Ibu, ASI, dan Bencana

Bencana di Indonesia pada Akhir Tahun 2025

Pada akhir tahun 2025, Indonesia kembali dihantam oleh berbagai bencana alam yang menimbulkan dampak besar. Erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur yang sebelumnya sudah mereda, disusul dengan banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi sekaligus, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik dalam hal korban jiwa maupun pengungsian.

Berdasarkan laporan terbaru, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor mencapai 464 orang. Proses evakuasi yang dilakukan menggunakan alat berat telah mempercepat penanganan korban. Sementara itu, total pengungsi dari ketiga provinsi tersebut tercatat sebanyak 1,1 juta orang per tanggal 1 Desember 2025.

Kelompok Rentan yang Terabaikan

Dalam situasi krisis seperti ini, kelompok yang sering kali terabaikan adalah ibu hamil dan ibu menyusui. Mereka memiliki kebutuhan khusus yang tidak hanya berkaitan dengan keselamatan fisik, tetapi juga kesehatan reproduksi, nutrisi, serta dukungan psikologis. Namun, dalam kondisi darurat, mereka sering kali menjadi prioritas terbawah karena fokus utama biasanya tertuju pada penyelamatan anak dan keluarga.

Beberapa hak yang seharusnya diberikan kepada ibu hamil dan menyusui antara lain:

  • Prioritas evakuasi dan keselamatan.
  • Pelayanan kesehatan reproduksi dan maternal yang lengkap dan aman.
  • Akses nutrisi dan suplai khusus untuk kehamilan dan menyusui.
  • Perlindungan dari kekerasan dan keamanan di tenda pengungsian.
  • Privasi, fasilitas sanitasi khusus, dan ruang ramah ibu-anak.
  • Dukungan psikososial.
  • Informasi kesehatan yang akurat dan mudah diakses.

Pentingnya ASI dalam Situasi Darurat

Meskipun beberapa poin di atas sudah mencakup perlindungan terhadap ibu menyusui, ada satu aspek yang sering kali terlewat, yaitu hak untuk memberikan ASI secara eksklusif. Ibu dengan bayi berusia 0-6 bulan berhak memberikan ASI eksklusif, sedangkan ibu dengan anak usia 6-24 bulan berhak memberikan ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI) sesuai dengan usia anaknya.

Namun, dalam praktiknya, akses nutrisi khusus untuk mendukung produksi ASI masih jarang tersedia. Bantuan makanan umumnya berupa makanan instan atau minuman dalam kemasan, sementara suplemen pemicu ASI jarang diberikan. Kondisi ini semakin memperparah tekanan psikososial yang dialami para ibu, terutama di pengungsian yang kurang privasi dan fasilitas sanitasi yang memadai.

Solusi yang Perlu Diterapkan

Akibat dari kondisi-kondisi ini, produksi ASI bisa saja berkurang atau bahkan berhenti. Hal ini membuat bayi menjadi rewel, dan banyak ibu mengambil jalan pintas dengan memberikan susu formula atau air putih biasa. Padahal, jika suplemen pemicu ASI diberikan secara teratur, hasilnya bisa sangat signifikan dalam memulihkan produksi ASI.

Suplemen tersebut biasanya berbahan herbal alami Indonesia, sehingga aman digunakan. Lebih ideal lagi, jika dalam tim medis atau relawan yang membantu pengungsi terdapat konselor laktasi, mereka akan dapat membantu para ibu memulihkan produksi ASI yang sempat terhenti.

Kesimpulan

Bencana mungkin datang tanpa peringatan, tetapi perlindungan bagi kelompok rentan tidak boleh datang terlambat. Dengan memastikan keberlanjutan pemenuhan ASI, kita bisa menjaga kesehatan dan masa depan generasi penerus bangsa. Mari kita bantu keberlangsungan pemenuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan, terutama bagi para ibu yang masih tegar menyusui bayinya di tengah-tengah bencana.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan