Ibu Lina Berjuang Melawan Kanker demi Anak, Meski Hidup Tinggal 40 Persen

Perjalanan Kehidupan yang Penuh Ujian dan Ketangguhan

Pada tahun 2015, Herlina Iswahyudi menghadapi momen yang sangat berat. Enam tahun setelah ditinggalkan oleh suaminya yang telah tiada, Lina didiagnosis menderita kanker payudara. Saat itu, ia sedang berjuang sendiri untuk menghidupi dirinya dan dua putrinya di tengah perantauan. Diagnosis ini datang sebagai ujian besar dalam hidupnya.

Kanker yang menyerang tubuh Lina bukanlah hal sederhana. Dokter menyatakan bahwa kemungkinan hidupnya hanya sebesar 40 persen dalam lima tahun ke depan. Namun, ketangguhan dan semangatnya tak pernah padam. Kepercayaannya berasal dari niat untuk mewujudkan mimpi-mimpi anak-anaknya.

“Di bulan November tahun 2015, saya menemukan benjolan di tubuh saya. Setelah diperiksa dokter, diagnosis kanker payudara keluar,” kata Lina saat berbicara dengan media.

Cerita dari Surabaya

Agod Sucahyo, suami Lina, meninggal pada tahun 2009. Kehilangan ini mengubah seluruh suasana Kota Surabaya, tempat ia dibesarkan, menjalin cinta, dan meraih impian. Seakan kota ini tidak lagi bersahabat baginya.

“Ayah mereka meninggal tahun 2009, saat anak pertama masih sekolah dasar,” kenang Lina. Dengan hilangnya suami, bisnis kelapa yang sukses harus berhenti karena tidak ada pengelola. Hal ini memengaruhi kehidupan Lina secara keseluruhan.

Bagi Lina, Agod Sucahyo bukan hanya sekadar suami. Ia juga menjadi sahabat, kakak, dan mentor. “Beliau orang yang baik, tidak hanya sosok suami, tapi juga teman, sahabat, kakak, mentor, dan segalanya bagi saya,” kenangnya.

Menyambung Hidup di Palangka Raya

Pada tahun 2012, Lina memutuskan untuk merantau ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Alasan utamanya adalah pesan mendiang suaminya agar ia pergi ke kota ini. Dengan keyakinan penuh, ia meninggalkan Surabaya bersama kedua anaknya, membawa baju dan modal seadanya.

“Almarhum suami pernah bilang, kalau mau merantau, pergilah ke Palangka Raya, karena sahabatnya ada di sini,” kata Lina. Di kota ini, ia bekerja di sebuah salon dengan gaji Rp 700.000 per bulan.

Ujian Kesehatan dan Ketangguhan

Tahun 2015, Lina kembali menghadapi ujian berat: kanker payudara. Beruntung, ia memiliki asuransi kesehatan sehingga biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS. Namun, kondisi ini tetap mengganggu produktivitasnya sebagai ibu tunggal yang bekerja.

“Dokter blak-blakan bilang, saya hanya bisa hidup 5 tahun dengan kemungkinan 40 persen,” kenangnya. Penyebab kanker ini adalah pola hidup dan stres, serta penggunaan pakaian yang sesak. Setahun kemudian, kanker berkembang menjadi stadium 3B.

Tidak Putus Asa demi Anak Tercinta

Meski begitu, Lina terus berusaha agar tidak putus asa. Dia selalu berdoa agar diberikan umur panjang demi bisa mengantarkan kedua anaknya mewujudkan mimpi-mimpi mereka. “Apa gunanya jika ayah mereka sudah tiada, lalu ibu mereka juga tiada?” tanyanya sambil tersenyum.

Lina menekankan pentingnya pendidikan anak. Ia selalu berpesan kepada anak-anaknya agar menjadi perempuan yang bernilai. “Kalian harus menjadi perempuan yang punya value,” pesannya. Ia berjuang keras demi memberikan bekal terbaik untuk putri-putrinya.

Mimpi Itu Terwujud

Tekad Lina untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya berbuah hasil. Anak pertamanya, Nabilah Ayu Cahyanti, memiliki prestasi akademik yang cemerlang. Ia kini bekerja di perusahaan perkapalan setelah lulus SMA di Surabaya dan kuliah Teknik Perkapalan di ITS.

Anak keduanya, Marsela, memiliki prestasi nonakademik sebagai atlet renang yang mengikuti banyak perlombaan. Marsela kini sedang menjalani perkuliahan semester tujuh di Jurusan Hukum Universitas Palangka Raya, sembari mengajarkan les privat berenang.

Lina yang Tetap Tabah dan Selalu Berusaha

Herlina Iswahyudi kini memiliki bisnis kerajinan tangan dan pakaian berbasis kain perca. Dia merupakan pemilik dari Sanggar Kriya Lina, unit usaha kerajinan dan pakaian yang mulai berkembang dan memiliki pelanggan tetap.

“Saya banyak kenal beberapa pelanggan sejak bekerja di salon. Alhamdulillah, ketika berusaha sendiri banyak pelanggan dari sana,” tuturnya. Usaha ini cukup sukses dan mampu mengantarkannya untuk pergi umrah.

Namun, tahun lalu, dia harus tetap tegar karena didiagnosis kanker kulit setelah berjuang bertahan di tengah kanker payudara. “Mungkin ada kesalahan waktu umrah kemarin. Saya berdoa meminta kepada Allah Swt diberikan kekuatan, silakan berikan kanker apa saja ke saya,” katanya.

Meski begitu, ia tetap tabah dan berusaha menjalani hidup dengan baik. Pengalaman ditinggal sang suami untuk selamanya merupakan ujian paling berat dalam hidupnya. Agod Sucahyo meninggal tepat sehari sebelum perayaan hari pernikahan mereka. Pengalaman menyakitkan ini membuatnya seolah mati rasa dengan pengalaman lain yang juga menyakitkan, seperti diagnosis kanker dan perkiraan usia hidup yang tak panjang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan