Istri Wali Kota Surabaya Luncurkan Toko dan Tas Anti-Flexing

Peluncuran Toko DWP dan Tas Anti-Flexing sebagai Inisiatif Pemberdayaan


Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Surabaya resmi meluncurkan Toko DWP dan tas anti-flexing sebagai bagian dari puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 DWP. Peluncuran ini menjadi langkah strategis dalam mendukung pemberdayaan anggota serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Surabaya.

Toko DWP ini diharapkan menjadi wadah promosi sekaligus pengembangan potensi produk unggulan yang dihasilkan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan UMKM. Menurut Rini Indriyani, penasihat DWP Kota Surabaya, kehadiran Toko Dharma Wanita membuka ruang bagi anggota untuk memasarkan berbagai produk kreatif. Ia menyampaikan bahwa di dalam toko tersebut terdapat produk-produk UMKM dari berbagai kecamatan serta produk dari pegawai.

"Ada peresmian Toko Dharma Wanita. Di sana ada produk-produk UMKM dari kecamatan, ada yang dari pegawai," ujarnya. Ia menekankan bahwa banyak ASN di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya memiliki potensi dan keterampilan, namun belum tergali secara optimal. Oleh karena itu, ia mendorong pengurus DWP untuk lebih aktif menggali potensi tersebut.

Menurut Rini, kemungkinan besar ada ASN yang memiliki kelebihan seperti keterampilan membuat kue atau masakan, sehingga mereka punya produk-produk yang bisa dijual. "Saya yakin ASN itu juga ada yang memiliki kelebihan-kelebihan. Mereka mungkin pintar bikin kue, pintar bikin masakan, sehingga mungkin mereka punya produk-produk yang nanti bisa dijual," paparnya.

Rini menegaskan bahwa salah satu peran utama Ketua DWP adalah menghimpun potensi tersebut dan memfasilitasi pemasarannya melalui Toko Dharma Wanita. "Nah, tugasnya dari Ibu Ketua Dharma Wanita mengumpulkan itu semua, dan memfasilitasi untuk bisa dijual di Toko Dharma Wanita," katanya.

Selain pengembangan produk, Rini juga mendorong agar promosi Toko Dharma Wanita dapat lebih ditingkatkan supaya menjangkau masyarakat luas, khususnya warga di sekitar lokasi. "Mungkin lebih digencarkan lagi promosinya, sehingga mungkin bisa dibeli oleh khalayak umum, mungkin warga sekitar," imbuhnya.

Namun demikian, Rini menekankan daya saing harga menjadi faktor penting dalam keberhasilan Toko Dharma Wanita. Produk yang dijual dengan harga terjangkau diyakini mampu menarik minat pembeli. "Kalau harga bisa lebih bersaing dengan harga yang lebih murah, sehingga akan lebih menarik warga untuk bisa membeli. Ini suatu gebrakan yang luar biasa," puji Rini.

Di sisi lain, Rini juga berharap seluruh kegiatan yang dijalankan DWP Surabaya ke depan dapat memberikan manfaat langsung bagi anggotanya. "Saya berharap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Dharma Wanita seyogyanya itu adalah yang bisa bermanfaat untuk anggotanya," katanya.

Tas Anti-Flexing Sebagai Simbol Komitmen

Selain peluncuran toko, DWP Surabaya juga memperkenalkan tas berlogo Dharma Wanita sebagai simbol komitmen untuk mencegah perilaku flexing atau pamer kemewahan di lingkungan istri ASN. "Juga disampaikan ada launching tas baru, tas yang ada logo Dharma Wanitanya. Di mana tas logo itu bisa menghindari kita dari flexing," ungkap Rini.

Ia kembali menegaskan komitmen tersebut yang telah disampaikannya sejak awal mendampingi Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. "Saat itu pertama yang saya sampaikan adalah bagaimana para ibu, para istri bisa menjaga marwah suaminya dengan tidak menggunakan barang-barang yang bermerek," katanya.

Karena itu, Rini kembali mengingatkan larangan penggunaan barang bermerek tertentu berlaku mutlak dalam kegiatan resmi Pemkot Surabaya. "Kalau acara di kantor, acara di pemerintahan kota, wajib hukumnya untuk tidak menggunakan barang-barang dengan branded tertentu. Kalau di luar kegiatan pemerintahan, monggo (silakan) itu hak njenengan (anda)," jelasnya.

Rini menilai, produk UMKM lokal memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk bermerek ternama, termasuk tas hasil karya pelaku usaha Surabaya. "Sebenarnya tas lokal kita juga bagus-bagus, tidak tidak kalah kerennya, tidak kalah bagusnya dengan tas-tas yang mungkin harganya cukup lumayan tinggi," ujarnya.

Inisiatif dari Penasihat DWP

Sementara itu, Ketua DWP Kota Surabaya, Dameria Triana Ambuwaru Lilik Arijanto, mengungkapkan bahwa gagasan tas anti-flexing tersebut merupakan inisiatif dari Penasihat DWP, Rini Indriyani. "Sebenarnya ini ide dari Ibu Rini sebagai penasihat kami, di mana sebagai anggota Dharma Wanita Surabaya kami tidak diperbolehkan untuk flexing," kata Dameria.

Dameria memastikan bahwa tas tersebut diproduksi oleh UMKM Kota Surabaya dengan kualitas bahan yang terjamin dan dipasarkan dengan harga terjangkau bagi anggota. "Insyaallah mutu sudah terjamin, dengan model sederhana dan harganya cukup bersahabat. Jadi kalau Ibu mungkin beli di luar pasti lebih mahal. Tapi di (toko) kami, kami jual dengan harga bersahabat," tutur Dameria.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan