Kehilangan yang Menyedihkan
Sri Asih Handayani, istri almarhum Pujo Buntoro, tampak lemas hingga harus dibopong oleh kerabatnya setelah tiba di rumah usai pemakaman. Keluarga memilih untuk melindungi Sri Asih dari wawancara karena masih terpukul berat akibat kepergian suaminya. Suasana rumah duka dipenuhi kesedihan setelah kepergian Pujo Buntoro, seorang pelari yang meninggal saat mengikuti Siksorogo Lawu Ultra 2025.
Perjalanan yang Penuh Kesedihan
Tubuh Sri Asih Handayani terlihat lunglai begitu pintu mobil Toyota Avanza hitam itu terbuka di depan kediamannya, Senin (8/12/2025). Di bawah terik siang yang menusuk, Kabag Perekonomian dan SDM Setda Karanganyar itu berjalan terseret pelan, sebelum akhirnya harus dibopong oleh anak dan kerabatnya. Sejak memakamkan sang suami, Pujo Buntoro—pelari yang wafat saat mengikuti Siksorogo Lawu Ultra 2025—ia belum benar-benar mampu berdiri tegak. Kesedihan seperti menyelimuti setiap geraknya.
Mobil yang membawa keluarga itu tiba tepat pukul 12.00 WIB di Dusun Tegal Winangun, Kelurahan Tegalgede, Karanganyar. Dari dalamnya, Sri Asih dan putranya turun dengan langkah goyah, masih dibayangi prosesi pemakaman yang baru saja mereka tinggalkan. Sesaat kemudian, para kerabat dengan sigap menopang tubuh wanita yang terlihat pucat dan kehilangan tenaga itu. Dengan hati-hati mereka membopongnya menuju ruang dalam rumah, menjauhkan dirinya dari kerumunan yang mulai memenuhi halaman.
Di antara isak kecil keluarga, wartawan mencoba meminta keterangan. Namun kerabat segera menggelengkan kepala, mencoba melindungi kondisi Sri Asih yang masih terpuruk. "Maaf, belum bisa, beliau masih sangat terpukul," ujar salah satu kerabat singkat, sebelum menutup pintu rumah pelan-pelan.
Kejadian yang Menggegerkan
Pujo Buntoro, pegawai Kementerian Agama RI, menghembuskan nafas terakhirnya dalam ajang lari Siksorogo Lawu Ultra 2025 di Karanganyar. Suami dari Sri Asih Handayani, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Karanganyar, itu ternyata bukan 'pemain baru' dalam ajang lari. Pasangan suami istri itu kerap mengikuti ajang lari, mulai dari Tasikmadoe Run, Ring of Lawu, hingga Siksorogo Lawu Ultra.
"Saat (almarhum) pingsan, tubuh almarhum berada di dekat istrinya, dan sang istri menemani hingga dinyatakan meninggal dunia," kata Penasehat ajang Siksorogo Lawu Ultra 2025, Toni Hatmoko, kepada aiotrade, Senin (8/12/2025).

Dalam Siksorogo Lawu Ultra 2025 ini almarhum dan istrinya ikut dalam kategori fun run. "Almarhum dan istri ikut kategori fun run dan start dalam keadaan bugar," kata Toni. Menurut Toni, pasangan suami istri itu berlari bersama sejak start. Namun, pada kilometer 7 Pujo mulai kelelahan, lalu pingsan di kilometer 8. "Saat itu, istrinya sempat memberi semangat kepada almarhum sebelum pingsan," ujar Toni. Pujo sempat mendapat pertolongan pertama dengan pemberian oksigen. Kondisinya sempat membaik, napas kembali teratur, tetapi kemudian menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia. "Setelah itu kami memberikan pertolongan dan oksigen, sempat membaik, tapi Tuhan berkata lain. Kami sudah memberikan pelayanan terbaik," kata Toni.
Jalur Ekstrem Siksorogo Lawu Ultra 2025
Ajang lari lintas alam Siksorogo Lawu Ultra 2025 digelar di lereng Gunung Lawu dengan menghadirkan rute menantang yang melewati sejumlah destinasi wisata populer. Berdasarkan informasi di situs resminya, event yang berlangsung pada awal Desember ini diikuti lebih dari 5.700 pelari dari berbagai negara, menjadikannya salah satu lomba trail terbesar di Indonesia.
Rute Siksorogo Lawu Ultra 2025 dirancang untuk menguji stamina, teknik, dan mental para pelari. Jalur utama pada Siksorogo Lawu Ultra 2025 melintasi beberapa titik berikut ini:
- Tawangmangu – kawasan wisata pegunungan yang menjadi titik start dan finish.
- Jatiyoso – jalur pedesaan dengan kontur menanjak.
- Kebun Teh Kemuning – lintasan hijau dengan panorama perkebunan.
- Area Paralayang Tawangmangu – spot populer dengan pemandangan lembah.
- Gunung Lawu – jalur menuju puncak dengan elevasi ekstrem.
- Gunung Mongkrang – jalur berbukit dengan panorama luas.
Tahun ini panitia menyediakan enam kategori jarak berbeda, yakni:
- 7 kilometer – jalur pendek untuk pemula.
- 15 kilometer – rute menengah dengan elevasi sedang.
- 30 kilometer – kombinasi tanjakan dan turunan teknis.
- 50 kilometer – jalur panjang dengan variasi medan.
- 80 kilometer – kategori baru yang menantang daya tahan.
- 120 kilometer – ultra ekstrem, membutuhkan persiapan fisik dan mental matang.
Rute Siksorogo Lawu Ultra 2025 tergolong cukup ekstrem dengan elevasi tinggi dan jalur teknis. Ada kombinasi tanjakan panjang, turunan curam, serta jalur teknis berbatu dan berlumpur. Cuaca pegunungan yang tidak menentu semakin menambah tantangan, di mana hujan deras dan kabut tebal kerap menyelimuti jalur, membuat langkah peserta semakin berat. Dengan elevasi tinggi dan jarak panjang, kategori ultra ini menuntut stamina luar biasa serta persiapan matang. Kabut tebal kerap membatasi jarak pandang, sementara hujan deras membuat jalur licin dan memperlambat langkah peserta.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar