
Beberapa minggu terakhir saya terpapar unggahan tentang sanjungan terhadap ayah. Setelah ada Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga tentang Gemar, Gerakan Ayah Mengambil Rapor, di Bulan Desember 2025, saya 'dihujani' sanjungan terhadap ayah di berbagai platform media sosial.
Artikel ini mudah-mudahan bisa memicu refleksi kita bersama tentang peran ayah (dan ibu) yang kita jalankan, dan juga refleksi kita terhadap ayah (dan ibu) kita. Harapannya kita dapat melihat dengan perspektif baru yang lebih positif tentang peran ayah (dan ibu). Pembenturan sanjungan terhadap ayah dan ibu tidak dimaksudkan untuk menyudutkan, khususnya, peran ibu.
Sanjungan terhadap Ayah
Di akun FB, misalnya, beranda FB saya dipenuhi unggahan dari akun Nabila Aktarianisa. Akun ini diikuti oleh 40 ribu pengikut. Saya kutipkan sebagian dari beberapa unggahannya.
Unggahan 1 berjudul 'Kenapa Ayah Memilih Diam'. Isinya 'Kenapa seorang ayah memilih diam saat dunianya tidak baik-baik saja??? Karena ayah tahu, jika ia bercerita, tak semua beban akan berkurang. Justru mungkin berpindah ke pundak orang yang ia lindungi' (baca istri atau anak, catatan dari saya).
Unggahan 2 dari akun yang sama berjudul '5 Prinsip Hidup Laki-laki (Ayah). Saya kutipkan sebagian di antaranya. Prinsip 3, Kebahagiaan diri bukan prioritas. Keinginannya sering dikalahkan, demi senyum anak dan tenangnya rumah. Prinsip 5, Doa yang tak pernah putus. Meski jarang diucapkan, nama anak selalu ada dalam setiap sujudnya'.
Yang benar-benar mengagetkan saya adalah unggahan akun FB Fnu Susanti. Akun ini diikuti oleh 1,4 juta orang. Salah satu unggahannya diberi judul 'Kenapa Seringkali Anak Lebih Dekat dengan Ibunya'. Isinya benar-benar provokatif, menyanjung ayah dan sekaligus mengkritik ibu. Saya kutipkan sebagian unggahannya.
'Kamu tahu nggak kenapa kebanyakan anak lebih dekat sama ibunya? Banyak orang pikir karena ayah jarang ikut ngurus anak. Tapi sebenarnya bukan itu alasannya'.
'Coba perhatikan, ayah sering banget bilang ke anaknya, nanti kalau kamu udah besar, kamu harus berbakti sama ibumu ya. Ibumu sudah capek ngurus kamu. Banyak banget pengorbanannya. Nah, kalimat kayak gitu tuh bentuk penghargaan ayah ke ibu. Dia selalu menanamkan rasa hormat anak ke ibunya.'
'Tapi ibu, gaya bicaranya sering beda. Banyak ibu yang suka ngomel di depan anak. Kamu jangan sampai dapat suami kayak bapakmu ya. Nggak bisa diandalkan, bikin capek.' ...
'Bahkan kalau anak berbuat salah sedikit aja. Ibu suka bilang, tuh kan sama aja kayak bapakmu. Bayangin kalau dari kecil anak terus dengar hal begitu. Gimana bisa dia dekat sama ayahnya?' Itu unggahan Fnu Susanti.
Provokatif sekali.
Belum lagi akun tiktok @ceritatentangayah yang diikuti oleh 32,3 ribu pengikut. Unggahan akun ini berisikan tentang kehebatan ayah dan kerinduan akan ayah yang telah tiada. Misal, 'Ayahku manusia biasa. Tapi cinta ke anak-anaknya luar biasa', 'Rindu itu obatnya bertemu. Lantas bagaimana denganku, yang terpisah antara surga dan dunia?', 'Ayah disana inget aku ga ya? Ayah disana kangen aku juga ga ya?', 'Moment bangga itu. Ketika seseorang berkata. Aku kenal Ayahmu. Dia orang baik'. Itu adalah beberapa unggahan di akun tiktok ini.
Akun ini dalam waktu kurang dari satu bulan, pertumbuhan pengikutnya mencapai 10.000-an. Luar biasa.
Lalu, apa yang ingin saya katakan secara ringkas? Ayah dan sanjungan tentang ayah beberapa waktu terakhir ini tumbuh dengan pesat. Apakah ini ada kaitan dengan fenomena fatherless? Entahlah.
Counter terhadap Sanjungan terhadap Ibu
Sanjungan terhadap ayah, menurut saya adalah counter yang terlambat untuk menyeimbangkannya dengan sanjungan kepada ibu. Ada beberapa kalimat sanjungan kepada ibu yang sudah lekat dalam benak kita, seperti:
'Surga di bawah telapak kaki ibu',
'Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah'.
Atau unggahan sebuah akun FB: 'Orang yang paling tulus adalah ibu. Kita sering mengingat luka yang kita terima dari ibu, namun jarang bertanya berapa banyak luka yang ibu pendam dari anak-anaknya. Kita lebih sering melihat kekurangannya, dibanding berjuta pengorbanan yang ia balut sendirian dalam diam'.
Lalu, Bagaimana dengan Aku dan Ayahku?
Pertanyaan sub judul ini juga berlaku untuk anda semua: 'Lalu, bagaimana dengan anda dan ayah anda?' Cerita saya tentang ayah saya mudah-mudahan juga bisa menjadi pemantik cerita anda tentang anda dan ayah anda.
Semasa kecil sampai aku mulai mapan bekerja, jika aku ditanya tentang ayahku, maka yang keluar dari mulutku adalah hal-hal negatif tentang ayahku.
Ayahku sangat dekat dengan saudara-saudara kandungnya dan juga dengan ibunya atau nenekku. Fakta ini sangat tidak disukai oleh ibuku. Tiap hari saat nenekku masih hidup, ayahku dalam istilah ibuku seperti 'ngantor'. Antara jam 7-an sampai jam 11-an, ayahku pasti sudah berangkat 'ngantor' menemui ibunya yang tinggal bersama dengan om dan tanteku. Pulang untuk makan. Tidur siang sebentar. Kemudian ayahku akan berangkat 'ngantor' lagi.
Seperti yang digambarkan Fnu Susanti, ibuku juga sering mengatakan 'jangan seperti ayahmu'.
Semasa aku muda, ayah bukanlah tokoh idolaku. Mungkin karena aku tidak tinggal bersama dengan orang tuaku sejak TK sampai kelas V SD. Mungkin juga karena ayahku pernah mengatakan di hadapanku, bahwa dia lebih sayang kepada adikku. Menurut ayahku kelahiran adikku membawa rejeki. Sebagai catatan kami hanya dua bersaudara, adikku laki-laki. Umurnya selisih lima tahunan dengan aku.
Tapi meskipun mungkin fakta itu ada pengaruhnya, tetapi ketidaksukaanku pada ayahku lebih pada tuntutannya kepada aku untuk menjadi contoh yang baik bagi adikku. Yang kuingat larangan-larangannya dan kemarahannya. Aku dilarang belajar bermain gitar. Caranya tidak kusukai. Selain mengatakannya kepadaku, ayahku juga mengatakan keberatannya kepada teman-temanku. Memalukanku sebagai remaja yang baru tumbuh.
Aku juga masih ingat bagaimana ayahku mengamuk besar-besaran gara-gara aku pulang jam 10-an malam dari bertanding catur dengan tim dari guru SMP-ku saat itu. Aku dan temanku diundang guruku untuk bermain catur dengan dia dan tetangga-tetangga di RT-nya.
Masih jelas juga dalam ingatanku, bagaimana ayahku meminta orang yang baru dia kenal untuk memberitahu aku agar tidak kuliah di Yogya atau jika pun kuliah di Yogya harus berhati-hati dengan kumpul kebo. Padahal orang ini baru dikenal ayahku. Ayahku memintanya untuk menasehati aku, hanya karena orang ini juga punya anak yang kuliah di Yogya. Kesanku saat itu aku kuliah di Yogya untuk kumpul kebo.
Perilaku ayahku juga tidak ada unggah ungguhnya. Mungkin karena dia dilahirkan miskin. Pendidikannya kacau balau. SD saja mungkin tidak pernah dia injak. Dia pernah ikut saudaranya untuk menjadi kenek truk milik saudaranya.
Pokoknya ingatanku tentang ayahku, khususnya waktu aku masih muda, isinya jelek semua. Sampai-sampai aku ingin segera kuliah di luar kota, dan aku akan berhemat sehemat-hematnya agar tidak ada kata-kata ayahku tentang biaya kuliahku sebagai alasan untuk tidak meminjamkan uang kepada temannya atau saudara ibuku.
Yang menarik bagiku adalah pandanganku terhadap ayahku berbalik 180 derajat, khususnya setelah dia mulai dideteksi diabetes dan mulai sakit-sakitan. Dan, perubahan ini benar-benar menjadi pelajaran yang berharga bagiku sebagai ayah.
Di akhir hayatnya, aku begitu respek kepada ayahku. Aku sendiri heran. Tulisan ini adalah hasil renunganku mengapa perubahan itu bisa terjadi.
Lalu, apa saja perubahan ayahku dan pelajaran yang bisa dipetik?
Bukan Pendidikan Formal, tetapi Pelajaran dari Universitas Kehidupan
Ternyata rasa tidak sukaku bisa berubah menjadi respek, bukan karena pendidikan formal ayahku dengan gelar akademik, predikat kelulusan summa cum laude. Aku respek kepada ayahku karena ayahku mampu bertransformasi luar biasa dari kuliah yang dia tempuh di universitas kehidupan.
Sebelum meninggalnya, ayahku bisa menjadi lebih bijak. Dia memilih diam saat dia marah. Padahal sebelumnya, jika ayahku marah kepada ibuku atau sebaliknya, mereka bisa saling adu mulut dan saling mendiamkan berhari-hari.
Ayahku juga memilih diam dan mendengarkan saat aku bercerita macam-macam saat di meja makan. Padahal dulu, setelah makan ayahku ngeloyor pergi dan tidak mau mendengarkan ceritaku.
Di tengah sakitnya di rumah sakit, berkali-kali ayahku meminta aku yang menungguinya, untuk tidur. Kalau pun dia terbangun dan membutuhkan pertolongan, dia menyuruhku tetap tidur dan meminta tolong ke perawat. Padahal ayahku dulunya adalah 'raja' yang selalu dilayani dan harus dipatuhi oleh anggota keluarga lainnya. 'Raja' yang satu ini ternyata dapat berubah dari bertindak atas dasar kekuasaan, menjadi mampu menunjukkan kasih dan perhatiannya, khususnya kepada aku yang dia tahu bahwa aku sebenarnya tidak menyukai dirinya.
Ayahku juga bisa berubah menjadi lebih adil. Dia memaksa aku untuk mengganti kendaraanku yang jelek yang usianya sudah belasan tahun, dengan kendaraan baru yang akan dia belikan. Seperti biasa aku tentu menolak.
Yang lebih mengagetkanku lagi, dia berkali-kali meminta harta yang dia miliki dibagi tiga, untuk aku, ibuku dan adikku. Pesan dan alasannya mencengangkan. Dia mengatakan, 'Nanti habis, kalau tidak dibagi sekarang'. Dia yang begitu sayang pada adikku, koq bisa berkata begitu. Tetapi lagi-lagi aku diam menolak dan meninggalkannya.
Sampai-sampai dia tampaknya menceritakan keinginannya kepada karyawan yang menungguinya di rumah sakit. Jika aku harus kembali ke Semarang, selama dia dirawat di rumah sakit di kota asalnya dia ditunggui karyawannya. Karyawannya ini kembali mengatakan keinginan ayahku di hadapanku dan ayahku, untuk membagi warisan sebelum dia meninggal. Aku tahu maksud ayahku, tetapi aku menolaknya karena punya pertimbangan yang berbeda.
Universitas kehidupan mampu membuat ayahku lulus suma cum laude di mataku. Bayang-bayang semua kejadian itu serasa diputar ulang saat aku yang sendiri saja menunggu jenazah ayahku di rumah duka. Dan, kembali terbayang saat aku menuliskan artikel ini.
Bukan Rajinnya pada Ritual Beribadah, tetapi Akhlak dalam Keseharian
Semula agama ayahku sama sekali tidak jelas. Agama yang diakuinya disesuaikan dengan mood dan orang yang dia ajak bicara. Agama bunglon. Tetapi yang aku tahu persis, ayahku sangat tidak suka dengan orang Kristen. Alasannya sederhana. Dia merasa diperlakukan tidak baik saat dia, ibuku dan aku yang masih kecil terpaksa menumpang di rumah saudara.
Ayahku merasa 'dipaksa' untuk masuk Kristen dari cara persuasif sampai cara yang menurut ayahku keras. Ruang tamu tempat dia menumpang sering digunakan untuk acara keagamaan, sehingga ibuku dan aku yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar rumah, dan ayahku tidak dapat masuk ke dalam rumah, karena akses masuk dan keluar rumah hanya satu yaitu melalui ruang tamu tersebut.
Tentunya aku tidak pernah melihat ayahku beribadah menurut agama apa pun.
Saat beliau akan meninggal, beliau ditawari iparnya untuk dibaptis menjadi Katolik. Adik iparnya dan ibuku percaya, ayahku mau dibaptis karena tawaran itu. Tapi aku tidak yakin. Kecil kemungkinan ketidaksukaan yang demikian dalam, berubah hanya karena tawaran sesaat.
Tapi yang aku salut dengan ayahku adalah agama baru yang dianutnya mampu meresap mendalam di lubuk hatinya. Saat ayahku setengah sadar karena sakitnya, mulutnya selalu menyebutkan 'Yesus, Yesus, Yesus' berulang-ulang. Ayahku sering hilang kesadaran karena ada darah yang menggumpal di kepalanya, akibat jatuh telentang. Dia jatuh gara-gara memakai celana tanpa berpegangan.
Aku yang lebih lama dibaptis saja, saat terpuruk sakit, yang keluar dari mulutku adalah keluhan dan kemarahan. Aku lupa dengan agamaku. Tapi ayahku yang semula benci, kemudian mau menganut agama barunya, dan baru dalam hitungan bulan, mampu meresapkan agama barunya ke dalam hatinya.
Luar biasa. Aku benar-benar terinspirasi oleh ayahku.
Penutup
Masih banyak daftar lain yang aku bisa klasifikasikan yang mengubah ketidaksukaanku menjadi respek kepada ayahku. Seperti bukan jumlah harta yang diwariskan, tetapi kesediaan ayahku untuk hidup sederhana dan mau berkorban. Bukan hidupnya yang sempurna, tetapi kesediaannya untuk berubah. Bukan meminta perhatian, tetapi kesediaannya untuk memberikan perhatian kepada orang lain.
Ternyata sakit, menderita karena sakitnya, lemah dan menua mampu membawa transformasi hidup ayahku untuk lebih bijak, lebih mampu menunjukkan perhatian dan kasih, lebih adil, lebih mampu meresapkan agama dalam penderitaannya.
Refleksi ini mudah-mudahan mampu membuatku bertansformasi dalam hidupku untuk lebih baik. Mumpung masih sehat. Dan, jangan menunggu sakit, menderita karena sakit, menjadi lemah dan menua. Mudah-mudahan. Juga membuatku lebih melihat peran positif bukan hanya peran ibu, tetapi juga peran ayahku. Amin.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar