Hugo Ekitike Menggulingkan Alexander Isak Jadi Striker Utama Liverpool

Perebutan posisi striker utama di Liverpool musim ini telah memunculkan drama yang mengejutkan. Dengan pengangkatan Alexander Isak dengan biaya transfer sebesar £125 juta, banyak orang mengira bahwa posisi No.9 akan menjadi miliknya. Namun, kenyataannya berbeda. Hugo Ekitike, rekrutan yang lebih murah dengan biaya £79 juta dari Eintracht Frankfurt, justru menjadi bintang utama dalam skema serangan Arne Slot.

Performa Ekitike yang Menonjol

Ekitike telah membuktikan dirinya sebagai pemain penting bagi Liverpool. Dalam beberapa pertandingan terakhir, ia mencetak dua gol krusial saat melawan Brighton dan Leeds United. Selain itu, etos kerjanya yang luar biasa dan kemampuannya untuk terlibat dalam permainan membuatnya menjadi idola baru di Anfield. Nyanyian khusus untuknya kini menggema di stadion, menandakan pengakuan suporter atas kontribusinya.

Statistik yang Mengungguli Legenda Klub

Statistik Ekitike musim ini sangat fenomenal. Ia menjadi pemain Liverpool pertama sejak Sadio Mane (musim 2019/20) yang mencapai dua digit gol di semua kompetisi lebih cepat daripada Salah. Dengan 7 gol dari 10 laga starter di Liga Primer, ia masuk dalam jajaran elite start terbaik dalam sejarah klub, hanya kalah satu gol dari Daniel Sturridge (8 gol) dan setara dengan Salah (7 gol).

Lebih impresif lagi adalah efisiensinya di depan gawang. Ekitike mencatatkan rasio gol non-penalti per 90 menit sebesar 0,72. Di antara pemain papan atas yang telah bermain setidaknya 500 menit musim ini, hanya Erling Haaland yang memiliki catatan lebih baik dari angka tersebut. Ini membuktikan bahwa ketajamannya bukan sekadar keberuntungan.

Perbandingan Gaya Bermain Ekitike dan Isak

Perbedaan dampak antara Ekitike dan Isak di lapangan sangat mencolok secara visual maupun statistik. Ekitike adalah tipe penyerang yang memaksakan kehendaknya pada pertandingan; ia aktif menekan, menahan bola, dan berlari di kanal pertahanan lawan. Statistik menunjukkan ia melakukan rata-rata 3,5 take-ons (melewati lawan) per 90 menit, hanya kalah dari Joao Pedro (Chelsea) di antara penyerang tengah liga.

Sebaliknya, Isak terlihat pasif dan cenderung menunggu bola datang kepadanya. Hal ini terlihat jelas saat ia mencetak gol debutnya melawan West Ham, di mana ia hanya menyentuh bola 12 kali dalam 67 menit permainan. Tiga hari kemudian melawan Sunderland, ia hanya mencatatkan 13 sentuhan meski bermain lebih lama, menunjukkan minimnya keterlibatan dalam build-up serangan.

Adaptasi Taktikal dan Chemistry Tim

Aspek taktikal menjadi penentu lain dalam perebutan posisi ini. Percobaan Slot memainkan keduanya bersamaan dalam formasi 4-4-2 (berlian) saat melawan Inter Milan di Liga Champions terbukti gagal total. Ekitike dan Isak tidak saling bertukar satu operan pun, menunjukkan tidak adanya chemistry di antara dua striker mahal tersebut.

Slot kemudian kembali ke formasi 4-2-3-1 saat melawan Brighton, dengan Florian Wirtz sebagai gelandang serang di belakang Ekitike. Hasilnya instan; permainan Liverpool menjadi jauh lebih cair dan berbahaya. Ekitike menunjukkan pemahaman yang baik dengan Wirtz, menciptakan koneksi yang tidak terlihat saat berduet dengan Isak.

Kehadiran Ekitike sebagai Katalisator Permainan

Kehadiran Ekitike di starting XI ternyata berkorelasi langsung dengan hasil positif yang diraih Liverpool. Statistik menunjukkan bahwa The Reds memenangkan 7 dari 10 pertandingan liga di mana Ekitike tampil sejak menit awal. Angka ini turun drastis ketika ia tidak menjadi starter, di mana Liverpool hanya menang satu kali dari enam pertandingan.

Fakta ini menegaskan bahwa Ekitike bukan sekadar pencetak gol, tetapi juga katalisator permainan tim secara keseluruhan. Kehadirannya memberikan energi yang menular kepada rekan-rekannya, membuat sistem pressing Liverpool bekerja lebih efektif dari depan. Ia adalah komponen vital dalam "mesin" Slot.

Masa Depan Lini Depan: Isak dalam Bayang-bayang

Dengan performa yang terus menanjak, Ekitike telah memantapkan dirinya sebagai cahaya utama di lini depan Liverpool. Ia berhasil keluar dari bayang-bayang harga transfer fantastis Isak dan membuktikan bahwa nilai di lapangan lebih penting daripada nilai di atas kertas kontrak. Isak, setidaknya untuk saat ini, harus rela berada di tempat teduh bangku cadangan.

Jadwal pertandingan ke depan memberikan keuntungan bagi Ekitike untuk semakin memperkokoh posisinya. Dengan waktu istirahat satu minggu penuh sebelum menghadapi Tottenham Hotspur dan kemudian Wolverhampton, rotasi pemain tidak terlalu mendesak. Ini adalah kesempatan emas bagi Ekitike untuk terus menambah pundi-pundi golnya.

Situasi ini menjadi peringatan keras bagi Isak. Jika ia tidak segera meningkatkan level kebugaran dan keterlibatannya dalam permainan, ia berisiko menjadi salah satu pembelian mahal yang gagal bersinar di musim debutnya. Tekanan ada padanya untuk membuktikan diri setiap kali diberi menit bermain yang semakin menipis.

Bagi Slot, memiliki dua striker elite adalah masalah yang menyenangkan, namun hierarki saat ini sudah jelas. Ekitike adalah Striker No. 1 Liverpool. Ia telah menjawab tantangan dengan gol, kerja keras, dan statistik yang tak terbantahkan, memimpin revolusi lini serang baru di Anfield.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan