
Kekurangan Elektromedis di Indonesia Menjadi Perhatian Serius
Indonesia saat ini menghadapi krisis tenaga elektromedis yang signifikan. Hanya sebanyak 5.258 orang elektromedis yang tersebar di 38 provinsi, jauh dari kebutuhan nasional sebesar 36.817 tenaga elektromedis pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan yang sangat besar antara jumlah yang ada dan kebutuhan yang diperlukan.
Kekurangan ini semakin terasa di tengah meningkatnya permintaan akan peralatan medis canggih, digitalisasi rumah sakit, serta pemanfaatan teknologi seperti AI dalam dunia kesehatan. Hal ini memperlihatkan bahwa kebutuhan akan tenaga elektromedis tidak hanya untuk menjaga kualitas layanan, tetapi juga untuk menghadapi perkembangan teknologi medis yang pesat.
Peran Elektromedis dalam Pelayanan Kesehatan
Direktur Perencanaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Laode Musafin M, menyatakan bahwa elektromedis menjadi profesi kunci dalam memastikan kualitas layanan medis. Terutama bagi rumah sakit yang harus menangani penyakit-penyakit prioritas seperti kanker, jantung, stroke, uronefrologi, dan kesehatan anak.
Ia menambahkan bahwa pemerintah telah menyelesaikan perencanaan SDM kesehatan berbasis wilayah hingga tahun 2032, termasuk perencanaan kebutuhan elektromedis. Saat ini, Kemenkes sedang berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi untuk mereview moratorium pembukaan program studi elektromedis.
Kita telah sepakat bahwa pembukaan prodi elektromedis harus berbasis perencanaan kebutuhan nasional. Ini salah satu langkah penting untuk memproduksi tenaga dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata, tegas Laode.
Momentum Penguatan Kolaborasi
Simposium internasional yang digelar Ikatan Elektromedis Indonesia (IKATEMI) menjadi momen penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan organisasi profesi. Upaya ini dinilai krusial untuk mendukung transformasi kesehatan nasional, meningkatkan kualitas layanan, serta memastikan fasilitas kesehatan di Indonesia dapat mengikuti perkembangan teknologi medis dunia.
Ketua Umum DPP IKATEMI, Agus Komarudin, menegaskan komitmen organisasi profesi untuk berkolaborasi dengan pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota. Ia menilai kolaborasi sangat penting untuk mendorong lahirnya elektromedis-elektromedis baru.
Kami mendorong hadirnya elektromedis-elektromedis baru di Indonesia. IKATEMI siap menjadi bagian dari proses produksi tenaga elektromedis serta mendukung transformasi kesehatan yang terus berjalan cepat, ujar Agus.
Pembaruan Kompetensi Setiap Tahun
Agus juga menekankan pentingnya peningkatan kapabilitas dan pembaruan kompetensi setiap tahun. IKATEMI siap mengibarkan standar profesi Indonesia ke tingkat internasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof. Erwin Astha Triyono, menyatakan bahwa kebutuhan elektromedis juga menjadi perhatian penting daerah. Saat ini Jatim baru memiliki 711 elektromedis. Untuk populasi sekitar 40 juta jiwa, idealnya kami membutuhkan minimal 2.000 orang, jelasnya.
Ia menekankan bahwa selain jumlah, pemerataan distribusi menjadi tantangan serius. Seluruh kabupaten/kota dan rumah sakit harus memiliki tenaga yang kompeten dalam menghadapi teknologi medis mutakhir, termasuk AI.
Produksi harus ditambah, mutunya dijaga, dan distribusinya diatur. Ini isu nasional yang harus diselesaikan bersama, tutupnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar