Isi Liburan Anak, Sekolah Motekar Ciamis Gelar Taman Karya Anak 6 dengan 70 Peserta

Kegiatan Taman Karya Anak yang Menyentuh Hati

Pada hari Sabtu, 4 Januari 2026, Sakola Motekar mengadakan acara Gelar Karya & Lelang Karya di Lembur Kaulinan Cibunar, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis. Acara ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan Taman Karya Anak #6 yang berlangsung sejak Minggu, 28 Desember 2025. Kegiatan ini menunjukkan komitmen Sakola Motekar dalam memberikan pengalaman edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak selama masa liburan.

Taman Karya Anak merupakan program rutin yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali selama liburan sekolah. Acara ini diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum, dengan tujuan untuk memanfaatkan waktu liburan anak-anak dengan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan. Kegiatan ini tidak hanya membantu anak-anak mengisi waktu mereka, tetapi juga memberikan kesempatan bagi para relawan untuk ikut serta dalam proses pembelajaran.

Kegiatan Taman Karya Anak diikuti oleh 70 peserta yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, seperti Paud, SD, SMP, dan SMA. Selain itu, Sakola Motekar juga membuka peluang bagi siapa saja yang ingin menjadi relawan. Meskipun jumlah relawan terdaftar mencapai 40 orang, beberapa di antaranya tidak dapat berpartisipasi secara optimal.

Kegiatan yang Mencakup Tiga Aspek Penting

Menurut Restu, ketua pelaksana kegiatan, tujuan utama dari Taman Karya Anak adalah untuk memenuhi tiga aspek penting pada anak, yaitu kepala (kognitif), tangan (skill), dan hati (afektif). Ia menekankan bahwa aspek tangan (skill) sering kali diabaikan oleh lembaga pendidikan. Untuk mewujudkan hal tersebut, kegiatan-kegiatan yang melibatkan kreativitas anak dilakukan. Beberapa contoh karya yang dibuat oleh peserta antara lain boneka, peta Indonesia, gantungan awan, lukisan pelangi, jam dinding, hiasan dinding, dan gantungan kunci.

Selain itu, Taman Karya Anak juga berupaya dalam mendidik karakter anak melalui pembiasaan bernyanyi dan memahami isi lagu “Aku Ada,” “Simpan Sampah,” karya Panji Sakti, serta lagu “Kujaga Diriku.” Pembiasaan ini semakin memperkuat konsep “Jaga Diri, Jaga Teman, dan Jaga Lingkungan” yang menjadi jargon utama Sakola Motekar.

“Alhamdulillah, setelah mengikuti kegiatan Taman Karya Anak, anak saya memiliki banyak perubahan. Misalnya, bangun pagi, merapikan tempat tidur, menyapu, dan lain-lain,” ujar Bu Maliha, salah satu orangtua peserta Taman Karya Anak.

Diskusi Orang Tua: Pengasuhan, Karakter, dan Pendidikan

Saat anak-anak sibuk beraktivitas, orang tua peserta berkumpul untuk berdiskusi tentang anak dan pengasuhan. Banyak orang tua yang mengeluhkan dan berbagi pengalaman pribadi terkait pengasuhan, karakter anak, hingga sistem pendidikan. Hal ini menambah nilai manfaat dari kegiatan Taman Karya Anak.

Pada puncak kegiatan, seluruh karya peserta digelar dan dilelang. Karya-karya anak-anak menghiasi ruang kegiatan. Beberapa karya yang dilelang mendapat apresiasi dari para pengunjung.

“Melalui kegiatan ini, saya banyak belajar. Terutama, belajar membersamai, bukan mengajar anak. Selain itu, saya juga banyak berdiskusi, sampai saya tahu, apa bedanya sekolah dengan pendidikan, dan belajar dengan mata pelajaran,” ujar Haifa, salah satu relawan Taman Karya Anak #6.

Harapan untuk Kegiatan yang Berkelanjutan

Kegiatan Taman Karya Anak diharapkan dapat terus terselenggara secara konsisten di masa depan. Karena dampak positifnya sangat besar bagi seluruh lapisan masyarakat, baik anak-anak maupun orang tua. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pengasuhan anak.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan