
Gen Z dan Kebutuhan untuk Terlihat Sukses
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak dari kita pernah merasa seperti sedang berada di sebuah galeri prestasi. Dari unggahan tentang kehidupan sehari-hari yang sempurna hingga kisah sukses yang terasa menginspirasi, hal ini menjadi bagian dari rutinitas kita dalam menjelajahi media sosial. Namun, bagi Generasi Z (Gen Z), tren ini bukan hanya sekadar "flex" atau pamer, melainkan cara mereka menunjukkan kontrol atas hidup mereka sendiri.
Dari wawancara dengan tiga narasumber Gen Z—Azahra, Jeje, dan Fawwaz—terungkap bahwa alasan mengapa mereka ingin terlihat sukses adalah campuran antara kebutuhan, ambisi, dan tekanan sistemik yang sering kali tidak terlihat. Bagi mereka, sukses bukan hanya tentang uang atau jabatan, tetapi lebih pada kemampuan untuk mengendalikan hidup sendiri, baik itu waktu, energi, maupun pilihan kerja.
Definisi Sukses yang Berbeda-Beda
Muhammad Fawwaz (22) menjelaskan bahwa sukses bagi dirinya adalah kemampuan untuk mengendalikan hidup. Sementara Diajeng alias Jeje (22) menambahkan bahwa sukses berarti kontrol dan konsistensi, yang bisa terlihat dari target finansial yang berhasil dicapai melalui tabungan rutin. Azahra (22) memiliki perspektif yang lebih mikro, yaitu sukses sebagai rangkaian target kecil yang tercapai, seperti bangun pagi tepat waktu.
Jadi, bagi banyak Gen Z, sukses bukan hanya soal angka saldo rekening, tetapi lebih pada progres yang nyata, yang dikenal sebagai "micro-wins".
Motivasi Hustle yang Campur Aduk
Motivasi untuk bekerja keras (hustle) juga bervariasi. Ketika ditanya apakah kebutuhan ekonomi atau keinginan validasi lebih dominan, Azahra menempatkan dirinya di tengah. Meski masih didukung oleh keluarga, dia merasa perlu bersiap untuk mapan secara finansial setelah lulus. Jeje mengakui bahwa ambisinya didorong oleh keinginan untuk independensi, meskipun faktor ekonomi tetap kuat. Fawwaz, yang sudah hidup mandiri, sering mengambil proyek demi biaya hidup dan safety net sebagai anak muda.
Intinya, hustle sering lahir dari kebutuhan nyata sekaligus ambisi untuk punya pilihan, sehingga banyak dari kita memilih mulai lebih awal demi keunggulan kompetitif ketika lulus.
Kehidupan Multi-Role dan Risiko Burnout
Realitasnya, banyak Gen Z memegang banyak peran sekaligus. Jeje, misalnya, bekerja sebagai social media specialist selama 40 jam per minggu sambil menyelesaikan skripsi yang memakan 15-20 jam per minggu, total jamnya mendekati 58-65 jam. Fawwaz juga juggling antara peran sebagai trainer, project manager, dan kuliah, dengan total jam kerja 45-55 jam per minggu. Azahra lebih berusaha menyeimbangkan freelance editing-nya sekitar 8-12 jam per minggu dengan tuntutan skripsi dan kegiatan kampus.
Kehidupan multi-role ini membuat kita kelihatan produktif, tetapi juga meningkatkan risiko burnout. Di sini, media sosial memainkan peran besar dalam bagaimana Gen Z menata citra sukses. Semua narasumber sepakat bahwa media sosial adalah "shop window" yang penting untuk reputasi dan peluang kerja. Namun, yang ditampilkan seringkali adalah versi terbaik, bukan kehidupan sebenarnya.
Membangun Citra Sukses dengan Bijak
Jeje jarang mengunggah hari-hari kacau dan memilih menyimpan sisi rapuh untuk lingkaran terdekat. Fawwaz sering memposting video training yang rapi tanpa menampilkan proses begadang sampai jam 3 pagi. Azahra mengunggah dokumentasi magang bukan sekadar untuk pamer, tetapi untuk berbagi informasi, meski dia sadar publik bisa menafsirkan itu sebagai validasi dan pamer.
Burnout bukan mitos, itu nyata dan berulang. Jika kalian bangun tidur tetap merasa lelah, mood datar, kerja berubah jadi autopilot, dan cenderung menarik diri dari relasi, tandanya kalian lagi burnout. Cara pulih menurut tiga teman Gen Z yang menurutnya efektif ternyata sesederhana tidur cukup, detoks media sosial, journaling, dan curhat pada satu orang yang dipercaya.
Solusi dari Instansi dan Brand
Hustle sering kali bukan sebuah pilihan melainkan kebutuhan, tekanan ekonomi, tanggung jawab keluarga, hingga aturan kampus yang memaksa Gen Z bekerja ekstra. Azahra ingat betul tugas kampus dan kegiatan asrama yang bikin begadang, bukan karena mau, tapi karena sistem. Fawwaz sempat menyoroti perannya lebih besar karena early-career trust sering dinilai dari tampilan, bukan proses.
Dari perspektif kebijakan, para Gen Z setuju bahwa solusi harus datang dari instansi dan brand. Jika instansi menuntut banyak skill, kompensasi harus sepadan. Magang perlu dibayar, kontrak harus transparan, dan sistem kerja harus menjunjung waktu istirahat. “Kalau mau minta skill banyak, ya bayar yang bener,” ujar Jeje.
Tips untuk Gen Z
Desain kerja yang human-friendly, jam fleksibel, target jelas, mentorship, dan penghargaan yang adil, akan mengurangi normalisasi hustle 24/7. Untuk teman-teman Gen Z, jika kalian ingin terlihat sukses itu manusiawi, tapi lakukan dengan cerdas, pakai media sosial sebagai portofolio, tetapkan batas, dan hustle smart, bukan hustle hard.
Ambil satu hal kecil dari tulisan ini dan coba praktikkan sekarang juga untuk set alarm dan tidur lebih awal. Katanya Gen-Z nggak suka baca, apalagi soal masalah yang rumit. Lewat artikel ini, kami mencoba bikin kamu paham dengan bahasa yang mudah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar