Perkembangan IHSG di Awal Tahun 2026
Pada hari pertama tahun 2026, Jumat (2/1), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka naik sebesar 0,39 persen ke level 8.685 dan ditutup naik 1,17 persen ke posisi 9.748. Pembukaan IHSG di zona hijau menunjukkan optimisme dari investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di masa depan.
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, kondisi tersebut menandakan bahwa fondasi ekonomi Indonesia sudah mulai membaik dan akan lebih baik lagi pada tahun ini. Ia menyampaikan bahwa kebijakan yang sinkron antara fiskal dan moneter memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kebijakan kami dengan Bank Indonesia sudah sinkron, harusnya ekonomi bertumbuh lebih cepat. Jadi pelaku pasar siap-siap saja,” ujarnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Purbaya juga mengungkapkan bahwa laju IHSG diperkirakan bisa mencapai level 10.000 di tahun 2026. Menurutnya, level tersebut bukan sekadar target optimistis, tetapi didukung oleh perbaikan ekonomi dan ekspektasi pertumbuhan laba emiten.
Strategi untuk Mencapai Target
Untuk mencapai target tersebut, Purbaya menjelaskan adanya kebijakan dan strategi khusus di tahun 2026. Salah satunya adalah akselerasi ekonomi melalui sinkronisasi kebijakan fiskal-moneter yang lebih solid. Ia menilai bahwa kebijakan yang lebih sinkron dengan bank sentral akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai pasar modal Indonesia masih cukup prospektif. Hal ini didorong oleh pertumbuhan investor seiring adanya program literasi dan inklusi pasar modal. Jumlah investor di Indonesia telah mencapai 19,19 juta Single Investor Identification (SID). Selain itu, peningkatan jumlah Initial Public Offering (IPO) turut menjadi modal berharga bagi pertumbuhan pasar saham dalam negeri.
Audi menyebutkan beberapa faktor penggerak IHSG sepanjang 2026. Pertama, pelonggaran suku bunga acuan, termasuk oleh Bank Indonesia (BI), yang akan memberikan ruang penurunan cost of fund sehingga demand kredit dan ekspansi kembali bergairah. Kedua, stabilitas ekonomi makro dalam negeri dan nilai rupiah. Ketiga, kebijakan pengurangan defisit AS oleh Trump yang masih akan mempengaruhi pasar global.
Prediksi IHSG Tahun 2026
Audi memprediksi IHSG akan bergerak di kisaran 9.300 sampai 9.700 sebagai target optimistis tahun 2026. Hal ini dengan asumsi Earning per Share (EPS) tumbuh 13% sampai 15%, tidak ada kejutan global, kurs rupiah stabil, dan ada dukungan likuiditas global.
Untuk target moderat, Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 8.400 sampai 8.800 pada 2026 dengan asumsi EPS tumbuh 9%–11%, likuiditas global netral, dan investor asing bersikap selektif.
Adapun untuk target pesimistis, Audi memprediksi IHSG bisa saja bergerak di level 7.300 sampai 7.900 pada tahun ini dengan asumsi EPS hanya tumbuh 7% sampai 9%, terjadi outflow asing secara berkala, dan risk premium ikut naik.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang juga menyampaikan sikap optimis terhadap pergerakan IHSG. Ia memproyeksikan IHSG masih berpeluang bergerak dalam area terbatas atau konsolidatif pada sesi awal perdagangan. Namun, tren utama (primary trend) IHSG saat ini masih mengarah positif.
Potensi Volatilitas di Awal Tahun
Meski prospek jangka menengah masih positif, Alrich mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai potensi peningkatan volatilitas di awal tahun. Periode tersebut kerap diwarnai oleh aksi profit taking, rebalancing portofolio, serta penyesuaian alokasi aset oleh investor institusi pascapenutupan buku tahunan.
Selain itu, volume transaksi yang relatif tipis selama masa libur juga berpotensi membuat pergerakan pasar menjadi kurang stabil. Kondisi ini dapat memicu distorsi harga akibat aktivitas spekulatif jangka pendek, sehingga investor disarankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin dalam mengambil keputusan investasi.
Rekomendasi Sektor Prospektif
Berdasarkan kondisi makroekonomi dan tren fundamental hingga akhir 2025, Alrich merekomendasikan investor untuk mulai mencermati sejumlah sektor yang dinilai prospektif pada 2026. Sektor perbankan dan keuangan diperkirakan tetap atraktif seiring terjaganya stabilitas likuiditas, pertumbuhan kredit yang berlanjut, serta ekspektasi kebijakan moneter yang cenderung akomodatif.
Sektor konsumsi dan barang konsumen juga dipandang menjanjikan karena ditopang oleh permintaan yang relatif resilien terhadap siklus ekonomi. Di sisi lain, sektor telekomunikasi dan layanan digital berpotensi melanjutkan kinerja positif, seiring pertumbuhan penggunaan data serta meningkatnya kebutuhan terhadap layanan dan utilitas digital yang berkelanjutan.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar