
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan UMKM di Bandung
Ketua Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kota Bandung, Ibrahim Imaduddin Islam, menyoroti pentingnya penyiapan solusi konkret untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada tahun 2026. Ia menilai bahwa tahun 2025 menjadi fase bertahan dan menunggu bagi banyak pelaku usaha akibat ketidakpastian ekonomi global yang masih berdampak langsung terhadap perekonomian nasional.
Ibrahim menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025 ini, banyak pengusaha belum berani melakukan ekspansi besar dan lebih memilih bersikap wait and see. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global yang masih memengaruhi iklim usaha di daerah. Menurutnya, tahun ini adalah masa pengamatan terhadap arah ekonomi dan kebijakan yang akan diambil. Meski dinilai sebagai tahun berat, ia menekankan bahwa kuncinya adalah bertahan dan tetap waspada.
Program Pengembangan UMKM yang Sudah Ada
Selama ini, Pemkot Bandung telah memiliki beragam program pengembangan UMKM, mulai dari pelatihan hingga seminar. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana program tersebut mampu menciptakan perputaran uang dalam skala besar dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Ibrahim berharap pada 2026 nanti, Pemkot Bandung fokus memberikan solusi konkret serta membangun inkubasi UMKM yang terintegrasi langsung dengan aktivitas pemerintahan.
Beberapa daerah sudah melibatkan UMKM untuk mendapatkan order langsung dari kegiatan pemerintah. Ini penting karena bisa menciptakan cash flow yang jelas dan menghidupkan UMKM secara nyata.
Tantangan Klasik UMKM
Menurut Ibrahim, tantangan klasik UMKM masih berkutat pada keterbatasan akses tempat usaha. Banyak pelaku usaha yang memiliki produk dan pasar, tetapi terhambat karena tidak mampu menyewa ruko atau ruang usaha. Untuk itu, ia mendorong Pemkot Bandung lebih kreatif, misalnya dengan memberikan insentif pajak bagi pemilik ruko atau bangunan kosong yang disewakan kepada UMKM, serta mengaktivasi aset-aset kosong milik kota untuk dijadikan ruang usaha atau pasar rakyat.
Jika aset kota bisa dihidupkan dan digunakan UMKM, dampaknya bukan hanya ekonomi, tapi juga sosial. Pasar rakyat yang hidup bisa menghidupi masyarakat di sekitarnya.
Penyesuaian Kebijakan untuk Berbagai Tahap Usaha
Di sisi lain, Ibrahim mengingatkan bahwa UMKM tidak bisa diperlakukan secara seragam. Oleh karena itu, kebijakan harus disesuaikan dengan skala dan tahap pertumbuhan usaha. Sebab, ada UMKM yang baru mulai, ada yang tumbuh, dan ada juga yang sudah scale-up.
Sebagai kota jasa dan tujuan wisata, Bandung memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi melalui sektor event. Untuk itu, pihaknya mengapresiasi langkah Pemkot Bandung yang telah merilis Calendar of Event (CoE), tetapi setiap event harus benar-benar terkoneksi dengan dunia usaha.
Pentingnya Sinergi antara Pemerintah dan Pelaku Usaha
Event jangan hanya ramai secara visual, tapi harus langsung melahirkan perputaran uang. UMKM dan pengusaha harus dilibatkan sejak awal. CoE hanya akan efektif jika ada sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku usaha dalam mengorkestrasi informasi agar mudah diakses masyarakat luas. Selain itu, ia mendorong adanya insentif konkret, seperti diskon khusus bagi UMKM sekitar di setiap event besar.
Yang penting orang datang ke Bandung dan ingin balik lagi. Ini soal pengalaman kota. Bukan hanya launching logo, tapi bagaimana Bandung punya signature city experience yang bikin orang kangen.
Potensi Event yang Bisa Jadi Ciri Khas Bandung
Ibrahim menyebutkan bahwa sejumlah potensi event yang bisa menjadi ciri khas Bandung, mulai dari event budaya dan kreatif, hingga olahraga yang saat ini dinilai memiliki potensi paling besar menarik wisatawan.
Pertumbuhan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari akses permodalan. Sehingga Pemkot Bandung didorong berperan sebagai mediator yang mempertemukan pengusaha dengan sumber-sumber pembiayaan, sehingga skala usaha bisa membesar, membuka lapangan kerja, dan memberi dampak ekonomi yang lebih luas.
HIPMI siap berkolaborasi dengan Pemkot Bandung untuk mewujudkan itu.
Persiapan dan Adaptasi untuk Menghadapi Tantangan
Di tengah situasi ekonomi yang masih penuh tantangan, Ibrahim juga mengingatkan para pengusaha agar lebih jeli membaca peluang dan adaptif terhadap perubahan. Sebab, dunia berubah cepat, sehingga pengusaha harus adaptif.
Sebetulnya, kata dia, Pemkot Bandung memiliki energi besar, terutama dari pengusaha muda. Namun, tantangannya kini ada pada bagaimana pemerintah mampu mewadahi dan menstimulus semangat tersebut agar terlibat langsung dalam pembangunan ekonomi kota.
Kalau orkestrasinya tepat, pengusaha muda bisa jadi motor penting ekonomi Bandung.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar