
Tim Medis IDAI Berupaya Bantu Anak Korban Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mengerahkan tim medis untuk memberikan layanan kesehatan dan bantuan logistik bagi anak-anak korban banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi tersebut sejak akhir November 2025. Bencana hidrometeorologi ini mengakibatkan ratusan korban jiwa dan ribuan orang mengungsi. Data terpadu IDAI per 1 Desember 2025 mencatat 148 orang meninggal di Sumatera Barat, termasuk 4 anak. Sebanyak 105 orang masih dinyatakan hilang.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), menyampaikan rasa prihatin atas musibah ini. "Kami sangat prihatin atas musibah ini," ujarnya. Piprim juga mengapresiasi anggota IDAI yang langsung turun ke lapangan meski sebagian dari mereka juga menjadi korban. "Ada dokter spesialis anak yang rumah dan keluarganya terdampak, namun tetap membantu korban lainnya," tambahnya.
Wilayah Terdampak dan Kondisi Lapangan
Bencana melanda sejumlah wilayah di tiga provinsi:
- Sumatera Barat: Kota Padang, Solok, Padang Pariaman, Agam (Palembayan dan Lubuk Basung), Pasaman Barat.
- Sumatera Utara: Sibolga, Tapanuli Tengah, Pandan, Sipirok, Binjai, Langkat, dan beberapa titik di Medan.
- Aceh: Pidie Jaya, Aceh Utara, Lhokseumawe.
Akses ke lokasi bencana sangat terbatas. Banyak jalan rusak dan jembatan putus. Listrik padam dan sinyal komunikasi terputus di sejumlah daerah. Fasilitas kesehatan seperti RSUD Pidie Jaya mengalami keterbatasan operasional karena tenaga medis sulit masuk.
Layanan Kesehatan dan Pengobatan Gratis
Tim dokter spesialis anak IDAI berkolaborasi dengan BNPB, Dinas Kesehatan, TNI/Polri, dan relawan dalam memberikan layanan kesehatan. Beberapa data menunjukkan:
- Sumatera Utara:
- Binjai: 66 anak diperiksa, mayoritas menderita ISPA (37 kasus) dan diare (18 kasus)
- Langkat: 125 anak diperiksa, dengan ISPA (55 kasus) dan infeksi kulit (58 kasus)
-
Medan Barat: 54 anak diperiksa, didominasi ISPA (43 kasus)
-
Sumatera Barat:
- Skrining tumbuh kembang di Padang untuk 47 anak, ditemukan 1 kasus keterlambatan bicara
-
Layanan pengobatan di Kota Padang dan Pariaman
-
Aceh:
- Tim Emergency Medical Team (EMT) dikirim ke Pidie Jaya
- Mobile clinic di posko pengungsian, termasuk Mesjid Agung Bireuen
Bantuan Logistik dan Trauma Healing
IDAI tidak hanya memberikan layanan medis, tetapi juga mendistribusikan bantuan non-kesehatan. Air bersih, makanan siap santap, sembako, pakaian, selimut, dan perlengkapan kebersihan disalurkan ke posko-posko pengungsian.
Di Sumatera Barat, IDAI berkolaborasi dengan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) membuat dan membagikan ratusan porsi makanan pendamping ASI (MPASI) untuk balita. Program trauma healing untuk anak-anak pengungsi dilakukan di beberapa lokasi, termasuk Kecamatan Nanggalo, Padang. Tim psikologi anak juga disiapkan untuk mendukung pemulihan pendidikan.
Kendala di Lapangan
Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, Dr Kurniawan Taufiq Kadafi, M.Biomed, SpA(K), menyebutkan sejumlah kendala yang masih dihadapi:
- Kekurangan obat-obatan untuk ISPA, diare, dan infeksi kulit
- Keterbatasan logistik: makanan, air minum, pakaian, selimut, bahan bakar
- Akses sulit karena banyak wilayah terisolir
- Kebutuhan tambahan tenaga kesehatan di posko pengungsian
- Ancaman wabah penyakit akibat sanitasi buruk
"Kami terus memperkuat koordinasi untuk memperluas jangkauan bantuan ke kabupaten dan kota lain yang belum terjangkau," kata Kurniawan.
Ajakan Donasi dan Relawan
IDAI mengajak masyarakat berpartisipasi membantu korban, khususnya anak-anak. Bantuan yang paling dibutuhkan saat ini:
- Obat-obatan anak (ISPA, diare, salep kulit)
- Susu formula dan makanan bayi
- Pakaian anak dan selimut
- Air bersih dan perlengkapan kebersihan
Tenaga kesehatan yang bersedia menjadi relawan dapat menghubungi Posko Bencana IDAI Cabang di daerah terdampak.
Piprim menegaskan dalam situasi darurat, anak-anak, difabel, lansia, dan ibu hamil adalah kelompok paling rentan. "Kesehatan dan keselamatan mereka harus menjadi prioritas utama," tegasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar