Huntara III di Desa Konga Mulai Terungkap

Huntara III di Desa Konga Mulai Terungkap

Kondisi Penyintas di Hunian Sementara yang Tidak Aman

Penyintas korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kini hidup dalam ketidaknyamanan dan ketakaman di Hunian Sementara (Huntara) III. Mereka tinggal di lokasi yang seharusnya menjadi tempat aman, namun justru menghadapi berbagai tantangan dari bencana alam yang terus menerus terjadi.

Sejak mengungsi dari letusan gunung tersebut, penyintas telah dua kali mengalami banjir yang menggenangi tempat tinggal mereka hingga menghancurkan perabot rumah tangga. Hal ini membuat kehidupan mereka semakin sulit. Pada Sabtu (3/1/2026), siang hari, angin yang tidak terlalu kencang justru menyebabkan atap Huntara III terbongkar.

Konstruksi atap yang tidak kuat akhirnya tidak mampu menahan tekanan angin, sehingga atap tersebut terlepas. Kejadian ini terjadi di sebuah rumah warga Dusun Wolorona, Desa Hokeng Jaya. Saat musim hujan seperti saat ini, para penghuni kamar tersebut tidak bisa lagi menempati ruangan tersebut karena atap yang terbuka.

"Yang menempati ada tiga orang, KK (kepala keluarga) atas nama Faros Wangge, jumlah jiwa di kamar itu ada tiga orang," ujar salah satu penyintas, Trisno Riyanton.

Sejak bencana susulan terjadi, kondisi di Huntara III semakin memburuk. Para penyintas merasa tidak nyaman dan akhirnya memberi julukan "Hunian Tambah Sengsara" untuk menyebut Huntara III. Menurut Trisno, hal ini merupakan bencana di atas bencana.

Pembangunan Huntara III sudah selesai beberapa pekan lalu, namun masih menyisakan banyak masalah. Banyak rumah yang sering terkena banjir dan diterjang longsoran tanah. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi bangunan belum sepenuhnya memadai untuk melindungi para penyintas dari ancaman bencana alam.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Flores Timur, Fredy Moat Aeng, belum memberikan respons terkait peristiwa ini. Masih ada pertanyaan besar mengenai bagaimana pemerintah daerah dapat memastikan keamanan dan kenyamanan bagi para penyintas di Hunian Sementara.

Masalah yang Terus Berulang

  • Banjir yang berulang: Penyintas mengalami banjir dua kali dalam waktu singkat. Banjir tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan tetapi juga merusak barang-barang penting.
  • Angin yang menghancurkan atap: Meski angin tidak terlalu kencang, konstruksi atap tidak cukup kuat untuk menahan tekanannya.
  • Kondisi hunian yang tidak memadai: Meskipun pembangunan sudah selesai, masih banyak masalah yang muncul seperti banjir dan longsoran tanah.
  • Perasaan tidak aman: Penyintas merasa tidak aman dan nyaman di tempat tinggal sementara mereka.

Harapan untuk Perbaikan

Para penyintas berharap pemerintah dan lembaga terkait dapat segera melakukan perbaikan pada infrastruktur Hunian Sementara. Mereka juga berharap agar bantuan dan perlindungan yang diberikan lebih efektif dan berkelanjutan.

Dengan kondisi seperti ini, sangat penting bagi pemerintah untuk segera menangani masalah-masalah yang terjadi. Penyintas tidak boleh terus-menerus hidup dalam ketidaknyamanan dan ketakaman akibat bencana alam yang terus berulang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan