Isu Bayaran Pematung Mekotek di Munggu Disunat, Ardana: Nilai Kontrak Rp2,4 M Tidak Benar

Isu Bayaran Pematung Mekotek di Munggu Disunat, Ardana: Nilai Kontrak Rp2,4 M Tidak Benar

Isu Pemotongan Upah Pematung di Proyek Patung Mekotek

Beberapa waktu terakhir, isu dugaan pemotongan upah pematung dalam proyek pembuatan Patung Mekotek di Desa Munggu, Badung, menjadi sorotan hangat di media sosial. Isu ini menimbulkan kegaduhan dan mendapat berbagai komentar negatif. Namun, informasi yang beredar dinilai tidak benar oleh para pematung yang terlibat dalam proyek tersebut.

Ardana, koordinator pematung dalam proyek ini, mengatakan bahwa seluruh pematung bekerja dan menerima pembayaran sesuai kesepakatan. "Untuk pembayaran memang disalurkan ke tiang selaku koordinator. Tidak ada pemotongan itu," tegasnya. Ia juga menyebutkan bahwa kontrak khusus untuk pembuatan patung saja dianggarkan sebesar Rp 500 juta dan sudah sesuai dengan pengerjaan maupun mekanisme pembayaran.

Menurut Ardana, proses pembayaran dilakukan secara terbuka di antara para pekerja yang lainnya. Ia merasa kaget dan heran mengapa isu pemotongan upah bisa muncul di media sosial. "Berita itu tidak benar. Saya cukup kaget, saya kerja dengan teman-teman di sini kok bisa ada berita seperti ini, kan aneh. Semuanya fair, tidak ada pemotongan seperti itu,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pariwisata akhirnya angkat bicara mengenai isu pemotongan upah pematung pada proyek taman mekotek di Desa Munggu. Dispar menilai semua itu sudah diserahkan kepada rekanan dan sudah dibayarkan sesuai kontrak kerjasama. Kepala Dinas Pariwisata Badung, I Nyoman Rudiarta, menampik soal isu pemotongan upah pematung di Desa Munggu. Menurutnya, mekanisme pembayaran dilakukan sepenuhnya berdasarkan spesifikasi, teknis, dan kualitas pekerjaan.

Pihaknya mengakui jika pengerjaan dan pembayaran sepenuhnya dipertanggungjawabkan oleh penyedia atau rekanan, mengingat pekerja menjadi pengerja pemenang tender. "Terkait yang disampaikan pemotongan seperti apa, itu mekanismenya bersama penyedia. Kami tidak ada pemotongan, yang jelas kami ingin apa yang menjadi spek teknis kegiatan, baik kualitasnya, tingginya, dan sebagainya," kata Rudiarta.

Lebih lanjut dirinya menyebutkan pembangunan Patung Mekotek merupakan usulan yang telah dirancang sejak musrenbangdes hingga proses penganggaran sampai di Dinas Pariwisata Badung. Usulan ini bahkan sudah dirancang sejak tahun 2013 sebagai ikon desa wisata Munggu.

Dalam proyek ini, pemerintah menggandeng PT Genta Winangun sebagai penyedia dengan CV Manar Jaya sebagai pengawas. Nilai kontraknya mencapai Rp 2,4 miliar. Namun, nilai kontrak tersebut tak hanya untuk pembuatan patung semata, mengingat rancangan berbentuk Taman Mekotek yang mana ada pekerjaan mayor sebagai pendukung ikon desa tersebut.

"Untuk pembuatan patung, ada dua unit patung utama setinggi 3 meter, 17 patung setinggi 2 meter, 15 patung relief setinggi 3,5 meter. Sedangkan pekerjaan mayornya justru lebih banyak, seperti penataan halaman, jembatan penghubung, struktur tatakan patung, hingga stage," jelasnya.

Duga Munculnya Isu

Sementara itu, penyedia dari PT Genta Winangun, I Wayan Sarna, menyebutkan seluruh pengerjaan mengikuti gambar dan spesifikasi teknis, dan tenaga lokal dipilih agar tercipta chemistry antara konsep budaya dan kebutuhan teknis pembuatan patung.

"Saya dari penyedia sempat dihubungi oleh pematung, dalam hal ini yang menjadi koordinator pematung. Dia merasa kaget kenapa ada pemberitaan seperti ini. Saya tanya siapa yang mengatakan, mereka juga tidak tahu, jadi serba bingung dengan pemberitaan seperti ini," terangnya.

Namun Sarna menduga, isu pemotongan tersebut kemungkinan muncul karena adanya tambah-kurang pekerjaan dalam konstruksi. Tambah kurang pekerjaan ini dilakukan karena adanya pengukuran ulang di lapangan yang menyesuaikan dengan kondisi lahan, sehingga menyebabkan beberapa bagian berkurang dan otomatis menyesuaikan biaya. Perubahan itu, kata Sarna, mungkin disalahpahami sebagai pengurangan upah.

"Jadi terkesan ada pembayaran pekerjaan yang dikurangi. Itu menurut persepsi saya. Tidak utuh seperti perencanaan awal, karena dilakukan pengukuran ulang kembali, menyesuaikan situasi kondisi di lapangan. Ada pergeseran tempat seperti itu yang mengakibatkan perubahan biaya. Di situ lah ada kesan ada pemotongan biaya, padahal sebenarnya mengikuti riil kerja saja," jelasnya.

Diakui untuk pembayaran pematung pihaknya langsung berkoordinasi dengan koordinator. Sehingga semua pembayaran upah dibayarkan ke koordinator pematung. "Jadi ada koordinatornya. Itu yang kita berikan sekali, sesuai pengerjaannya. Bukan diberikan satu-satu, koordinatornya ada," imbuhnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan