
Pengalaman Setelah Bebas dari Tahanan
Pada suatu malam, saya bertemu dengan Ira Puspadewi dan Harry Muhammad Adhi Caksono setelah mereka bebas dari tahanan. Mereka baru saja menghabiskan tiga hari di luar penjara. Saat itu, kami sedang makan malam bersama.
Harry mengatakan bahwa ia masih merasa kaget dengan perubahan lingkungan sekitar. "Masih jetlag," katanya sambil tertawa. Ira juga menambahkan bahwa ia masih terbiasa dengan suasana gelap di tahanan. Bahkan, lampu rumahnya terasa terlalu terang baginya. Ia meminta untuk mengganti lampu tersebut.
Suami Ira, Zaim Uchrowi, menjawab permintaannya dengan santai. Hal ini menunjukkan bahwa Ira benar-benar terbiasa dengan kondisi yang berbeda selama 10 bulan di tahanan.
Saya memberi nasihat kepada mereka agar segera melupakan rasa kaget dan fokus pada kehidupan baru. Saya menyarankan agar tidak terlalu sering mengikuti wawancara media dan lebih fokus pada kehidupan pribadi.
Ketika Ira ingin bercerita tentang pengalamannya yang tidak adil, saya membatasi pembicaraan itu. Saya ingin ia menyadari bahwa ada orang-orang lain yang nasibnya lebih buruk darinya.
Kami memesan makanan sederhana seperti gurami asam-manis, sayur kailan yang dikeringkan, dan nasi putih. Malam itu juga kami berada di Pacific Place, tempat yang penuh dengan hiasan Natal yang menarik.
Ira bertemu dengan seorang teman lamanya yang juga berjilbab. Mereka saling berpelukan dan berbicara dalam bahasa Sunda. Saya penasaran siapa dia, dan Ira mengungkap bahwa itu adalah Reza, seorang penyanyi terkenal. Menurut Ira, Reza tampak berbeda dibanding saat tampil di panggung.
Setelah makan, kami keluar dari mal. Saya bertanya apa yang mereka lakukan saat di tahanan. Ira menjawab bahwa ia biasanya membaca atau mengaji. Ia bahkan sering membaca Alquran hingga selesai, meskipun terkadang ia berhenti lama di surah Ad-Dhuha.
Ira membawa Alquran ke tahanan, lengkap dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Surah Ad-Dhuha menurutnya seperti menyindir dirinya sendiri. Ia tumbuh di keluarga pesantren, sehingga ia menjadi imam salat lima waktu.
Ira tetap menjaga bentuk tubuhnya. Ia tetap langsing dan energik. Di tahanan, ia bisa melakukan pilates setiap hari. Ada alat minimalis yang digunakan untuk olahraga ini. Selain itu, Ira juga belajar bermain pingpong dan berhasil mengalahkan semua temannya.
Saya ingin tahu buku apa saja yang ia baca selama di tahanan. Ia membaca buku tentang ekonomi, bisnis, manajemen, dan leadership dalam bahasa Inggris. Ia juga suka membaca novel, terutama yang berkaitan dengan tokoh atau peristiwa masa lalu.
Salah satu novel yang ia baca adalah karya Elif Shafak, Forty Rules of Love, yang menceritakan tentang Jalaluddin Rumi. Buku ini menjelaskan makna cinta Tuhan kepada manusia, bukan hanya ancaman dan hukuman.
Ira juga membaca karya A. Helwa, Secrets of Divine Love. Buku ini membahas pemahaman Quran dari sudut pandang cinta. Ia menemukan ketenangan melalui buku ini dan merasa bahwa dirinya sedang dalam proses pemurnian diri.
Ira lahir di Malang dan dikenal sebagai orang Sunda. Ia menempuh pendidikan di SMAN 1 Sidoarjo, lalu kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Doktornya dari Universitas Indonesia, dengan disertasi tentang kepemimpinan di sosiopreneur.
Saya bertanya kesimpulan dari disertasinya. Ira menjawab bahwa untuk menjadi sosiopreneur, seseorang harus terlebih dahulu menjadi entrepreneur. Ia juga membuat jurnal ilmiah yang masuk dalam scopus liga satu.
Sebagai mantan direktur di perusahaan Amerika, Ira sudah terbiasa menghadapi jetlag. Ia tahu cara terbaik mengatasinya adalah dengan segera bekerja dengan tekanan target yang tinggi. Ini membantu mengembalikan ritme kehidupan sehari-hari.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar