IKAMA Kecam Keras Perlakuan terhadap Nenek Elina Jadi Sorotan Warga Madura di Luar Negeri

IKAMA Kecam Keras Perlakuan terhadap Nenek Elina Jadi Sorotan Warga Madura di Luar Negeri

Refleksi Akhir Tahun IKAMA: Doa dan Shalawat untuk Keselamatan Seluruh Anak Bangsa

Pada malam pergantian tahun 2025, Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) menggelar kegiatan refleksi akhir tahun yang berjudul “Doa dan Shalawat untuk Keselamatan Seluruh Anak Bangsa.” Kegiatan ini digelar di pinggir akses Suramadu sisi Madura, Desa Morkepek, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan. Acara ini dihadiri oleh ratusan warga serta santri yang mulai berkumpul setelah pukul 20.00 WIB.

Ketua Umum DPP IKAMA, H Mohammad Rawi atau dikenal dengan sebutan Aba Rawi, hadir bersama jajaran pengurus, anggota, tokoh masyarakat, tokoh ulama, serta unsur Muspika Labang. Kegiatan tersebut bertemakan “Evaluasi dan Komitmen IKAMA untuk Masa Depan Bangsa dan Negara.”

Aba Rawi menyampaikan bahwa acara doa dan shalawat ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong malam pergantian tahun 2026. Ia berharap agar masyarakat Madura dan seluruh bangsa Indonesia yang tergabung dalam beberapa komunitas mendapatkan kesuksesan dan keselamatan. Dengan demikian, generasi bangsa akan menjadi yang terbaik bagi bangsa dan negara.

“Kami juga berdoa untuk saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh yang tertimpa musibah. Semoga mereka diberi ketabahan dan pembangunan-pembangunan yang meringankan beban mereka,” ujar Aba Rawi.

Sejarah IKAMA dan Semangatnya

IKAMA pada Januari 2026 genap berusia 52 tahun. Organisasi ini didirikan pada tahun 1974 oleh para ulama seperti KH Amin Imron, KH Syukron Makmun, dan KH Sa’ad Samlan, serta beberapa tokoh nasional. Semangat IKAMA adalah memberikan kemaslahatan ummat, khususnya umat Islam, dan seluruh bangsa Indonesia.

Aba Rawi menegaskan bahwa ia meneruskan perjuangan pendahulu-pendahulu IKAMA yang berpedoman pada falsafah orang tua, yakni Bapak, Bebuk, Guru, Ratoh. Falsafah ini mengajarkan penghormatan dan kepatuhan mutlak kepada empat pilar utama kehidupan, yaitu orang tua, guru, dan pemimpin.

Falsafah Madura ini menjadi pedoman hidup, landasan moral, menanamkan disiplin, ketaatan, etika dalam masyarakat Madura untuk menjaga tatanan sosial, nilai agama, dan tradisi leluhur dalam memberikan penghormatan tertinggi.

Mengklarifikasi Karakter Madura

Aba Rawi juga menyampaikan bahwa IKAMA hadir untuk mengklarifikasi karakter Madura yang dianggap buruk oleh suku lain. Menurutnya, warga Madura yang tergabung dalam IKAMA berpedoman pada prinsip “Di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjung.” Jika ada komunitas Madura yang melanggar petuah dari para guru, maka itu adalah oknum yang harus diperbaiki bersama-sama.

Ia juga menyentil kasus pengusiran dan perobohan rumah Elina Wijayanti (80) di Jalan Kuwukan, Kecamatan Sambikerep, Kota Surabaya. Kejadian ini menjadi sorotan masyarakat Madura yang tinggal di luar negeri, seperti Jepang, Mesir, Malaysia, hingga Saudi Arabia.

“Semua sepakat telah menghujat. Termasuk di beberapa negara itu menelpon saya, ‘Tolong Aba Rawi, kami ini merantau di Jepang dan warga Jepang memuji kami. Tetapi dari sisi lain kejadian sudah berulang-ulang oleh Madas ini, baik di Karawang, di berbagai daerah termasuk di Surabaya kemarin,” ujar Aba Rawi.

Menyampaikan Terima Kasih ke Pihak Berwenang

Aba Rawi juga menyampaikan terima kasih kepada Walikota Surabaya dan Kapolda Jatim yang telah menangkap Samuel Adi Kristanto dan M Yasin pada Senin (29/12/2025). Selanjutnya, polisi juga menangkap tersangka ketiga, yakni SY (59) alias Klowor pada Rabu (31/12/2025).

Yang merupakan salah seorang oknum anggota ormas yang terlibat dalam pengeroyokan dan pengusiran nenek Elina. “Kami atas nama ketua umum mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolda Jatim yang telah proaktif. Hari ini informasi yang saya terima telah ditahan semuanya. Kami sepakat mengutuk keras, kepada Bapak Kapolda Jatim, segera diproses secara hukum,” ungkap Aba Rawi.

Mudah-mudahan, lanjutnya, tindakan tegas dari pihak kepolisian memberikan efek jera agar tidak mudah diprovokasi dan tidak mudah diajak oleh kelompok tertentu sehingga tidak terjebak pada tindakan-tindakan melanggar hukum.

“Apalagi orang Madura itu paling patuh terhadap ibu, apalagi nenek seperti kemarin. Bahkan kami sudah menghubungi Pak Armuji, jika kami memang harus berbuat sesuatu akan kami lakukan untuk memberikan yang terbaik kepada saudara kita nenek Elina, itu yang harus kita hormat,” tegas Aba Rawi.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan