Ibu disabilitas sukses kuliahkan dua anak lewat jual kerupuk dan pijat

Kisah Perjuangan Baiq Hadijah, Seorang Penyandang Disabilitas yang Sukses Menyekolahkan Dua Anak di Universitas

Baiq Hadijah (45), seorang penyandang disabilitas fisik di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi contoh nyata kekuatan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan hidup. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia berhasil menyekolahkan dua anaknya hingga meraih gelar sarjana di universitas negeri. Perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan, tetapi juga penuh harapan dan motivasi.

Perjalanan Awal: Bekerja Keras untuk Mengubah Nasib Keluarga

Hadijah tidak pernah menyerah meski hidupnya penuh rintangan. Ia menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dari mulai menjadi pembantu rumah tangga, berjualan kerupuk di pasar, hingga membuka usaha pijat refleksi, ia terus berusaha. Bahkan, ia pernah menjual cincin mas kawin saat tabungan habis akibat pandemi COVID-19. Uang hasil penjualan itu digunakan untuk biaya kuliah anaknya di Padang.

“Saya pernah jadi PRT dari rumah ke rumah, nyuci baju, menyapu, menyetrika, dan lain-lain,” ujarnya. “Tapi masih ada yang bilang apakah hasil pekerjaannya bersih?” Meski begitu, ia tidak pernah menyerah. Setiap pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat dan kepercayaan diri.

Dua Anak yang Berhasil Meraih Gelar Sarjana

Anak pertama Hadijah telah lulus dari Universitas Andalas Padang dan kini bekerja sebagai pegawai tetap di PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Sedangkan anak kedua sedang menempuh pendidikan di Universitas Mataram. Kedua anak tersebut tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka harus bekerja keras seperti orang tua mereka.

“Kami penyandang disabilitas mampu sekolahkan anak sampai S1 di universitas negeri,” katanya dengan bangga. Ia juga menambahkan bahwa anak-anaknya memiliki jiwa pengabdian sebagai pekerja dan aktivis. Anak laki-laki menyukai teknik dan permesinan, sementara anak perempuan memiliki kemampuan sebagai juru bahasa isyarat dan sering bekerja sama dengan pemerintah serta NGO.

Menghadapi Diskriminasi dan Perundungan

Perjuangan Hadijah tidak mudah. Ia sering mengalami diskriminasi dari berbagai pihak, termasuk dalam akses ke pekerjaan yang layak. Namun, hal itu justru menjadi motivasi baginya untuk terus berjuang.

“Mungkin orang tak percaya, kami bisa dapatkan diskriminasi dari apapun. Pekerjaan misalnya, kami tidak setara. Tapi itu menjadi motivasi saya,” ujarnya. Ia juga mengaku sering merasa khawatir akan masa depan keluarga, terutama karena rumah yang tidak layak dan tidak punya kamar sendiri. Namun, ia dan suaminya, Zulkifli (60), selalu saling menguatkan.

Aktivitas Sosial dan Advokasi Hak Disabilitas

Selain berjuang demi keluarga, Hadijah juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan advokasi hak dasar bagi disabilitas di Kabupaten Sumbawa. Ia tergabung dalam Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dan bekerja sama dengan NGO seperti Siaga untuk 2026. Selama program Plan International Indonesia berlangsung di Sumbawa, ia mendapatkan bantuan berupa masker dan kebutuhan keluarga lainnya.

“Kami sudah terbiasa merasakan diskriminasi dan perundungan, semua itu menguatkan kami untuk berjuang advokasi dan menghapusnya,” tegas Hadijah.

Masa Depan yang Penuh Harapan

Meski hidupnya penuh tantangan, Hadijah tetap percaya pada masa depan. Ia dan suaminya tidak pernah menyerah. Mereka terus berusaha agar anak-anak mereka bisa meraih cita-cita dan meningkatkan derajat keluarga.

“Setelah anak besar, insyaallah kami akan mengubah nasib ke depan,” ujarnya penuh harapan. Dengan ketekunan dan doa, Hadijah membuktikan bahwa disabilitas bukanlah batasan, melainkan peluang untuk menjadi lebih kuat dan mandiri.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan