
Peringatan Hari HAM Sedunia dan Penurunan Indeks Hak Asasi Manusia
Dalam rangka memperingati Hari HAM Sedunia, SETARA Institute meluncurkan Indeks HAM Indonesia pada tahun 2025. Hasil penilaian ini menunjukkan adanya penurunan skor dibandingkan tahun sebelumnya. Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, menyatakan bahwa skor rata-rata nasional untuk seluruh variabel dalam Indeks HAM 2025 adalah 3,0 dari skala penilaian 1-7. Angka ini turun sebesar 0,1 dibandingkan dengan skor pada tahun 2024.
“Penurunan ini merupakan fakta bahwa kita mengalami kemunduran dalam pemajuan hak asasi manusia di Indonesia,” ujar Halili dalam acara peluncuran Indeks HAM di Jakarta, Rabu, 10 Desember 2025. Ia menilai bahwa hal ini menjadi alarm bagi pemerintahan saat ini.
Pada tahun 2024, Indeks HAM juga mengalami penurunan. Skor rata-rata nasional pada tahun tersebut adalah 3,1, yang turun 0,1 dari skor pada 2023.
Halili menjelaskan bahwa peluncuran Indeks HAM setiap tahun bertujuan untuk mendorong penataan ulang orientasi HAM di Indonesia. Evaluasi berupa indeks ini diharapkan menjadi catatan agar pola penurunan tidak terjadi lagi di masa depan. “Misalnya dengan memperbaiki regulasi, mencegah terjadinya peristiwa, serta menerapkan prinsip ketidakberulangan,” tambahnya.
Indeks HAM Setara Institute merupakan studi pengukuran kinerja negara sebagai pemangku kewajiban dalam perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan HAM di Indonesia. Studi ini merujuk pada rumpun hak yang tercantum dalam Kovenan Internasional Hak Sipil dan Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Indeks HAM ini memiliki 6 indikator pada variabel hak sipil dan politik (sipol), serta 5 indikator pada hak ekonomi, sosial, dan budaya (ekosob).
Rincian Skor Berdasarkan Variabel
Skor rata-rata nasional untuk hak ekosob pada tahun ini mencapai 3,2, sedangkan rata-rata skor variabel hak sipol adalah 2,8.
Pada variabel hak sipol, skor indikator hak hidup turun menjadi 3,1, setelah sebelumnya stagnan pada angka 3,3 selama dua tahun terakhir. Penurunan juga terjadi pada hak atas rasa aman, yang turun sebanyak 0,1 menjadi 3,2. Sementara itu, skor kebebasan beragama dan berkeyakinan tetap stagnan di angka 3,2.
Peneliti bidang Hukum SETARA Institute, Sayyidatul Insiyah, menyebutkan bahwa indikator kebebasan berekspresi dan berpendapat menjadi yang paling rendah dari 11 indikator lainnya. Nilai indikator ini terus mengalami regresi sejak dua tahun lalu, yaitu 1,3 pada 2023, 1,1 pada 2024, dan 1,0 pada tahun ini.
Hak memperoleh keadilan juga mengalami penurunan dibanding tahun lalu, dengan skor turun dari 3,2 menjadi 3,1. Sementara itu, skor untuk indikator hak turut serta dalam pemerintahan tetap stagnan di angka 3,0.
Pencapaian pada Variabel Hak Ekosob
Pada variabel hak ekosob, indikator paling tinggi ada pada hak atas pendidikan, dengan skor yang stagnan dari tahun lalu di angka 4,3.
Namun, beberapa indikator mengalami penurunan. Indikator hak atas tanah mengalami regresi selama dua tahun terakhir, dari 1,9 pada 2023 menjadi 1,8 di tahun 2024, dan 1,6 di tahun ini. Penurunan juga terjadi pada indikator hak atas kesehatan, yang turun dari 3,7 di tahun lalu menjadi 3,6.
Selain itu, skor untuk hak atas pekerjaan turun dari 3,5 pada 2023 dan 2024 menjadi 3,4 di tahun ini. Tidak berbeda dengan hak atas budaya yang juga mengalami penurunan dari 3,3 pada tahun lalu menjadi 3,2 di tahun ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar