Pengalaman Traumatis Asnidar Saat Banjir Menyerang Rumahnya
Asnidar, seorang warga dari Pasar Lalang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, masih ingat betul bagaimana rumahnya hancur akibat banjir. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (2/1/2025), saat ia sedang memasak ikan dan tahu untuk sarapan keluarga.
Pada pukul 09:00 WIB, suara batu jatuh dari arah belakang rumah membuat Asnidar kaget. Ia langsung melihat ke luar dan menemukan air yang mulai naik ke dalam rumah. Anaknya, Melati, berteriak meminta bantuan, sementara dinding belakang rumah jebol akibat kayu besar yang menghantamnya.
Seketika itu, Asnidar meninggalkan aktivitas memasaknya. Goreng ikan dan tahu yang belum matang harus ditinggalkan. "Sedang memasak, tiba-tiba bunyi batu jatuh, lalu dilihat, ternyata air mulai naik ke rumah," kenang Asnidar dengan mata berkaca-kaca.
Banjir mulai masuk ke dalam rumah, membawa material seperti batu dan kayu besar. Lemari pakaian miliknya juga terseret dan bersandar di dinding. Asnidar merasa hancur dan memohon kepada Tuhan agar tidak menghancurkan rumahnya sepenuhnya. "Bagaimana lah hidup kita lagi nak. Saya berucap 'ya Allah ya tuhan, tinggalkan lah kami, di mana kami tinggal, kami marasai dan tak ada tempat tinggal'," ujarnya dengan suara bergetar.
Banjir Sempat Surut, Tapi Datang Lagi
Di hari yang sama, banjir sempat surut pada pukul 11:00 WIB. Anggota keluarga langsung membersihkan rumah yang penuh dengan material banjir. Namun, tidak lama setelah pembersihan, banjir susulan kembali datang. Tim SAR langsung meminta Asnidar dan keluarganya untuk evakuasi ke tempat yang lebih tinggi, yaitu di depan rumahnya yang berupa batang durian.
Di tempat evakuasi sementara itu, Asnidar kembali hancur hatinya ketika melihat lemari dan barang-barang perabotannya hanyut terbawa arus banjir. "Warga meminta saya bersabar dengan cobaan ini, bahkan mengatakan ada hikmahnya, saya menjawab, bagaimana sabar, sudah hanyut semuanya, sama apa anak saya sekolah, tidak ada baju satu helai pun selamat," ujarnya dengan rasa sedih.
Asnidar sempat histeris dan pingsan karena melihat hasil jerih payahnya hanyut. Berkat bantuan warga, ia akhirnya sadar dan memilih mengungsi ke rumah kakaknya di luar lokasi banjir.

Kembali ke Rumah, Menghadapi Kekhawatiran
Di tengah malam, Asnidar memutuskan untuk kembali ke rumah setelah melihat anak laki-lakinya masih berada di dalam. Pada pukul 23:00 WIB, ia mencoba kembali ke rumah meski kondisi masih basah.
Suami kakak Asnidar membantu mengalihkan aliran air menggunakan karung yang diisi batu. Beruntung, air mulai mengecil dan Asnidar memutuskan untuk tidur di rumah. Meski rumah hanya memiliki dua tingkat, dengan dinding dari tembok dan triplek, ia merasa lega.

Setelah makan nasi goreng yang dibagikan oleh orang sekitar, Asnidar merasa lebih tenang. Banjir mulai menyusut sekitar pukul 23:30 WIB. Di pagi hari, ia turun ke lantai bawah dan mulai membersihkan sisa-sisa banjir. Puluhan personel TNI juga datang membantu membersihkan rumah-rumah warga.
Meskipun rumah kembali bersih, Asnidar tetap merasa khawatir jika banjir kembali datang. Ia berharap pemerintah setempat segera mengambil langkah antisipasi, seperti membangun beton atau batu bronjong di tepi sungai.
Di dapur rumah yang dindingnya jebol, sepiring goreng ikan dan tahu masih tersimpan rapi. Makanan itu menjadi saksi bisu bagaimana hidup bisa berubah dalam sekejap. Bagi Asnidar, goreng ikan tersebut bukan hanya lauk yang tertinggal, tapi juga penanda tentang bagaimana ia berlari meninggalkan dapur demi menyelamatkan keluarga, serta harapan sederhana untuk bisa kembali memasak dengan tenang di rumahnya sendiri tanpa rasa takut akan banjir yang kembali datang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar