Israel Mengakui Somaliland, Kekhawatiran Muncul di Kawasan
Pada pekan lalu, Israel mengumumkan pengakuan resmi terhadap Somaliland. Keputusan ini menjadikan negara tersebut sebagai yang pertama mengakui kemerdekaan wilayah yang telah memproklamasikan kemerdekaannya sejak tahun 1991. Pengakuan ini langsung memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk kelompok Houthi di Yaman.
Kelompok Houthi Menilai Pengakuan Israel Mengancam Kawasan
Pemimpin pemberontak Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, menyatakan bahwa keputusan Israel berisiko menimbulkan dampak serius. Ia menyebut pengakuan tersebut sebagai tindakan bermusuhan yang tidak hanya mengancam Somalia, tetapi juga kawasan Afrika di sekitarnya, Yaman, Laut Merah, hingga negara-negara di sepanjang kedua pesisir laut itu.
“Kami menganggap kehadiran Israel apa pun di Somaliland sebagai target militer bagi angkatan bersenjata kami, karena itu merupakan agresi terhadap Somalia dan Yemen, serta ancaman terhadap keamanan kawasan,” ujar Abdul-Malik al-Houthi dalam pernyataan yang disebarkan media kelompok tersebut.
Para analis kawasan juga menilai kerja sama Israel dengan Somaliland membuka peluang akses yang lebih luas ke Laut Merah. Akses tersebut dinilai memungkinkan Israel bergerak lebih leluasa dalam melancarkan operasi militer terhadap kelompok Houthi di Yaman.

Somaliland Menjalankan Pemerintahan Mandiri Tanpa Pengakuan Internasional
Selama bertahun-tahun, Somaliland berupaya meraih pengakuan dunia internasional dengan mengandalkan posisinya yang strategis di Teluk Aden. Wilayah ini memiliki mata uang sendiri, paspor resmi, serta angkatan bersenjata independen meskipun belum diakui secara resmi sejak memisahkan diri dari Somalia pada 1991.
Dalam praktiknya, Somaliland mengelola pemerintahan administratif, politik, dan keamanan secara mandiri. Pemerintah Somalia yang berkedudukan di Mogadishu tak berhasil menguasai wilayah tersebut, sementara Somaliland relatif lebih stabil dibandingkan daratan utama Somalia yang kerap diguncang serangan kelompok al-Shabab di ibu kota.
Pemerintah federal Somalia secara tegas menolak mengakui kemerdekaan Somaliland. Mogadishu tetap memandang wilayah utara itu sebagai bagian tak terpisahkan dari negara serta menilai setiap bentuk kerja sama langsung dengan Somaliland sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah nasional.

Pengakuan Israel Menuai Kecaman Internasional Luas
Keputusan Israel segera memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk Uni Afrika (UA), Mesir, Turki, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang beranggotakan enam negara, serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang bermarkas di Arab Saudi, sementara Uni Eropa (UE) menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan Somalia.
Sejak melancarkan operasi militer besar di Gaza pada Oktober 2023, Israel beberapa kali membalas dengan serangan udara ke Yaman atas aksi Houthi yang menargetkan wilayahnya. Kelompok Houthi menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina di Gaza, sehingga menarik perhatian luas selama konflik berlangsung.
Saat ini, Houthi telah menangguhkan aksi militernya sejak gencatan senjata rapuh di Gaza mulai diberlakukan pada Oktober. Sejak kesepakatan itu efektif, belum ada lagi serangan yang diklaim oleh kelompok tersebut.

Reaksi Warga Somalia
Warga Somalia turut mengkritik pengakuan Israel atas Somaliland. Mereka menolak langkah tersebut karena dianggap mengganggu stabilitas wilayah. Pengakuan Israel dianggap sebagai intervensi asing yang bisa memperburuk situasi di kawasan.
Israel dan Somaliland: Pengakuan yang Guncang Stabilitas Arab-Afrika
Houthi Ancam Serang Kehadiran Israel di Somaliland
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar