
Pengantar
Ketika keluar pintu kedatangan Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar Bali, saya tersenyum sendiri membaca iklan dari Traveloka berbunyi "Namanya juga hidup kadang di atas, kadang di Bali". Sebuah kreativitas bernada persuasif iklan promosi. Kita bergeser ke pepatah "hidup ini ibarat roda yang selalu berputar" sering dianggap klise—ucapan basi yang dilontarkan saat seseorang sedang terpuruk atau sedang di puncak kesuksesan. Namun, di balik kesederhanaannya, terkandung kebenaran eksistensial yang mendalam: segala sesuatu bersifat sementara. Kekuasaan, kekayaan, popularitas, bahkan penderitaan—semuanya datang dan pergi. Yang hari ini di atas, esok bisa saja di bawah. Dan yang kini terpuruk, suatu hari bisa bangkit kembali.
Pepatah ini bukan hanya hiburan bagi yang sedang jatuh, tapi juga peringatan bagi yang sedang di puncak. Sayangnya, banyak orang lupa akan sifat sementara ini. Mereka yang sedang berjaya sering terbuai oleh ilusi keabadian—seolah-olah jabatan, uang, atau ketenaran mereka tak akan pernah pudar. Sebaliknya, mereka yang sedang terpuruk kerap terjebak dalam keputusasaan, seolah pintu kesempatan telah tertutup selamanya. Padahal, roda kehidupan terus berputar—tanpa meminta izin, tanpa memandang siapa kita.
Roda Sejarah: Bukti Nyata Ketidakkekalan Kekuasaan dan Popularitas
Sejarah penuh dengan contoh orang-orang yang dulunya begitu berkuasa, dihormati, dan tak tergoyahkan—namun akhirnya jatuh, dilupakan, atau bahkan dihujat. Lihatlah Raja Louis XVI dari Prancis: hidup dalam kemewahan Versailles, dihormati sebagai wakil Tuhan di bumi—namun berakhir di tiang gantungan selama Revolusi Prancis. Atau di Indonesia, banyak pejabat yang dulu dipuja sebagai "pahlawan rakyat", kini terjerat korupsi dan dijauhi masyarakat.
Popularitas pun tak kekal. Bintang media sosial yang hari ini punya jutaan pengikut bisa lenyap dalam sekejap karena skandal, perubahan algoritma, atau sekadar kebosanan publik. Sebagaimana ditulis oleh filsuf Romawi Seneca dalam Letters to Lucilius:
"Fortuna cepat datang, cepat pergi. Ia tidak pernah memberi, ia hanya meminjamkan."
Dalam perspektif filsafat Stoikisme—yang sangat relevan hingga kini—kemasyhuran, kekayaan, dan kekuasaan adalah externals: hal-hal di luar kendali kita. Yang benar-benar bisa kita kendalikan hanyalah sikap kita terhadapnya. Marcus Aurelius, kaisar sekaligus filsuf Stoik, menulis dalam Meditations:
"Jangan pernah bertindak seolah-olah kamu akan hidup sepuluh ribu tahun. Kematian menghantui kita semua. Sementara kamu hidup—dan mampu—jadilah baik."
Artinya, keberhasilan bukan alasan untuk sombong, dan kegagalan bukan akhir dari segalanya. Keduanya hanyalah fase dalam putaran roda kehidupan.
Kerendahan Hati: Persiapan Terbaik Menghadapi Putaran Roda
Sikap rendah hati (humility) bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan tertinggi. Ia lahir dari kesadaran bahwa semua yang kita miliki—bakat, kekayaan, jabatan, bahkan kesehatan—bukan milik kita selamanya. Mereka adalah anugerah yang bisa diambil kapan saja.
Dalam konteks sosial, kerendahan hati membangun jaringan kepercayaan dan solidaritas. Orang yang sombong saat di puncak sering meremehkan bawahannya, mengabaikan nasihat, dan memutus ikatan empati. Ketika ia jatuh, tak ada yang datang membantu—karena ia sendiri tak pernah membangun hubungan tulus. Sebaliknya, orang yang tetap rendah hati, bahkan saat sukses, akan dikenang sebagai manusia yang baik. Dan ketika ia mengalami masa sulit, banyak yang bersedia menolong—bukan karena kepentingan, tapi karena rasa hormat dan kasih sayang.
Ini bukan sekadar moralisme, tapi juga strategi kehidupan yang cerdas. Seperti diungkapkan oleh psikolog organisasi Adam Grant dalam bukunya Give and Take (2013), orang yang rendah hati dan suka membantu—yang ia sebut givers—sering kali paling sukses dalam jangka panjang, karena mereka membangun modal sosial yang kuat dan berkelanjutan.
Pelajaran dari Kearifan Lokal dan Spiritual
Pepatah "roda kehidupan" juga hadir dalam berbagai kearifan lokal Indonesia. Orang Jawa mengenal konsep "urip iku mung sawang sinawang"—hidup ini saling memandang; yang di atas bisa turun, yang di bawah bisa naik. Dalam tradisi Sunda, ada ungkapan "geulis teuing jadi bagea, cageur teuing jadi bariur"—terlalu sombong karena kecantikan atau keberhasilan justru membawa celaka.
Dalam ajaran agama, pesan ini juga kuat. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)
Yesus pun mengingatkan:
"Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan." (Lukas 14:11)
Ini bukan ancaman, tapi deskripsi realitas: kesombongan mempercepat kejatuhan, sementara kerendahan hati memperkuat fondasi kehidupan.
Penutup: Menari dengan Roda, Bukan Melawannya
Hidup memang seperti roda—tapi kita bukan penumpang pasif. Kita adalah penari yang, dengan kesadaran dan kerendahan hati, bisa menari indah di setiap putarannya.
Kita tak bisa menghentikan roda kehidupan. Tapi kita bisa memilih cara kita menari dengannya. Saat di atas, jangan lupa bersyukur, jangan sombong, dan tetap memperlakukan semua orang dengan martabat. Saat di bawah, jangan putus asa—karena roda akan berputar lagi.
Hidup bukan tentang mempertahankan posisi di puncak, tapi tentang menjaga integritas, empati, dan kerendahan hati di setiap putaran. Karena ketika segalanya berubah—dan pasti berubah—yang tersisa hanyalah siapa diri kita sebenarnya.
Dan di sanalah letak nilai sejati kehidupan: bukan pada seberapa tinggi kita naik, tapi pada seberapa manusiawi kita tetap menjadi, dalam setiap putaran roda.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar