi opini, melainkan hasil simulasi.

Peran Pemerintah dalam Pencegahan Bencana

Bagus menyoroti langkah-langkah yang seharusnya diambil oleh pemerintah, yaitu memberi prioritas pada riset pencegahan bencana alam seperti yang terjadi di Sumatera. Ia menegaskan bahwa tanpa upaya ini, masyarakat hanya akan terus hidup dari satu restorasi ke restorasi berikutnya.

Kesimpulan

Dengan pendekatan ilmiah dan kolaborasi lintas disiplin, masyarakat dapat lebih siap menghadapi bencana alam. Bagus Muljadi menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar responsif setelah bencana terjadi. Dengan demikian, kebijakan pencegahan akan lebih efektif dalam mengurangi risiko bencana di masa depan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan