
nurulamin.pro Pemerintah tengah mengebut pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sebanyak 15.000 unit huntara ditargetkan dapat selesai dalam waktu tiga bulan. Aceh menjadi wilayah dengan jumlah pembangunan terbanyak, yakni mencapai 12.000 unit.
Sementara itu, sekitar 2.000 unit huntara akan didirikan di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Adapun Sumatera Barat kebagian 500 unit hunian sementara.
Pembangunan huntara dilakukan di atas lahan milik PTPN, pemda, maupun lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang tidak diperpanjang dan telah melalui tahapan pembersihan lahan. Setiap unit hunian dirancang dengan ukuran kurang lebih 4,5 x 4,5 meter.
Fasilitas huntara
Mengutip informasi resmi dari BP BUMN, setiap unit huntara akan dilengkapi dengan beragam fasilitas antara lain kamar tidur, ruang keluarga sederhana, kamar mandi, aliran listrik, dan air bersih.
Kendati huntara, setiap unit huntara tidak dilengkapi dengan toilet, karena sudah ada fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) komunal yang bisa digunakan bersama-sama seluruh penghuni.
Fasilitas huntara lain yakni saluran drainase, akses jalan, tempat ibadah, dan ruang bersama (ruang fungsional) untuk beragam aktivitas para penghuni huntara.
Sesuai dengan namanya, pembangunan huntara sendiri bukan diperuntukan untuk hunian permanen korban bencana di Sumatera, namun hanya untuk sementara selama masa pemulihan.
Anggaran huntara
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, menyampaikan bahwa hunian yang disiapkan untuk korban bencana menggunakan tipe 36 dengan anggaran sekitar Rp 30 juta per unitnya.
Menurut Suharyanto, tipe tersebut dinilai paling ideal untuk memenuhi kebutuhan dasar korban bencana, sekaligus memungkinkan proses pembangunan dilakukan secara cepat.
“Ukurannya tipe 36, 8 kali 5, Bapak Presiden. Daripada masyarakat tinggal di tenda, tentu jauh lebih layak jika menempati hunian sementara,” kata Suharyanto saat rapat koordinasi yang dipimpin Presiden Prabowo di Banda Aceh.
Lebih lanjut, Suharyanto menjelaskan bahwa pembangunan huntara akan dikerjakan oleh Satuan Tugas (Satgas) gabungan TNI dan Polri.
Ia juga menyinggung penggunaan rumah modular sebagai salah satu opsi hunian yang bisa dibangun dalam waktu singkat. Model rumah ini kini semakin banyak dikembangkan oleh sektor swasta dan memungkinkan proses pembangunan rampung hanya dalam hitungan satu hari.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar