Intensitas Hujan Tinggi, Sampah, dan Sedimentasi Jadi Tantangan Utama Drainase Bandung

Intensitas Hujan Tinggi, Sampah, dan Sedimentasi Jadi Tantangan Utama Drainase Bandung

Tantangan Pengelolaan Drainase di Kota Bandung

Kota Bandung, yang dikenal dengan iklim tropisnya, menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan drainase. Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah penyumbatan saluran air akibat sampah dan sedimentasi. Hal ini terutama terasa saat intensitas hujan tinggi, yang dapat menyebabkan genangan air di permukiman maupun jalanan.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Rizki Kusrulyadi, mengungkapkan bahwa sampah dan sedimentasi tetap menjadi tantangan terbesar dalam penanganan drainase. Menurutnya, volume sampah yang masuk ke saluran air sangat tinggi, sehingga sering kali menyebabkan penyumbatan, terutama saat hujan deras.

"Kita akui, saat ini memang terlalu banyak sampah dan sedimentasi di salungan drainase, dan itu cukup menyulitkan," ujar Rizky pada Minggu (13/12/2025).

Dia menjelaskan bahwa tidak jarang saluran drainase yang telah dibersihkan kembali tersumbat oleh sampah dalam waktu singkat. Untuk mengatasi hal ini, pihaknya terus melakukan pemulihan drainase secara berkelanjutan menggunakan sumber daya yang tersedia.

"Sering kali setelah kita bersihkan, dua hari kemudian sudah penuh lagi oleh sampah," katanya.

Selain itu, DSDABM juga terus meningkatkan upaya normalisasi, revitalisasi, hingga pembangunan saluran drainase baru. Tujuan dari upaya ini adalah untuk memastikan aliran air tetap lancar dan meminimalkan risiko genangan di permukiman serta ruas jalan.

Menurut Rizky, drainase memiliki peran vital sebagai saluran limpasan air, baik dari badan jalan maupun lingkungan sekitar, agar dapat mengalir dengan baik hingga bermuara ke sungai.

"Drainase seharusnya bisa mampu menampung dan mengalirkan limpasan air secara optimal, baik dari jalan maupun dari kawasan sekitarnya," ujarnya.

Upaya Pemeliharaan dan Perbaikan Drainase

Salah satu langkah yang dilakukan oleh DSDABM adalah normalisasi saluran yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi. Selain itu, pihaknya juga merevitalisasi drainase untuk meningkatkan kapasitas aliran air. Di beberapa titik, pihaknya bahkan melakukan pembangunan saluran drainase baru.

"Kita tidak hanya normalisasi, tapi juga merevitalisasi dan membangun beberapa saluran drainase baru untuk memperlancar aliran air," kata Rizky.

Upaya normalisasi dan pemeliharaan drainase dilakukan setiap hari. Petugas rutin membersihkan sampah dan endapan lumpur yang menghambat aliran air, terutama pada musim hujan.

"Perbaikan, pemeliharaan, termasuk pembersihan sampah dan sedimentasi kita lakukan setiap hari," ujarnya.

Strategi Jangka Panjang

Untuk menghadapi tantangan yang terus berkembang, DSDABM berkomitmen untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem drainase. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, diharapkan dapat mengurangi risiko banjir dan genangan air di wilayah perkotaan.

Strategi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pencegahan penyumbatan hingga peningkatan kapasitas saluran. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah daerah dan masyarakat, diharapkan kondisi drainase di Kota Bandung akan terus meningkat.

Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Dengan begitu, jumlah sampah yang masuk ke saluran drainase dapat diminimalkan, sehingga aliran air lebih lancar dan aman.

Kesimpulan

Pengelolaan drainase di Kota Bandung memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Dengan menghadapi tantangan seperti sampah dan sedimentasi, DSDABM terus berupaya untuk memperbaiki dan memelihara sistem drainase. Dengan kolaborasi antara pihak terkait dan kesadaran masyarakat, diharapkan dapat tercapai sistem drainase yang efisien dan mampu mengurangi risiko banjir di wilayah perkotaan.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan