ISPA Jadi Penyakit Paling Umum yang Menyerang Karyawan Indonesia 2025


JAKARTA, berita
- Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) kembali menjadi penyakit yang paling sering dialami oleh karyawan di Indonesia pada tahun 2025.
Data terbaru dari riset Mercer Marsh Benefits Indonesia menunjukkan bahwa penyakit ini tidak hanya mendominasi klaim rawat jalan, tetapi juga mengalami peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Data dari tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa ISPA selalu menjadi urutan pertama dalam klaim rawat jalan pekerja di Indonesia. Proporsinya pun stabil di sekitar angka 20 persen, ujar Bella Friscintia, Head of Analytics Solutions Mercer Marsh Benefits Indonesia, dalam peluncuran Laporan Indonesia Health and Benefits Study 2025 di Jakarta Pusat, Kamis (11/12/2025).

Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan harus lebih memperhatikan kesehatan pernapasan para karyawan. Riset Indonesia Health and Benefits Study 2025 melibatkan 25 industri, lebih dari 400 perusahaan, dan total 500.000 peserta. Temuan ini menegaskan bahwa ISPA kini menjadi salah satu tantangan kesehatan utama bagi tenaga kerja di Indonesia.

ISPA Jadi Penyakit Paling Banyak Diderita Karyawan

Bella menjelaskan bahwa tren ISPA telah terlihat sejak beberapa tahun lalu. Namun, pada tahun ini, penyakit ini masih menduduki posisi pertama dengan peningkatan signifikan.

Untuk tahun ini, berdasarkan data kasus, ISPA menduduki posisi pertama dengan persentase sebanyak 27,1 persen, ujarnya.

Peningkatan angka ini menunjukkan bahwa ISPA tetap menjadi ancaman kesehatan utama bagi karyawan. Selain itu, hal ini juga menjadi indikator bahwa lingkungan kerja dan kehidupan sehari-hari masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap kondisi pernapasan.

Faktor Penyebab ISPA Masih Tinggi

Menurut Bella, tingginya kasus ISPA di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor yang sudah lama menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Ada beberapa faktor yang memicu, seperti kebiasaan merokok yang cukup tinggi, alergen, serta polusi udara termasuk asap kendaraan, debu, atau asap rokok, jelasnya.

Ia menambahkan bahwa asap polusi dari berbagai sumber turut berkontribusi dalam memperparah penyebaran dan kerentanan terhadap ISPA. Kombinasi antara gaya hidup, kualitas udara, dan paparan lingkungan membuat risiko ISPA semakin tinggi, terutama bagi pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruang atau berkomuter setiap hari.

Perusahaan Diminta Memberi Dukungan Kesehatan Karyawan

Melihat tingginya persentase kasus ISPA, Bella menekankan pentingnya perhatian perusahaan dalam mendukung kesehatan respirasi karyawan.

Melihat angkanya yang belum menurun, pihak perusahaan seharusnya memberikan program dukungan yang bisa meminimalisir ISPA, ujarnya.

Selain itu, banyak orang masih belum menyadari bahwa ISPA bisa berkembang menjadi gangguan paru-paru yang lebih serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Walaupun sering dianggap sebagai penyakit umum, jika tidak ditangani dengan baik, ISPA bisa bereskalasi menjadi gangguan pernapasan yang lebih parah, kata Bella.

Oleh karena itu, ia menyarankan pentingnya melakukan deteksi dini pada karyawan agar tidak mengganggu produktivitas kerja.

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah penyakit ini semakin parah. Kemudian, berikan program karyawan untuk mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok dengan gaya hidup sehat, lanjutnya.

Program Pencegahan yang Bisa Dilakukan Perusahaan

Bella juga merekomendasikan beberapa program kesehatan yang bisa diterapkan perusahaan untuk menurunkan risiko ISPA di lingkungan kerja. Salah satunya adalah vaksinasi.

Pihak perusahaan juga bisa memberikan vaksin flu, Covid, atau penyakit menular pernapasan lainnya, yang bisa meminimalisir gangguan pernapasan pada karyawan, katanya.

Selain itu, dukungan fasilitas juga diperlukan, misalnya dengan memberikan inhealer, air filler, atau purifier agar bisa membantu meminimalisir ISPA.

Langkah ini dinilai mampu membantu karyawan yang memiliki kerentanan pada pernapasan, terutama di lingkungan dengan tingkat polusi tinggi.

Fleksibilitas Kerja Bisa Turunkan Risiko Penularan

Lebih lanjut, Bella menegaskan bahwa perusahaan juga perlu bijak dalam mengelola kehadiran karyawan yang sedang sakit.

Jika karyawan merasa ada gejala ISPA, sebaiknya pihak perusahaan segera memberikan fleksibilitas kerja, agar tidak memaksakan karyawannya untuk tetap ke kantor dalam kondisi yang sakit, pungkas Bella.

Kebijakan kerja fleksibel dinilai dapat membantu mengurangi rantai penularan dan memberi waktu bagi karyawan untuk pulih tanpa tekanan pekerjaan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan