Ikatan Da’i Indonesia Banjarnegara Latih Penggunaan AI Chatbot untuk Digitalisasi Dakwah

Pelatihan Ikatan Da’i Indonesia di Banjarnegara

Pengurus Daerah Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi) Banjarnegara menggelar kegiatan pelatihan yang berlangsung di Aula Balai Desa Banjarkulon, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Kamis, 25 Desember 2025. Pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Jaulah Pengurus Wilayah (PW) Ikadi Jawa Tengah. Kegiatan ini diikuti oleh 43 peserta yang berasal dari 6 kabupaten pengurus daerah Ikadi, yaitu Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Kebumen, dan Purworejo.

Ketua PD Ikadi Banjarnegara, Khairul Mudzakir, menjelaskan bahwa tujuan pelatihan ini adalah untuk memberikan bekal kepada para da’i dan da’iyah dalam berdakwah Islam dengan pendekatan yang ramah dan sesuai dengan dunia digitalisasi. Ia menekankan bahwa dakwah harus mampu berperan secara optimal, bukan hanya marjinal. Oleh karena itu, para da’i dan da’iyah perlu dilatih agar menjadi agen perubahan yang kokoh, handal, terampil, dan menawan, khususnya dalam menyampaikan konten-konten dakwah yang inovatif dan menarik.

Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Abu Syadza Rabbani dan Tri Wahyudi. Abu Syadza Rabbani menyampaikan bahwa Mindset Dakwah Digital adalah cara berpikir seorang pendakwah yang mampu mengintegrasikan teknologi dan platform digital untuk menyampaikan pesan Islam secara relevan, efektif, dan persuasif. Hal ini dilakukan sambil tetap menjaga keikhlasan, akhlak mulia, serta substansi ajaran agama. Selain itu, pendakwah juga harus mampu beradaptasi dengan audiens digital yang beragam melalui konten kreatif, interaktif, dan kontekstual.

Menurutnya, pemahaman tentang algoritma, etika online, dan kebutuhan audiens seperti Gen Z sangat penting. Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun personal branding Islami yang otentik. Dalam kesempatan ini, ia juga menyampaikan bahwa teknologi AI harus dimanfaatkan secara maksimal, namun jangan sampai manusia tergantung sepenuhnya pada AI.

Sementara itu, Tri Wahyudi, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Humas, Informasi, dan Advokasi PW IKADI Jawa Tengah, menjelaskan bahwa dalam konteks digitalisasi dakwah, AI chatbot berfungsi sebagai asisten virtual yang dapat memberikan informasi dan bimbingan agama secara otomatis. Beberapa penerapan AI dalam dakwah antara lain:

  • Layanan Tanya Jawab Keagamaan: Chatbot dapat menjawab pertanyaan umum seputar fikih, ibadah, atau ajaran Islam lainnya secara instan, meskipun responsnya perlu divalidasi oleh ulama atau sumber tepercaya.
  • Personalisasi Konten: Melalui analisis data perilaku pengguna, AI dapat merekomendasikan konten dakwah yang relevan dan sesuai dengan minat atau kebutuhan individu, sehingga pesan lebih efektif.
  • Edukasi dan Bimbingan: Chatbot dapat membantu pengguna dalam mempelajari Al-Qur’an, Hadis, atau materi keagamaan lainnya, berfungsi sebagai mitra belajar digital yang interaktif.
  • Jangkauan Luas: Teknologi ini memungkinkan pesan dakwah menjangkau audiens global tanpa batasan geografis dan waktu, 24 jam sehari.

Tri Wahyudi menambahkan bahwa meskipun AI bisa menggantikan manusia dalam tugas tertentu, manusia tidak bisa digantikan oleh AI. Ia menjelaskan bahwa AI unggul dalam tugas repetitif, analisis data, dan efisiensi teknis, tetapi tidak memiliki kreativitas, empati, kesadaran moral, intuisi, dan pemahaman konteks kemanusiaan yang membuatnya tidak bisa menggantikan peran inti manusia. AI sebaiknya dilihat sebagai alat bantu yang memperkuat kapabilitas manusia, menciptakan sinergi di mana manusia yang memahami AI akan lebih unggul daripada yang tidak sama sekali.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan